Working Mom

Diposting oleh Label: pada

Esensi kemerdekaan seorang wanita terletak pada berapa jauh dia mampu menyelami dunia pengorbanan tanpa merasa terkorban. Intrik kewanitaan dan berbagai embel yang mengharuskannya menjadi kokoh. Entitas yang simbolik untuk sebuah pengabdian. Setiap wanita adalah tiang pundi-pundi tawa dan bilangan semesta yang akan terus bertambah di pangkuannya. Mengisi tiap rindu menjadi sua. Reduplikasi bahagia. Tawa-tawa ria bertebaran, tetapi semesta sudah memberinya sebuah kodrat; hanya sebagai penolong. Tulang rusuk. Walau sering dialihfungsikan menjadi tulang punggung. Ironi yang tragis, pada dasarnya itulah yang menjadi momok—memenjarakan wanita jauh dari kata bahagia— merdeka.

Duapuluh empat jam atau setara dengan 86.400 detik dalam sehari merupakan selang yang sangat minim untukku menutup hari dengan sempurna. Selalu buru-buru, tergesa-gesa dan ngos-ngosan—nyaris lupa bernapas dan lega saat tiga makhluk kecilku benar-benar asik dengan dengkurnya, sementara aku hanya ditemani genitnya kerlingan bintang-bintang malam seolah berakrobat dengan rasi ekornya yang begitu menawan. Diam-diam lalu berlalu dalam cibiran.

Itu menurut galaksi dan semesta, bahkan menurut alam bawah sadarku.

Fortunately, itu sangat kontras dengan penerjemahan stigma dan logika berpikirku, terlebih pada realitas keseharianku. Aku benar-benar lihai melakoni drama yang memang bergenre sengit dan nyaris sadis ini. Yah, sejauh ini … sepanjang perjalanan hidupku. Aku mampu meliuk-liuk memasuki tiap babak yang memang membuatku kehilangan kegemilangan dan gemerlapnya dunia “rilex”. Namun, tidak kehilangan pijakan kakiku. Tidak!

Aku selalu mampu menari bahkan dalam guyuran hujan air mata sekalipun. Yah, sejauh ini dan di hari-hari di masa depan. Ah, di sana aku pasti sudah tidak di titik yang kadang, sungguh … menyebalkan dan sedikit kejam ini. Mendamba adanya slide yang lebih rileks atau bahkan sedikit romantis, mungkin.

Liburan ke Hawai dengan bikini colourfull dengan motif sunflower seed berwarna dasar merah merona dan tentunya dengan kalung lei yang melingkar di leher—yang merangsang pria dengan semerbak aroma erotisnya, menikmati privat spa seharian dengan alunan musik Beethoven, membaca buku The Godfather sambil mengamati tiga malaikat cilikku bermain puzzle dengan manisnya—tanpa suara gaduh yang frekuensinya nyaris memasuki ambang batas ultrasonik. Mungkin, agar sedikit lebih rileks menenangkan bolus-bolus dalam otakku dengan nuansa melankolik yang dramatis, buku Sandra Brown akan menemaniku berjemur di tepian Pantai Kuta dengan betis dan punggung yang kian eksotis dan tentu saja dengan berat badan yang tetap pada skala ideal dan proporsional walaupun malam hariku aku tetap memilih kalori yang besar dalam porsi jumbo—it’s gonna be a part’f the world’s paradise.

Setiap orang sering berspekulasi dengan imajinasi untuk menikmati sensasi tersendiri dari self-recovering dan relaxing. Namun, bukan mengutuk fakta yang menghadirkan kebenaran hakiki. Terbang ke langit ketujuh. Relaksasi imaji penuh. Fantasi memenuhi langit-langit. Fantasmogaria ….

Aku terbangun, suara lolongan anjing tetangga menyadarkanku bahwa aku bangun tepat pada waktuku; 04.32 WIB alarm di meja mendeteksi lebih cepat untukku. Kuperhatikan ketiga kurcaci kecilku masih asyik dengan dengkurnya. Walaupun posisi mereka cenderung tak terkondisikan. Aku mencium si kecilku yang selalu tidur harus di sebelahku. Abang dan kakaknya harus mengalah dan memang sudah memahami itu. Mereka memang anak-anak yang manis. Aku mengucapkan sebait doa pembuka hari dan segera meninggalkan kamar dengan sangat hati-hati. Keremangan yang nyaris mendekati gelap-gulita memenuhi ruang tengah. Segera kuhidupkan lampu tangga. Menuruni tangga dengan langkah ringanku dan memasuki dapur. Mengisi penuh ceret air dan memasaknya. Segera kuambil semur ayam dalam kulkas yang tadi malam sudah kumasak komplit dengan irisan wortel dan kentang goreng di dalamnya. Aku memanaskannya dalam microwave dan naik kembali ke lantai atas—menjemur kain yang semalam sudah kugiling dalam mesin cuciku.

