Cahaya Terakhir

Posted by Labels: pada
Cerpen Cahaya Terakhir

Oleh : Ule Maniloka

Aku melihat surga dan neraka di setiap kedipan mata. Entah apa yang membuatku beranggapan bahwa aku telah ada di seberang keduanya dan menatap kedua malaikat Malik dan Ridwan di kedua gerbang yang berbeda. Begitulah para ulama akan memprediksiku berada di antara kedua pintu itu, jujur aku pun tidak tahu akan berada di mana kelak atau karena aku tidak punya salah satu tiket untuk masuk ke dalamnya. Mungkin saja, surga dan neraka hanya untuk mereka yang telah melakukan syarat-syarat administratif berdasarkan buku rapor yang mereka raih sewaktu bersekolah di dunia.

Langit mendung, aku terbangun oleh gerimis. Syukurlah Tuhan telah melepaskan utusannya di hari itu sehingga aku bangkit dan meninggalkan kasur kardus di bawah pohon palm. Aku lanjutkan jalanku di atas trotoar, sementara jalanan masih tampak ramai dengan kendaraan yang berseliweran hilir mudik. Langit semakin mendung dan hujan turun semakin deras, aku pergi dengan sedikit lebih cepat. Sesekali petir menyambar melukis langit yang hampir saja gelap seutuhnya. 

Hingga berada di deretan toko yang masih membuka dan menjual berbagai perlengkapan seperti pakaian, aksesoris dan lainnya. Kasir toko meringkuk di atas kursi menatap hujan yang begitu hebatnya. Aku mendekat dan berteduh di depan toko. Aku jongkok dan memeluk erat lututku di atas ubin toko. Angin dan hujan berbaur menghasilkan dingin yang menembus kulitku yang penuh daki polusi. Celana tipis yang kutemukan di tong sampah di samping sungai tidak begitu membantu menghangatkan, bahkan rambut gimbal yang tak beraturan ini membuat dingin menembus otak yang konslet.

Orang-orang nampak begitu berhamburan, berlarian mencari tempat untuk berteduh. Sementara jalanan masih seperti sebelumnya meskipun banyak pula yang memarkirkan kendaraan roda duanya di depan toko dan memilih untuk beristirahat menanti hujan reda. Beberapa orang turun dari kendaraannya dan memilih bergabung denganku di depan toko.

“Kamu pakai jaketku, aku tidak mau kamu kedinginan.” Seorang laki-laki membuka jaket yang dikenakannya pada perempuan yang diboncengnya.

“Terus nanti kamu gimana, Yang?”

“Aku tak apa-apa, Yang, yang penting kamu jangan sampai sakit.”

Aku semakin erat memeluk lututku.

Perempuan itu sepertinya membisikkan sesuatu kepada laki-laki di sampingnya setelah melihatku duduk di atas ubin toko. Rupanya laki-laki itu menanggapi bisikan perempuannya dan menjauhi dariku beberapa meter.

“Yang, kamu tahu apa yang kamu lakukan, bukan?”

“Apa, Yang?”

“Kapan kamu menikahiku?”

“Kamu serius?”

“Kita sudah tiga tahun pacaran, masa harus begini terus apalagi kamu sudah dapatkan apa yang kamu mau dariku.”

“Yang … aku sayang kamu dan aku tidak mungkin untuk mengkhianati kamu,” jawab laki-laki itu. “Baiklah, nanti kita bahas di rumah saja, ini tempat umum tidak baik apalagi jika didengar orang.” Perempuan itu diam dan hanya menatap hujan. 

Hujan perlahan menurunkan intensitasnya, petir tidak lagi terdengar meskipun sesekali cahaya kilat masih terlihat di ujung langit. Cahaya matahari menembus di antara awan-awan hitam yang kian memudar. Jalanan masih basah dan orang mulai kembali ke aktivitasnya masing-masing.

Laki-laki dan perempuan itu menancap gas dan seketika menghilang dari pandangan, entah apa yang terjadi selanjutnya atas mereka aku tidak peduli. Aku masih duduk di atas ubin toko dan memainkan air yang tergenang di depanku. Aku berharap bisa mengecilkan tubuhku berenang dan meminum air genangan itu dengan sepuas hatiku.

Lelaki tua keluar dari balik pintu di dalam toko menggenggam sebuah buku catatan dan kalkulator di tangan. Wajahnya tampak murka dengan kerutan yang menghiasi pipi dan dahi, matanya yang sipit hampir setengah tertutup dan terlihat tidak begitu benar-benar melotot ketika menyaksikan perempuan di kasir itu meringkuk. 

“Oi, sini kamu!”

Perempuan itu terperanjat dan menggosok kedua matanya, memastikan bahwa yang ia lihat bukanlah setan. Ia bangkit dan menghadapnya.

“Kenapa penghasilan kita tidak berkembang, tidak ada perubahan?” Penjaga kasir hanya diam. “Kamu ngapain aja seharian, kerja malas-malasan?”

Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut penjaga kasir, ia diam saja. Dalam benaknya tentu merasa kesal terhadap si tua yang semena-mena menyalahkan dirinya karena pendapatan toko yang ia jaga tidak ada perkembangan bahkan menurun. Itu karena tidak ada yang membeli di toko, berarti bukan sepenuhnya kesalahannya. Paling tidak, ia telah melakukan apa yang harus dilakukan sebagai kasir dan melayani setiap pembeli, terlepas dari pembelinya mau atau tidak, tetap ia hanyalah kasir yang memiliki tugas tersendiri terhadap toko. 

Telinganya dipadati ocehan lelaki tua yang sudah bau tanah bahkan kain kafan sepertinya sudah siap untuk membungkus tubuh tua itu. “Menyebalkan.,” begitu bisik hatinya. Bekerja di bawah tekanan orang lain memang tidak menyenangkan, apalagi bagi orang yang tampak bermalas-malasan seperti si penjaga kasir, tapi apa boleh buat lapangan kerja yang lebih baik susah dicari atau harus berkali-kali berpikir jika ingin menjajakan diri di setiap malam.

Penjaga kasir masih menerima ceramah dari lelaki tua itu. Sementara matahari hampir tergelincir, seorang ibu dengan anaknya melintas dan hampir mampir ke toko milik lelaki tua itu.

“Ibu ada orang gila,” teriak anak itu dengan wajah ketakutan sambil menarik pakaian ibunya dengan begitu kuat. Sementara lelaki tua terpaksa menyelesaikan ceramah.

Ibu itu tergesa-gesa berjalan begitu saja melewatiku sambil menarik anaknya dengan setengah berlari. Lelaki tua menghampiriku yang asyik memainkan air genangan sisa hujan tadi. 

“Oi, pergi kamu!” ia menghardik.

Aku tidak mendengarnya, dan asyik dengan genangan air.

“Sial!” Seketika lelaki tua itu mendaratkan kakinya di punggungku, sehingga aku tersungkur di dalam genangan air. Aku menatapnya dengan tajam. Tangannya menuduhku seakan-akan aku telah mencuri seisi toko miliknya. Aku bangkit dan meninggalkan lelaki tua itu bersama tokonya.

Sisa hujan masih terasa membasahi trotoar dan jalanan. Langkahku tidak pasti kemana, tidak ada kompas maupun peta yang mengarahkan ke mana hidupku akan berlabuh. Di samping jalan, gedung-gedung bertengger dengan mewahnya. Hiruk pikuk manusia kembali terasa, yang mereka pikirkan adalah bagaimana cara bisa bertahan hidup untuk hari ini dan esok, bahkan tidak heran jika mereka memanipulasi berbagai kehidupan. Dunia sebagai panggung kompetisi didasarkan pada hasrat untuk menguasai sehingga hidup lebih layak meskipun rela mengorbankan hak-hak hidup orang lain. 

Perutku lapar, tidak akan ada yang akan mengasihiku selain aku harus mencarinya. Dari rumah makan ke rumah makan lainnya, restoran, pedagang kaki lima aku pernah singgah di sana, memakan makanan lezat dan bernutrisi sehingga membuatku kuat untuk berjalan dan menyombongkan diri kepada penduduk surga dan neraka. Meskipun, hanya bekas dan sisa yang tersimpan di tong pembuangan sampah.

Di rumah makan, di samping gedung balai kota. Cahaya mentari memudar sementara si tukang masak sibuk memasak menyiapkan hidangan di sore hari untuk para pelanggan yang baru saja selesai dari kepenatan aktivitas . Tidak ada yang mereka perbincangkan kecuali debat kusir menyoalkan pemilihan umum yang akan di selenggarakan beberapa bulan lagi.

“Semua caleg memang seperti itu,” ucap seorang yang berambut klimis dan agak kurus. Duduk di atas kursi depan meja bundar yang siap menyantap makanan yang akan segera dihidangkan beberapa menit lagi.

“Oh, beda lagi dengan caleg ini. Dia ini insya Allah amanah dan bisa menjadi jembatan rakyat untuk menunjukkan aspirasi mereka,” ucap seorang lelaki brewok berperawakan besar sambil menunjukkan poster seseorang dengan slogan, nomor urut serta partainya. 

“Mereka selalu bilang seperti itu.”

“Makanya bagaimana pun, kita selaku masyarakat harus mendukung terhadap para calon legislatif. Tapi kenali dulu agar kita tidak salah pilih,” kata si brewok.

“Maksudmu caleg ini?”

“Hahaha … yang mana lagi? Jadi kamu mau tidak menerima tawaranku?”

“Apa yang bisa aku bantu? Aku tidak mau terlibat politik seperti itu. Jika akhirnya menyengsarakan.”

“Menyengsarakan bagaimana? Kamu punya banyak kenalan dan massa, apalagi kamu salah satu ketua organisasi.”

