Bidal-Bidal di Langit

Posted by Labels: pada

Bidal-Bidal di Langit

Oleh: Nio Zaharani

Begitu melewati gerbang selamat datang, matamu tak akan bisa membedakan malaikat dan setan. Rupa mereka mirip semua. Ada dua mata, masing-masing dinaungi alis. Satu hidung dengan dua lubang. Sepasang telinga di kanan kiri kepala; selurusan hidung. Juga sepasang bibir yang membingkai mulut. Mereka pun punya gigi dan lidah yang membantu memproduksi pelbagai jenis suara.

Dari sekian banyak warna kulit yang membungkus jaringan otot mereka, sebenarnya hanya ada empat warna dasar. Semi, panas, gugur, dingin. Begitu pula dengan pilihan warna sifat. Hanya ada tiga. Hitam, abu-abu, putih. Namun, apa kamu tahu jika ada warna yang tak bernama? Itu adalah warnaku.

Tidak ada definisi warna yang cocok denganku. Aku lepas dari ikat aturan tertulis dan lisan. Aku merdeka dari semua nafsu. Aku bebas dari pikiranmu, bahkan aku.

Kau bisa melihatku di mana saja, tapi kau tidak bisa menemukanku. Aku telah memberi kakiku kewenangan sendiri. Otakku tidak berkuasa atasnya. Terkadang, jika kebetulan aku berpapasan dengan malaikat, mereka berpura-pura tak melihatku. Aku makhluk transparan. Ketika bertemu setan, mereka mengejarku seolah bertemu dengan artis. Beruntung jika mengejar dengan tangan kosong. Kadang mereka membawa tongkat atau melempar batu.

Entah berapa bangunan yang kulewati hari ini. Pantatku ingin menyentuh permukaan. Baiklah. Kakiku memilih keteduhan di bawah pohon beringin. Mataku menangkap banyangan senyum samar dari balik akar gantung. Kulitku menikmati sejuk angin semilir dan telingaku menyimak musik gemerisik dedaunan.

Aku sedang menikmati kekosongan pikiran dan jiwa saat sosok yang belum jelas mendekat perlahan. Mataku menelanjanginya dari atas ke bawah.

“Pak! Maaf, ini makanan dan air. Silakan dinikmati!” Dia meletakkan bungkusan dan botol di sampingku. Saat itu baru terlihat jelas, dia adalah manusia. Ah, tapi bentukan manusia tak jauh beda dengan malaikat atau setan. Mereka juga terikat pada apapun yang mengikat kedua makhluk itu.

Sekilas aroma gurih dari balik bungkusan cokelat menggelitik perutku. Tak ayal dia bergoyang. Apa ini? Dia masih terikat hukum makhluk hidup rupanya. Ya sudah, tanganku bukan makhluk jahat yang membiarkan rekannya mengerang minta tolong. Sayangnya, rahangku malas bergerak, dia minta air saja yang masuk.

Sebenarnya, lebih nyaman saat berpapasan dengan malaikat atau setan. Manusia terlalu membingungkan dan merepotkan. Bukannya sombong, tapi aku pernah menjadi manusia. Manusia yang mudah dicari setiap kali kau ingin bertemu. Awalnya biasa, tapi lama-lama aku jadi terjerat. Tak bisa bergerak leluasa bahkan di tempat yang lega.

Bosan jadi manusia, aku berubah jadi setan. Kukira akan lebih ringan langkahku, serta mudah mobilitasku. Nyatanya itu semu. Setan pun harus berjalan di jalur yang sudah tersedia. Jikalau melenceng, akan jadi target buruan setan lain. Pilihan terakhir adalah menandatangani kontrak untuk menjadi malaikat. Di luar dugaan, peranku sebagai malaikat adalah berjalan memutari lintasan yang tak ada garis akhirnya.

Aku pun terbang. Menembus awan kapas di angkasa. Menyelinap di antara arus listrik yang berpendar di malam kelam. Hingga aku tiba di sebuah tempat yang menawarkan paket perjalanan tanpa awal dan akhir. Awalnya aku ragu. Dompetku sudah hangus, termasuk lembaran berangka di dalamnya.

“Tur ini gratis! Anda cukup duduk, atau berdiri. Terserah Anda. Lalu lepaskanlah semua ikatan di dalam tubuh serta pikiran Anda. Kebebasan pasti merasuk lebih cepat dari cahaya.” Sosok itu menampakkan geliginya yang putih dan rata.

Aku terus menimbang.

“Tenang saja! Kami tidak akan mencampuri urusan Anda. Kami melepas tanggung jawab atas kejadian dan kondisi Anda sepulang dari tur ini.”

“Menarik! Baiklah! Aku ambil paket sekali jalan.”

“Terima kasih atas kepercayaan Anda. Silakan naik dari arah mana saja Anda mau!”

Benda itu mengambang di udara meski punya sembilan roda. Melihat sekeliling, aku teringat saat jadi manusia. Mereka banyak berkerumun di tempat bertanda “gratis”. Kondisi kini sangat tidak manusiawi. Sepi. Hanya satu dua tiga penumpang berdiri. Padahal ada banyak kursi—yang lebih pantas disebut sofa. Tanpa aba-aba, benda itu melesat. Bukan ke depan, tetapi ke segala arah.