Jejeran kain memenuhi teras lotengku seolah menari salsa ditiup dinginnya udara subuh. Anak-anak memang sangat boros dalam hal berpakaian. Bunyi ceret segera memaksaku berlari menuruni anak tangga rumah mungil minimalisku. Tiga buah botol Tupperware segera kuisi penuh dengan guyuran air hangat. Menyiapkan bekal Duma, Stephan, dan juga bekalku. Mengiris buah naga ke dalam mangkok kecil untuk Duma—putri sulungku. Stephan tidak menyukainya sama sekali. Jadi dia kubuatkan jus pokat dan untukku juga. Segera bekal-bekal itu berjejer rapi di meja ruang tengah. Aku memeriksa kembali tas mereka berdua, memasukkan pakaian ganti dan mengecek semua tugas mereka. Kemudian aku menyiapkan pakaian dan botol susu untuk si kecilku, dedek Helen yang sekarang lebih suka dipanggil dedek cikeleta.

Kupasang lagu-lagu klasik Beethoven dan menari mengikuti iramanya, nyaris mendekati 05.00 WIB. Aku menyapu lantai rumahku seadanya. Ruang-ruang yang dulu sedikit sempit terasa lebih luas setelah aku benar-benar memilih mengakhiri pernikahanku dengan perceraian. Suamiku yang bekerja dengan mertua benar-benar tidak bisa menciptakan suasana kerja yang demokratis—cenderung melawan dan berjiwa labil. Dia akhirnya dibuang secara tidak langsung dari pekerjaannya dan menindihkan beban hidup hanya pada bahuku. Akhirnya, dia hanya bisa memasang prasangka buruk dan cenderung posesif, bahkan sedikit cemburuan setelah aku harus keluar rumah mencari penghasilan tambahan. Mengajar les tambahan. Dia benar-benar menyiksaku dengan perlakuannya yang suka mabuk dan mengunjungi pusat hiburan malam, bahkan kasar dan suka memukul. Perlakuan terakhirnya memantapkan langkahku menyudahi kisahku dengannya. Mengambil hak asuh penuh atas anak-anak dan keluar dari kungkungan jiwanya yang labil.

Kenangan yang membuat hari-hariku dulu sedikit kelam.

Kuguyur tubuhku dengan air dingin dan segera kunikmati shower time-ku tidak lewat dari sepuluh menit. Segera berpakaian dan kembali terbang ke lantai dua rumah mungilku. Membangunkan kurcaciku dan memboyong mereka ke lantai dasar—ke ruang tamu dengan siaran Upin-Ipin yang selalu ampuh membuka dan menyadarkan fokus kurcaciku dalam seketika. Mengguyur tubuh mungil mereka bergantian dengan air hangat yang sudah kusediakan sebelumnya.

Duma berpakaian mandiri, nyaris sempurna dan tak perlu koreksi dariku lagi. Dia sudah lihai dalam hal itu. Stephan harus kubimbing dan si bontot Helen harus benar-benar aku yang menyiapkannya. Syukurlah, sejauh ini tanpa rengekannya lagi. Waktu memang selalu menjadi guru terbaik.

“Mama … pensil hijau Kakak kok gak ada?” Duma memanggil kuat. Raut wajahnya muram dan tampak kejengkelan. Ia memoyongkan bibir mungilnya. “Kan, Kakak sudah bilang, barang Kakak jangan dipinjam Stephan. Ia suka teledor. Sangat teledor.” Ia mengomel sambil dengan cekatan menyusun kembali kotak pensil dan buku-buku yang sudah ia cek semalam. Masih banyak pilihan pensil yang bebas ia pilih nanti. Ia tak benar-benar kehilangan. “Ya sudah, pakai yang ada dulu, Sayang.” Aku melayangkan senyumanku padanya sambil dengan cekatan mengeringkan rambutku. Seragam Dinas Pendidikan Pemerintah Kota Pematangsiantar melekat dengan pas dan tampak membuat tubuh mungilku sedikit anggun. Ia mengangguk dengan enggan sambil memamerkan senyum sedikit bersalahnya.