“Bagaimana mungkin aku melacurkan organisasiku untuk hal yang seperti ini?”

“Kamu yakin tidak butuh dana untuk mengelola organisasi?”

“Setiap organisasi tentu membutuhkannya, tapi jalan seperti ini melanggar aturan organisasi.”

Tibalah hidangan itu di depan mereka. “Makanan ini biar aku yang bayar.”

“Baiklah.”

“Jadi bagaimana?” si klimis tampak berpikir kembali.

Ia meraih gelas yang telah berisi teh manis dan meminumnya. “Akan aku pikirkan kembali nanti.” Mereka larut dalam hidangan makan sore itu.

Aku sudah tidak tahan lagi menahan lapar ini. Aku mencari tong sampah di sekitar rumah makan, dan kudapati nasi dan beberapa lauk yang tercampur di samping tong sampah yang berdekatan dengan gorong-gorong kota. Kusantap makanan itu hingga habis dengan segera meninggalkan tempat itu.

Sementara itu, si tukang masak tidak lagi memasak karena tidak ada pelanggan yang datang lagi ke rumah makannya.

“Pak, akhir-akhir ini populasi tikus semakin banyak,” ucap si klimis itu kepada si tukang masak. 

“Seirama dengan populasi koruptor di balai kota.”

“Aku serius, Pak.”

“Aku pun serius.”

Mereka tertawa.

“Makanya aku racuni semua tikus di sini. Tapi, pemerintah belum meracuni dirinya sendiri sehingga tikus-tikus itu bisa enyah dari muka bumi,” ucap si tukang masak yang tampak lebih tahu soal tikus-tikus. “Apalagi di musim kawin seperti ini, bakal banyak tikus yang akan melahirkan tikus-tikus lain.”

“Ah, aku tahu maksudnya,” Ujar si klimis.

“Baiklah, berapa semuanya, Pak?” Si brewok mengakhiri perbincangan.

“Tujuh puluh lima ribu.”

Mereka pun pergi, setelah si brewok membayar semua makanan yang dihidangkan dan rumah makan kembali sepi. Sementara tukang masak sibuk berbenah membersihkan sampah-sampah di dapur.

Perutku menggerutu, aku duduk di bawah pohon palm di samping trotoar menenangkan perutku. Sementara mulutku mual dan muntah, mataku berkunang-kunang dan pusing membelai mesra kepalaku yang ditumbuhi rambut gimbal. Saat itu matahari hampir saja tenggelam seakan-akan mengucapkan selamat tinggal. 

Seekor tikus besar keluar dari gorong-gorong menyambutku dengan wajah memelas penuh iba. Aku lemah tak berdaya, tidak sanggup rasanya aku menyapa tikus itu sementara aku mencoba menahan rasa sakit ini. 

“Malang sekali nasibmu, Pak,” ucap tikus itu. “Orang memandangmu sebagai orang gila padahal merekalah yang gila. Aku dan kamu adalah korban kegilaan orang-orang yang tidak beradab, kawan-kawanku sebagian mati karena makanan dan orang-orang rela menggadaikan apapun untuk bisa makan termasuk harga dirinya.”

Mataku terbelalak mendengarkan ucapan tikus itu. 

“Tahukah, Pak, makanan yang kau makan itu untuk membunuh kami. Seharusnya yang harus mereka bunuh bukanlah kami tapi tikus-tikus di balik meja-meja dan kursi di Balai Kota sana.” Aku paham ada racun tikus ditubuhku.

Napasku sesak tubuh kejang-kejang, menendang-nendang angin yang tidak berguna. Matahari sudah tidak terlihat sementara seutas cahaya masih melukis langit mengiringi azan Magrib. Suara sang tikus sudah tidak terdengar lagi tapi ia masih bertahan di sampingku. 

Sosok yang tidak pernah aku kenal sebelumnya memanggil. Ia mengantarku ke langit dan mengajakku mengenal semua realitas, bahwa bagaimana pun aku akan mati sebagaimana yang telah digariskan kepada seluruh makhluk yang bernyawa di muka bumi ini. Aku sadar, aku tidak akan lagi hidup, bahkan mati akan menjadi lebih baik daripada aku hidup berabad-abad di dunia yang penuh kegilaan.

***

Ule Maniloka adalah nama pena dari Sulaeman Daud, penulis asal Sukabumi yang menaruh perhatian serius terhadap kehidupan sosial. Ia lahir pada tanggal 7 April 1996 di Sukabumi dan besar serta tumbuh di sana. Pada tahun 2004-2009 menyelesaikan sekolah di SDN Dukuh, kemudian dilanjutkan ke SMP N 1 Cidahu pada tahun 2009-2012 dan pada tahun 2012-2015 dilanjutkan ke MA I’anatuth Tholibin. Pada tahun 2020 akhir, ia menyelesaikan kuliahnya di STAI Kharisma Cicurug. Saat ini ia juga aktif sebagai anggota ODOP Batch 7 tahun 2019.


2 komentar:

Back to Top