Menuju Rumah Tanpa Riba, Pengingat Fananya Dunia

Posted by Labels: pada


Oleh: Jihan Mawaddah

Menuju Rumah Tanpa Riba adalah salah satu buku solo karya Sakifah Ismail, atau yang biasa saya panggil Kak Saki. Membaca judulnya saja bagi sebagian orang mungkin akan enggan untuk memulainya. Bukan karena jelek, sama sekali bukan. Namun menurut saya, karena keberanian Kak Saki dalam memilih judul buku tersebut. Andai saya sedang menjadi pelaku ribawi, maka saya akan menghindari buku itu.

Namun itu semua dilakukan oleh orang yang tak mau menerima kekurangan diri dan tentu saja tak mau belajar. Maka saya sangat salut jika ada pelaku ribawi justru mencari buku tentang bagaimana caranya menghindari riba atau bahkan terlepas dari riba. Salah satunya adalah buku berjudul Menuju Rumah Tanpa Riba ini.

Pemilihan judul oleh penulis juga dianggap seram oleh beberapa orang. Tentu saja, karena siapa sih yang ingin dibuka aibnya, dibongkar kedoknya? Namun semua itu untuk kebaikan diri kita sendiri, kan? Memasuki zaman penuh fitnah seperti ini menjadi hal yang sangat berat ketika menggenggam erat kebaikan, bak menggenggam bara api yang panasnya melepuhkan kulit manusia. Terlebih jika ada yang menyampaikan kebaikan. Maka ia harus siap dengan segala konsekuensinya. Dicap sok suci, agamis, konservatif, dan masih banyak lagi.

Sebagaimana banyak kisah yang diceritakan dalam buku Menuju Rumah Tanpa Riba, saya pun sering mendengar hal yang sama. Membaca buku ini saya jadi angguk-angguk sendiri. Karena memang akhir dari transaksi ribawi memang selalu hampir sama. Hilangnya keberkahan dalam hidup karena bercampurnya yang haram dan halal.

Mayoritas penduduk Indonesia sebanyak 70% dari 250 juta jiwa adalah muslim. Namun, berapa yang pernah mendengar atau mungkin memahami bahwa riba itu haram? Melihat sebanyak 90% pasar keuangan masih dikuasai lembaga keuangan konvensional, tak heran banyak sekali masyarakat yang terjebak dalam transaksi ribawi yang diharamkan Allah ini.

Meskipun sudah dijelaskan dalam fatwa DSN MUI bahwa hukum riba adalah haram, namun sistem bunga yang digunakan dalam transaksi keuangan konvensional ternyata tidak dapat dibedakan hukumnya dengan riba: haram. Anehnya hal itu terus berulang. Bergulir masalahnya seperti bola salju. Utang yang semula kecil kemudian menjadi besar, lalu semakin besar hingga menggilas dirinya sendiri dan menghancurkan keluarganya.

Buku Menuju Rumah Tanpa Riba memberikan pilihan pada kita, bukan menggurui, bukan pula memerintahkan untuk berhenti atau menjauhi riba. Ia memberi pilihan dengan memberikan kisah-kisah nyata dari para pelaku riba. Mulai dari usaha yang tidak barakah, hidup yang tak tenang karena terus menerus dikejar utang yang tak kunjung terlunasi, dan masih banyak lagi. Jika sudah dihadirkan contoh serta edukasi tentang apa saja yang disebut sebagai riba dan bagaimana cara kita menghindarinya, seharusnya buku ini sudah cukup sebagai pengingat untuk kita semua.

Menuju Rumah Tanpa Riba menurut saya menjadi buku yang memotivasi kita semua, bukan menghakimi. Memotivasi agar bisa bersabar. Bersabar dalam menggenggam erat perintah dan larangan-Nya. Bersabar untuk terus istikamah dalam kebaikan. Karena bagaimanapun kebaikan akan selalu ada godaannya. Oleh karena itu buku ini tepat menjadi penghibur di saat saya belum memiliki rumah sendiri, tabungan belum mencukupi untuk membeli rumah tunai tanpa utang, terlebih utang riba. Sekaligus menjadi motivasi bagi saya di saat banyak cibiran dan anggapan apapun yang orang lain berikan pada saya.

Begitu juga untuk pembaca, yang saat ini gigih memegang prinsipnya untuk tidak bermudah-mudah dalam berutang, terlebih utang ribawi. Mudah-mudahan Allah menjaga hati kita, mengukuhkan niat dan keistikamahan kita ketika melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Senang sekali Kak Saki menuliskan buku Menuju Rumah Tanpa Riba ini, saya jadi merasa tidak sendiri.

Judul Buku : Menuju Rumah Tanpa Riba
Penulis : Sakifah, S.EI, M.E.
Penerbit : Read Litera Surabaya
Cetakan Pertama Oktober 2020
ISBN : 978-623-94698-8-7
Tebal : 150 halaman


Jihan Mawaddah, adalah anggota resmi ODOP Batch 7 yang tinggal di Kota Malang, Jawa Timur. Tulisan lainnya bisa dilihat di www.jeyjingga.com.

1 komentar:

  1. Makasih kak Jihan.. sudah berkenan menuliskan review MRTR ❤️ sekebon deh wkwkwkwk

    BalasHapus

Back to Top