Pemilik wajah mungil dengan mata bulat dan rambut hitam berkilau sebahu itu berjalan mendekatiku di dekat meja rias. Memperhatikanku memoles lipstick dan eyeshadow dengan cekatan. Ia tersenyum sambil meraih sisir, menyisir rambutnya. Tangan mungilnya tidak mencapai bagian belakang rambutnya dengan sempurna. Aku segera mengambil alih. Menyisir dan dia menyerahkan jepit rambut pink dengan motif bunga sakura besarnya. Kujepitkan dengan sekejap dan ia tersenyum puas. Kami tertawa lebar bersama. Masih ada 20 menit untuk kami bersiap sebelum berangkat. Segera Duma duduk menghadap sarapan yang sudah kusiapkan di atas meja makan. Bangun saat dunia masih lelap itu memang sudah jadi pola dalam siklus harian setiap pagiku. Nasi putih dengan brokoli dan semur paha ayam kesukaan trio kurcaci kecilku. Ia duduk dengan manisnya dan mulai menikmati sarapannya dengan mata sesekali menuju tayangan Upin-Ipin di TV. Segera kusuapi kedua adiknya dan semua kelar. Kuantarkan si dedek kecil ke rumah Oppung Juntak dan kami bertiga segera berangkat sekolah. Bedanya, Kakak Duma dengan Stephan belajar, aku akan mengajar. Itu saja.

Menjadi single parent sekaligus working mom benar-benar melatihku menjadi lihai bergerak cepat dan tanpa keluhan yang nyata. Tanggung jawab ini benar-benar membuatku bergairah. Bebas menikmati alunan menjadi seorang ibu sekaligus ayah yang manunggal. Aku benar-benar menemukan kenikmatan dalam kesibukan maksimal. Merdeka.

Setelah perceraianku, aku lebih fokus merawat anak-anak dan berat badanku bertambah. Aku berusaha mengendalikan psikologi anak-anak dengan menghabiskan waktuku bersama mereka, mengajak mereka liburan, berenang, mengikuti sanggar melukis dan bermain serta mengikuti les tambahan. Walaupun aku kesulitan finansial, tetapi jiwaku benar-benar merdeka dan anak-anak lebih bahagia, mereka bahkan tidak pernah harus rutin ke dokter lagi. Aku benar-benar menghirup oksigen kehidupanku. Walaupun aku harus bekerja bagai Unicorn yang persis kuda jantan, tetapi aku benar-benar menemukan esensi dan makna hidup yang benar-benar bergairah dan penuh kata syukur. Sayapku mengibar dalam alur pergumulan dengan gagah. Hidup memang adalah arena pergumulan, peranku adalah bermain dengan sempurna. Menumbangkan dalih, lelah, dan manja.

Dukungan penuh dari keluargaku menjadi tanda untukku bahwa Tuhan menyertaiku. Lewat perceraian yang kulewati aku memahami: pada dasarnya hidup perempuan adalah untuk berkorban, bahkan bisa lebih dari target hidup itu sendiri. Namun, jika hidup itu pun akan dikorbankan untuk kelaliman, haruskah perempuan bungkam dan menyerah pada kematian? Aku rasa, Sang Khalik pun akan berkabung. Aku adalah wanita yang menyelam di dasar semesta. Melebur. Namun, aku ingin terbang. Ingin mengukir gemintang malam. Membawanya pulang dalam dadaku dan menyusui semesta dalam kerlipnya. Aku mau dunia benar-benar gemerlap. Tawa ria di mana-mana. Wajah lepas. Tanpa kemelut. Tanpa dualisme sandiwara yang mengharuskannya tersenyum walaupun di dalam hancur lebur. Aku mau semesta merdeka; tanpa duka dan lara. Sebab hidup terlalu sempurna untuk dikungkung penderitaan. Bahagia adalah kemerdekaan setiap insan, terlebih perempuan.

***

Erlina Siahaan, seorang ASN yang berdomisili di Pematangsiantar. Penulis A Mural for Rain dan puluhan buku antologi bersama rekan penulis lain ini berusia 34 tahun dan juga seorang ibu tunggal atas tiga orang anak yang menjadi permata jiwanya. Baginya, menulis adalah sebuag self-healing dan resitasi untuk tetap mewaraskan nalar dan memerdekakan imaji.

4 komentar:

  1. Thankyou hehe. Lupa pernah nulis sebegini dalem hehee

    BalasHapus
  2. Mantul Kak Erlin. Aku mbayangin betapa hectic nya pagi hari si 'aku', yang mau tidak mau kebayangnya si 'aku' tuh Kak Erlin sendiri. hehehe
    Bahagia selalu Kak...

    BalasHapus

Back to Top