Sepanjang perjalanan, kau bisa melihat keindahan dan kengerian yang diciptakan Tuhan. Anehnya, hanya kekaguman yang kurasakan. Hingga air jatuh dari sudut mataku. Kuharap kau melihatnya suatu saat nanti. Kelihaian tangan Tuhan meramu alam semesta hingga detail yang paling kecil. Sangat amat kecil sekali.

***

Penanda waktu di benda ini sepertinya mati—angkanya stagnan. Aku tak tahu sudah berapa lama perjalanan ini berlangsung. Ada matahari di sana, akan tetapi dia sedang main petak umpet dengan bulan. Melupakan tugasnya sebagai penunjuk waktu.

Dua jenak kemudian benda ini berguncang hebat. Hingga isi perutku memaksa minta dikeluarkan. Tiga penumpang lain wajahnya berubah warna, bersemu hijau.

“Mohon perhatian para penumpang! Tidak ada gangguan krusial saat ini. Harap tahan beberapa saat jika mau. Satu hal yang tidak boleh adalah muntah. Anda diperbolehkan keluar jika tidak kuat, tetapi kami tidak akan berhenti untuk menurunkan secara baik-baik. Terima kasih.” Suara ramah itu tetiba muncul dan lenyap dari atap benda ini.

Dua penumpang bersepakat untuk angkat kaki. Mereka melompat begitu saja menembus sisi kanan. Muncullah pertanyaan di benakku, “Bukankah sisi kiri lebih aman?”

Konyol. Aku bahkan tak tahu posisi benda ini sekarang. Bukankah di belahan dunia lain sisi kanan lebih aman. Daripada melantur tak jelas, aku harus menahan rasa mual ini di kerongkongan. Aku ingin mencapai tujuan.

Gila. Aku bahkan tak tahu tempat tujuan benda ini. Mungkin melompat keluar adalah pilihan terbaik. Setelah berpikir keras memilih arah, aku mulai melangkah maju dan melompat.

Aku jatuh. Jatuh bebas seperti malaikat yang dipotong sayapnya oleh Tuhan. Kulitku bisa merasakan butiran-butiran air membasahi bagian yang kering. Sungguh kesegaran yang menekan. Kelopak mataku terkunci hingga beberapa saat sebelum wajahku menghantam batu.

Begitu sadar, ada buah beringin di cekungan antara mata dan hidungku. Waktunya bangun dan membebaskan langkah kakiku. Seiring gerakan tubuhku menyusuri pedestrian, mata-mata malaikat dan setan diam-diam mengikuti. Oh, manusia juga. Mulut mereka komat kamit di balik punggung tangan.

Lihatlah! Badanku yang polos merasa terusik. Dia memaksa kaki menuju arah lain. Kakiku yang buta bernasib malang, dia menginjak serpihan kaca di jalan masuk sebuah gang. Berdarah. Kebetulan ada bangunan beratap kubah di depan sana. Suasananya sepi. Pantatku berniat menempel di ubinnya yang dingin.

Di sini begitu tenang, sedangkan di depan sana sangat ricuh—bunyi dan suara saling beradu. Kepalaku bersandar dan mataku memejam. Seharusnya mereka tak melakukannya. Gegara itu, telinga tak sadar ada bunyi langkah kaki yang mendekat.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sejak tadi saya penasaran dari mana aroma asing ini. Setelah ditelusuri, ternyata Andalah sumbernya. Sungguh aroma yang menenangkan jiwa.”

Saking kagetnya, mataku melotot. Tak percaya ada yang bisa membau aroma keringat yang seharusnya tersembunyi. Pria berkupluk hitam itu terseyum lembut. Apa maunya?

“Anda berkeliling seperti ini, jangan sampai terkena flu. Saya ambilkan sarung sebentar. Tunggu di sini, ya!” Pria itu berdiri lalu berjalan menuju pintu kaca yang terbuka.

Rongga dadaku merasa tidak nyaman dengan sikap manusia itu. “Ini salah!” celetuk otakku. Sepertinya semua anggota penyusun wujudku sepakat ingin beranjak dari tempat ini. Mereka tidak suka dipandang dan diperlakukan dengan hormat dan sopan.

Telingaku mendengar seruan pria itu, tetapi mengabaikannya. Kakiku mengambil langkah lebar agar segera menghilang dari pandangannya. Setelah sekian lama bercerai, semua bagian tubuhku kembali rujuk. Aku telah kembali menjadi satu kesatuan yang utuh.

Kejadian tadi telah membuatku sadar bahwa kini tiba saatnya aku melakukan perjalanan lagi.

“Tuhan! Kirim aku ke tempat yang jauh hingga tak satu pun malaikat, setan, atau manusia bisa menemukanku. Sebuah tempat yang hanya ada Engkau dan aku.”

Seketika muncullah cahaya terang yang bisa mematikan saraf pengelihatan berpendar—benderang. Kulangkahkan kaki menaiki cahaya itu. Belum sempat kelopak mataku berkedip, aku sudah tiba di ujung perjalanan, tanpa pusing dan mual.*

Nganjuk, 9 September 2021 

Nio Zaharani. Bergabung dengan Komunitas Pegiat Literasi Nganjuk dan One Day One Post pada 2019. Beberapa karyanya dimuat di media daring. Jawara Sayembara Cerpen KNE 2021.

5 komentar:

Back to Top