Setelah Para Tetua Pergi

Posted by Labels: pada
Setelah Para Tetua Pergi

Oleh: Achmad Ikhtiar

Lelaki berwajah jenaka dan bertubuh tambun itu didudukkan di atas sebuah kursi kayu di tengah ruangan sementara kami bersandar setengah duduk di tepian meja yang diset melingkar mengelilinginya. Asap dari cerutu yang kami genggam mengepul tipis memenuhi seisi ruangan.

Selama beberapa jenak kami saling diam, hanya bercakap-cakap dengan 'seseorang' yang ada dalam batok kepala kami sendiri. Lelaki itu tetap terduduk di sana sambil memainkan kukunya dengan wajah tertunduk.

“Cerutu?” kata salah satu dari kami sambil menyodorkan sekotak cerutu padanya.

Kepala orang itu mendongak sambil tersenyum.

“Tidak. Terima kasih,” katanya singkat dengan suara yang lirih tapi terdengar cukup jelas dalam ruangan yang senyap ini.

“Sejak kapan kamu menolak cerutu? Bukannya kamu dulu adalah seorang pecinta cerutu?” tanya orang yang menyodorkan sekotak cerutu tadi.

“Sejak beberapa menit yang lalu,” tukasnya singkat.

Terdengar suara desah napas yang dihembuskan dengan kuat dari beberapa orang di antara kami lalu para tetua yang duduk di balik meja besar mulai berbisik-bisik. Setelah itu suasana hening kembali.

Seorang tetua bangun dari duduknya dan berjalan memutar sambil mengedarkan pandangannya pada langit-langit ruangan yang dicat dengan warna muram.

“Ini baru pertama kali terjadi setelah ribuan tahun organisasi kita berdiri,” katanya tidak kepada siapa-siapa. Matanya masih tetap menatap langit-langit seolah mengenang urutan persitiwa yang sudah ribuan tahun lewat.

“Jika kalian membaca dengan baik buku nubuat yang sudah kami tulis ribuan tahun lalu, berarti ini memang sudah saatnya. Waktunya sudah hampir datang,” katanya sambil berjalan mendekati lelaki yang terduduk di tengah ruangan.

Beberapa dari kami saling bertukar pandangan satu sama lain. Seseorang dengan setelan jas hitam mengkilat hanya mengangkat bahu saat rekannya yang berpakaian serba putih mencoba bertanya dengan gestur matanya.

“Sekarang kalian duduk,” perintah salah seorang tetua yang lain.

Kami semua segera menuruti perintahnya. Seseorang pelayan yang selama ini berdiri di sudut berjalan ke arah meja kami dan mengisi gelas-gelas kami yang kosong dan hampir kosong dengan anggur. Sampai penuh. Sampai nyaris tumpah, tapi tak ada seorang pun yang berusaha menghentikannya.

“Beri dia segelas,” perintah seorang tetua.

Si pelayan berjalan ke arah orang yang duduk di tengah, tapi lekas dicegat oleh orang tersebut.

“Saya sudah tidak minum anggur,” katanya.

Mendadak ruangan riuh dengan suara rendah yang tertahan. Kami saling berbisik satu sama lain. Suara riuh itu segera hilang saat seorang tetua berdehem lalu berdiri.

“Kita semua tahu, tempat yang kita pijak sekarang ini, tempat yang kita anggap sebagai rumah ini tidak akan mampu mencukupi kebutuhan kita semua jika jumlah kita terus bertambah secepat sekarang,” katanya setengah mendesah.

“Untuk menjaga supaya rumah ini tetap nyaman, maka kita harus mengurangi jumlah penghuni rumah ini dengan sistematis, dengan menciptakan kematian.

“Kematian yang wajar. Kematian yang seolah memanusiakan manusia itu sendiri. Seolah-olah semua terjadi secara alami tanpa ada keterlibatan kita di dalamnya. Jadi lagi-lagi harus saya jelaskan bahwa seberlumuran darah apapun tangan kita, kita bukanlah pembunuh.

“Justru kita adalah para penjaga agar rumah ini tetap berpenghuni. Sebab salah sedikit saja kita dalam bertindak, maka akibatnya semua dari kita mati. Punah. Rumah ini akan kosong tanpa penghuni.”

“Tapi bukankah Tuhan...”

“Stop!” kata seorang tetua sambil mengangkat tangannya. “Jangan sebut nama itu di sini.”

Orang yang berkata tadi urung meneruskan kalimatnya lalu bibirnya kembali bergerak-gerak menyenandungkan lagu pujian yang hanya dia sendiri yang bisa mendengar.

“Tidak sopan menyebutkan entitas tertinggi itu di ruangan ini. Kita hanyalah pesuruh-Nya yang bertugas menjalankan tugas-tugas kita sejak awal rumah ini dibangun.”

Tiba-tiba terdengar suara dengkuran yang nyaring dari tengah ruangan. Si tambun yang berwajah jenaka itu tertidur pulas di tengah-tengah diskusi kami yang mulai menghangat.

Seseorang dari kami yang memakai seragam camo dengan bintang bertaburan di bahunya mencabut baretta dari pinggangnya dan menodongkan moncongnya pada si tambun.

Tidak ada satu orang pun yang berusaha mencegahnya, hanya seorang tetua yang mengangkat kedua alisnya. Baretta itu pun urung meletus dan kembali masuk ke dalam sarungnya. Ruangan kembali senyap.

“Tidak perlu berpanjang lebar lagi,” ujar seorang tetua yang paling agung di antara para tetua. “Kalian sudah tahu apa simpulan akhir dari peristiwa yang kita hadapi hari ini.

“Tanggalkanlah pakaian kalian semua. Pulanglah! Peluk anak-anak kalian! Siram dan beri pupuk pohon-pohon yang ada di halaman! Dan perbanyaklah memuji-muji Dia yang namanya tidak boleh kalian sebut dalam ruangan ini.”

Para tetua bangkit lalu menghilang di balik pintu besar yang tak pernah kami ketahui ke mana arahnya.

Kami semua menuruti perintah tetua agung. Kami tanggalkan pakaian yang sudah ribuan tahun kami kenakan lalu pulang.

Entahlah, setelah itu kami tidak pernah mendengar informasi tentang para tetua, yang kami tahu hanyalah bahwa sekarang rumah yang kami tempati justru semakin nyaman. Tak ada lagi perang, pembunuhan atau wabah.

Langit menjadi lebih biru dan terang. Burung-burung yang semula dalam sangkar enggan menyanyi kini bersenandung manja di pohon-pohon di halaman.

Aku menghabiskan sore itu dengan mengajak si bungsu mengumpulkan daun-daun kering di halaman dan menguburnya untuk dijadikan kompos. Sesekali aku memeluknya sambil bercerita tentang betapa menakutkannya rumah kami dulu sebelum para tetua pergi.[]

1 komentar:

Back to Top