Di Ujung Pelangi

Diposting oleh Label: pada

Oleh: Achmad Ikhtiar

Bagi lelaki yang kelelakiannya sudah dikebiri takdir dan nasib malang menjadikan batinnya impoten, satu-satunya hiburan yang bisa bikin dia orgasme tanpa kesudahan adalah setiap malam memeluk guling sambil menerka-nerka apa yang dilakukan Tuhan saat mencipta dunia. Apakah Tuhan mencipta semesta sambil marah-marah lalu menendang satu dandang sup primordial sampai tumpah lalu tercipta organisme tak sempurna seperti dirinya; manusia?

Atau Tuhan mencipta segalanya sambil melempar dadu? Apa pun yang nanti tercipta, hasilnya serba tidak terduga, random. Namun, dengan intelegensinya yang terbatas, hanya berbeda beberapa tingkat di atas beruk, lelaki dengan sisa bekal iman hasil mengaji pada ustaz di kampungnya dulu itu selalu berusaha berprasangka baik. Pelangi tujuh warna dengan lengkungan sempurna hanya akan tercipta setelah badai dahsyat yang mampu mematahkan dahan pohon sengon, batinnya mencoba menghibur atau lebih tepatnya menipu dirinya sendiri dengan sesuatu yang tidak dia yakin betul.

Bani, itulah nama yang didapatkan dari kakeknya sejak lahir, tanpa nama depan, tanpa nama belakang, hanya Bani. Lelaki dengan mata cekung dan tubuh ringkih yang tanpa pernah bisa melihat wajah ayahnya secara langsung kecuali lewat foto yang dipajang ibunya di ruang tamu itu mempunyai profesi yang lumayan ajaib untuk ukuran jaman sekarang; servis payung keliling.

Setiap hari dia berkeliling dari kampung ke kampung, dari gang ke gang sambil berteriak-teriak dengan suara yang khas. Jaman sekarang kita bisa hitung dengan jari berapa banyak orang yang membutuhkan jasa servis payung ketika payung sudah menjadi barang yang umum menjadi souvenir dari toko emas atau saat seseorang menjadi nasabah sebuah bank. Tapi Bani tetap bersikukuh dengan profesinya itu, walau kadang harus gigit jari saat melihat teman-temannya yang sudah alih profesi menjadi kuli kasar di pabrik-pabrik mengibas-ngibas amplop di akhir bulan.

Sejak kecil Bani adalah anak yang selalu takjub saat melihat pelangi setelah hujan, kata ibunya dulu, di ujung kaki pelangi ada bidadari mandi, tapi sampai usianya sekarang menginjak dua puluh tiga, tidak pernah dia melihat ujung kaki pelangi itu. Itulah sebabnya dia ngotot mempelajari mekanisme benda bulat yang bisa dilipat itu sampai khatam, dia berkeyakinan suatu saat nanti orang-orang akan butuh payung untuk berkeliling dalam hujan sambil mencari ujung pelangi.

Bulan berganti, memasuki bulan Juni yang terik, penghasilan Bani semakin terancam, orang yang membutuhkan jasa perbaikan payung semakin sedikit, ditambah lagi orang-orang sudah mulai beralih menggunakan jas hujan.

“Sudahlah, Ban. Ikut kita saja jadi tukang angkut batu di pabrik. Nanti aku bisa bilang sama tauke supaya kamu bisa diterima kerja di sana,” kata Imran, suatu sore di warung kopi, sambil melepas lelah setelah seharian memindahkan batu di pabrik.

Bani diam saja. Ada perang batin dalam dirinya.

“Kamu lihat saja, orang-orang sekarang lebih suka memakai jas hujan,” tambah Imran lagi.

Mendengar kata-kata Imran, batin Bani merasa semakin terhimpit.

Sampai menjelang magrib, Bani tidak berucap satu patah kata pun. Imran dan teman-teman Bani yang lain dapat memaklumi. Mereka bukan hanya sekali mendengar selorohan Bani tentang bidadari di ujung kaki pelangi setelah hujan. Mereka hanya ingin salah satu teman mereka itu mempunyai penghasilan tetap, lekas-lekas menikah dan punya anak.

Setiba di rumah, Bani tetap tercenung. Dia berkeyakinan tidak mungkin ibunya berbohong. Seumur hidup satu-satunya orang yang tidak pernah berbohong padanya adalah ibunya. Namun, sekarang keadaan benar-benar sudah menghimpitnya dari segala arah.

Sambil memeluk guling dia berdoa.

Doa adalah senjata paling sakti yang dimiliki manusia, itu kata-kata ibunya. Semakin banyak doa kita, semakin besar kemungkinannya untuk terkabul.

Maka malam itu, di atas kasurnya, sambil memeluk bantal Bani berdoa tanpa putus. Doa tentang ujung kaki pelangi. Lepas tengah malam, matanya mulai lelah dan dia pun tertidur.

Pagi harinya, Bani terbangun karena mendengar suara tetangga ribut-ribut berteriak banjir. Dengan mata yang masih mengantuk dia duduk di atas kasur lalu menyingkap tirai jendela. Matanya terbelalak. Di luar hujan turun dengan deras, air dari sungai meluber ke jalanan lalu masuk ke permukiman, belum terlalu tinggi, baru sebatas betis.

Bani lekas-lekas bangun. Tiba-tiba saja ada ilham di kepalanya yang menyuruh dia lekas-lekas membuka payung, berlari ke luar rumah menuju batas kampung. Semakin jauh dia berjalan, hujan semakin jarang, keadaan lebih terang. Di sebuah padang rumput, perbatasan antara kampung dan hutan ada sebuah telaga kecil. Dia melihat ujung pelangi tercelup masuk ke dalam telaga. Air telaga berkilauan warna-warni, tapi tidak ada satu pun bidadari mandi.

“Nak.” Ada sebuah suara yang memanggilnya pelan dari arah belakang.

Bani menengok.

Sesosok lelaki dengan kumis tipis dan kemeja lengan panjang motif garis-garis berdiri di belakangnya. Kini mereka berhadap-hadapan. Selama beberapa jenak tak ada satu pun kata yang keluar dari mulut mereka berdua. Lelaki itu tetap berdiri dengan senyum tipisnya yang tak pernah lepas, sementara Bani masih tergagap karena menyaksikan semua ketakjuban yang masih belum mampu dia cerna.

Hujan berhenti, langit yang semula kelabu berubah menjadi biru jernih, pelangi semakin jelas terlihat, telaga berpendaran dengan warna.

“Ayah,” bisik Bani pelan. Suaranya hampir tertelan dengan emosinya.

“Ayah,” katanya lagi dengan suara lebih keras.

Bani berjalan pelan, lalu mempercepat langkahnya sampai setengah berlari. Lelaki itu merentangkan tangannya lebar-lebar. Anak beranak itu saling berpelukan. Bani terisak.

Menjelang siang warga kampung dihebohkan dengan penemuan jenazah Bani yang sedang tersenyum sambil memeluk guling di dalam kamarnya.

***


Posting Komentar

Back to Top