Aku Diusir

Posted by Labels: pada
cerpen aku diusir

Oleh: Ha Mays

Ibu, aku tak tahu apa salahku. Bahkan aku tidak pernah mengambil hak orang lain. Rumah yang aku tempati ini adalah hak yang memang seharusnya kujadikan tempat bernaung. Tapi entah mengapa kau dan bapakku sering kali berdiskusi untuk mengusirku. Aku sering menguping pembicaraan kalian yang membuatku ketakutan kehilangan tempat tinggal.

“Aku enggak tega, Bang. Bagaimana pun, dia anak kita.” Kau terisak di kamar kos-kosan beukuran 3x4 yang agak pengap.

“Tapi kamu masih kuliah, Retno. Singkirkan dia, agar kuliahmu kembali lancar,” bujuk bapakku.

Kau dan Bapak berharap aku meninggalkan rumah ini hanya karena kau masih kuliah. Alasan yang tidak masuk akal bagiku. Apa mungkin mempertahankan aku di sini akan membutuhkan banyak biaya? Tapi dipikir lagi, bapakku anak orang kaya, kakekku pejabat di kota ini, pasti mampu kalau hanya mengeluarkan biaya untuk makanku sehari-hari.

Anehnya lagi justru kakekku yang kaya raya dan terhormat itu yang paling terdepan untuk mengusirku. Masih syukur diakui cucu walau dia tak ingin melihatku sama sekali, daripada awalnya dia tak mengakuiku sebagai cucunya.

Kau yang tidak punya cara untuk mempertahankanku hanya menurut saja, kau tampak bingung dan serba salah. Kau ingin menyelamatkanku tetapi menurutmu aku akan sangat merepotkan dan merusak studimu.

Tak pernah terbayang olehku bahwa hari ini akan terjadi. Aku siap-siap akan dikeroyok oleh Bapak, kau, Kakek, seorang pria bertampang malaikat dan seorang nenek mirip penyihir. Sebut saja mereka Malaikat Jahat dan Nenek Sihir. Kalian berlima sudah siap menyeretku keluar meninggalkan tempat tinggalku.

“Bang, kasihan dia,” ujarmu menggenggam lengan bapakku.

“Semua akan baik-baik saja,” timpal kakekku yang menyimpan rencana buruk padamu dan aku.

Aku tahu betul niat buruk kakekku, dia ingin mengusirku agar kau tak menjadi beban bapakku karena Bapak akan dinikahkan dengan sesama anak pejabat. Sayangnya, kau tak mengetahui rencana jahat kakek bahwa setelah mengusirku, dia juga akan menghempasmu dari kehidupan Bapak.

Kau bukan anak orang terhormat, datang dari kampung untuk kuliah di kota, bertemu dengan Bapak yang menjanjikan cinta sehidup semati. Entah bodoh atau terlalu polos kau, Bu.

Kau mengusap kepalaku, antara kasihan dan kebingungan. Aku tahu dalam hatimu kau meminta maaf padaku. Namun kau tak sanggup juga untuk mempertahankanku hingga kau harus berada di pihak Bapak.

“Kau akan tinggal di rumah baru, Nak,” katamu menatapku hampa.

“Aku masih ingin tinggal di sini bersamamu, Bu,” pintaku memelas.

Ada genangan emosi di sudut matamu, tentang takdir yang membawamu untuk mengusir anakmu sendiri. Tentang derajatmu yang tak memiliki kuasa, itu sebab kau tak mengindahkan pintaku untuk tetap tinggal bersamamu.

Kau, Bapak, Kakek, Nenek Sihir dan Malaikat Jahat ternyata tak serta merta mengeroyokku. Kalian maju satu persatu. Kau lebih dulu memintaku untuk keluar rumah baik-baik. Tentu aku menolak pergi.

Kemudian Kakek menyuruh Nenek Sihir bertindak, kali ini lawanku seorang nenek renta. Tak kuduga, dia jahat sekali. Tangan keriputnya memelintir kepalaku. Pusing hingga mual yang kurasakan. Kau merintih ketakutan tapi bukan berarti membelaku, kau justru memaksaku untuk lekas keluar rumah.

Semakin aku kaupaksa, semakin aku keras kepala. Nenek sihir itu mendorong tubuhku dengan kasar. Punggungku terasa remuk namun aku tetap berpegang erat di tiang-tiang rumah. Punya hak apa si Nenek Sihir turut mengusirku? Begitu pikirku.

Di luar dugaan, ternyata nenek renta itu kuat sekali. Bak kesetanan dia menarik kaki-kakiku, sedang tanganku kukuh berpegangan pada tubuhmu, Ibu.

“Bu, kasihanilah aku,” mohonku.

Kau justru balik memohon padaku agar lekas keluar rumah dan pindah ke rumahku yang baru. Kau sudah tampak begitu kesakitan. Mungkin rasa sakitnya sama dengan sakit yang kurasa.

Nenek Sihir menyuruhmu menghela napas panjang dan mengembuskannya pelan-pelan. Napasmu mulai tak beraturan. Beban fisik dan mental yang kau rasakan saat harus melihatku diperlakukan seperti itu oleh Nenek Sihir suruhan Kakek.

Nenek Sihir sepertinya sudah sangat geram dengan kebandelanku yang tetap tak mau meninggalkan rumah. Dipelintirnya leherku hingga ke depan pintu rumah, kau hendak turut bersamaku, tetapi Bapak dan Malaikat jahat memegangi kakimu.

Karena kehabisan kekuatan, akhirnya aku kalah juga. Nenek Sihir berhasil mengeluarkanku. Kau tampak tak berdaya. Sebelum meninggalkan rumah, aku sempat khawatir dengan kondisimu namun kulihat Malaikat Jahat yang biasanya kerja di rumah sakit itu memberikan pertolongan padamu. Disuntikannya obat-obatan dan menusuk tanganmu dengan jarum infus. Aku lega kamu akan baik-baik saja.

Tampak Kakek memberikan amplop cokelat pada Nenek Sihir yang berhasil mengusirku. Aku tahu di dalamnya adalah sejumlah uang yang tidak sedikit. Nenek Sihir senyum bahagia mengeluarkan taring kemenangannya.

Bapak menemuiku di depan pintu keluar. Dia hendak mengantarkanku ke rumah baru. Tidak menggunakan mobil atau sepeda motor. Hanya dengan jalan kaki Bapak mengantarkanku ke tempat tinggalku yang baru saja dia gali. Aku dipaksa masuk ke rumah baruku itu bahkan tanpa sehelai kafan.

Ha Mays anggota ODOP 7, penulis dari Pulau Buru yang jejaknya dapat diikuti pada akun Instagram @hamays-official.

Posting Komentar

Back to Top