Malam Pengantin

Diposting oleh Label: pada


Oleh: Lilis Fauz

Tanpa janur melengkung yang terpasang di depan gang atau rentetan suara petasan untuk penyambutan. Hari itu, pernikahan yang sederhana digelar di rumah Sulastri. Ia memakai kebaya putih dengan sanggul di kepala. Sedangkan Yusuf berkopiah hitam, memakai sarung, dan atasan jas yang terlihat kelonggaran. Kue-kue ala kadarnya terhidang untuk menyambut tamu. Para undangan duduk berkelompok-kelompok mengerumuni meja sambil menikmati hidangan. Sambil bercengkrama mereka membicarakan topik yang sedang hangat-hangatnya: tentara NICA siap menggempur Surabaya. 

Yusuf menikah dengan Sulastri tepat pada hari tentara sekutu menggempur Surabaya. Pasukan Inggris, NICA, dan Gurkha melancarkan serangan lewat darat, laut dan udara. Langit bising, seketika suasana menjadi mencekam. Deru pesawat memuntahkan tembakan dari atas. Sedangkan pasukan tank siap menggilas siapa saja yang dijumpainya di jalan-jalan. Belum lagi kedatangan kapal dari arah laut yang mengangkut ratusan prajurit bersenjata lengkap menambah ketegangan kota Surabaya siang itu. Kemerdekaan telah diproklamirkan. Namun pihak sekutu tidak mengakui hingga pecahlah pertempuran sengit dengan arek-arek Surabaya. 

“Selamat ya, Cak.” Begitulah teman-teman menyalaminya. Belum usai acara digelar, tersiar kabar bahwa tentara sekutu sudah merangsek masuk ke dalam kota, Surabaya terancam. Terpaksa acara dibubarkan lebih cepat dan berganti dengan musyawarah antar warga, tidak ketinggalan mempelai berdua. Sebagai tentara muda Hizbullah, Yusuf dengan semangat menawarkan diri memimpin pasukan menjaga daerah di sekitar alun-alun Contong, tepatnya Surabaya bagian utara. Dengan berat hati, Sulastri yang bekerja sebagai tenaga medis ikut menawarkan diri. 

“Mas, tolong jangan pergi. Kita baru menikah. Aku pun tidak akan pergi. Aku mohon, Mas ....” Lastri memelas sambil memegang tangan Yusuf. 

Yusuf memandang mata Lastri untuk meminta restu tanpa mengucapkan kata-kata. Lastri paham. Bagi suaminya republik yang baru saja berdiri ini adalah segala-galanya. Lastri mengangguk pelan.

 “Terimakasih, Dik. Kamu mau mengizinkan aku berjuang bersama mereka. Maafkan ya, malam pengantin kita tunda dulu.”

Lastri kembali mengangguk dalam diam. Kali ini wajahnya ia tekuk dalam seolah hatinya tidak mengijinkan.

Yusuf memandang Sulastri sambil tersenyum, lalu direngkuhnya perempuan itu dalam pelukannya, lalu dikecupnya. “Terima kasih telah menikah denganku, Sayang. Esok kita berjuang bersama ya ....

Dan malam semakin panjang karena Sulastri harus tidur ditemani nyanyian jangkrik yang kian menyayat jiwa. Yusuf dan anggotanya telah pergi untuk menyiapkan segala keperluan esok hari. 

Pasukan NICA masuk ke Surabaya. Tentara Hizbullah yang sudah menunggu segera melakukan serangan secara besar-besaran dan langsung dibalas dengan serangan yang membabi buta oleh pasukan NICA.

Tembakan dari segala arah memekakkan gendang telinga. Para pejuang membalas serangan sambil berlindung di beberapa tempat. Namun kekuatan mereka tidak seimbang. Musuh menyerang dengan persenjataan lengkap, sedangkan para pejuang tanah air hanya menggunakan senjata hasil rampasan. Darah tercecer di mana-mana. Teriakan bercampur tangis putus asa terdengar di antara dentuman dan tembakan senjata yang membabi buta. 

Para tenaga medis berusaha menolong siapa saja yang dapat diselamatkan sambil berlari menghindari peluru dan pecahan mortir yang kapan saja bisa mengoyak tubuh.

Menenteng kotak perlengkapan obat yang juga sekadarnya, Sulastri melihat sekelebat bayangan suaminya. Ia berlari mengikuti sosok yang dicintainya.

“DUMM!” Bumi seakan memuntahkan isinya. Ledakan yang begitu keras melemparkannya jatuh ke dalam parit yang tergenang oleh kotoran dan darah. Ya, darah manusia sekaligus tai mereka.  Dengan pemandangan mayat yang tidak lagi utuh di setiap jangkauan mata. 

Beberapa saat setelah dirasa serangan berkurang, ia keluar dari parit dan berjalan mengendap. Lalu menjerit dan meraung dalam kerongkongan saat melihat potongan kaki bersepatu milik suaminya. Ia sungguh meyakini, potongan kaki itu adalah milik suaminya. Kini, yang terdengar hanya raungannya bersama pekik tangis suara para tenaga medis lain yang keluar dari persembunyian.

Mereka tak mampu meraih tubuh-tubuh yang telah terkoyak. Hanya bisa memandang dalam tangisan pilu bagaimana tembakan-tembakan itu mengoyak isi perut mereka hingga terburai keluar. Mencacah tubuh hingga menjadi potongan-potongan kecil yang berserak di jalanan. Dan kepala yang terkena tembakan hingga memuncratkan cairan otak. 

Dan tubuh kekasih Sulastri, suami sesaatnya, tidak dapat ditemukan. 

***

Lilis Fauz anggota komunitas ODOP.
Posting Komentar

Back to Top