Jabat Tangan Lima Puluh Juta

Diposting oleh Label: pada

Oleh: Nio Zaharani

Napas Erka tersengal-sengal. Ia berdiri tegap menghadang seorang wanita cantik berbibir merah darah. Di belakangnya, seorang wanita muda berpakaian lusuh memeluk erat anak lelakinya. Mereka menggigil di tengah serakan buku-buku bekas. Erka melompat sambil berteriak menyambut serangan lawannya. 

Pergulatan tak terelakkan. Makhluk buas berwujud wanita cantik berpakaian mahal hendak memangsa Dariyah dan anaknya. Erka, gadis yatim piatu berambut sebahu, sudah menganggap mereka keluarga. Ia takkan membiarkan hal itu terjadi. Gang sempit di antara bangunan pertokoan berubah gaduh. Erka terpental berkali-kali. Tubuh kurusnya menghantami dinding. Namun ia bangkit lagi, meski cairan merah kental membuat mulutnya asin.

“Tinggalkan mereka!”

“Minggir kau! Aku kelaparan! Aku mau makan!”

“Bukankah kau punya banyak uang! Kenapa tidak beli saja daging segar di penjagalan!”

“Diam! Kau kira daging makhluk yang dimanja itu enak? Pahit! Daging dan darah mereka yang dirawat oleh penderitaan dan kesengsaraan, lalu dibumbui rasa putus asa, jauh lebih nikmat!”

“Cih!” Dahi Erka mengernyit. Ia sempat berpikir, mungkin dirinya juga akan dimakan suatu hari nanti. 

Di dunia yang dikuasai para monster kaya berpakaian mewah, daging dan darah rakyat miskin serta orang pinggiran adalah satu-satunya sumber kebahagiaan. Uang dan emas yang mereka timbun dan tumpuk seakan tak bernilai. Namun, mereka terus saja merampasnya. Tak menyisakan apapun kecuali daging tipis yang membungkus tulang dan darah yang akan mereka santap juga pada akhirnya. 

Mata sayu Erka menajam. Ia harus segera melumpuhkan monster itu secepatnya. Sebelum ia dan dua orang yang ia lindungi binasa. 

***

Amplop gajian bulan ini sudah di tangan. Erka meletakkan seragam karyawan toko kembali ke loker. Ia bergegas keluar dan mencari penjual mainan anak. Pilihannya jatuh pada sebuah bus merah berbahan plastik yang agak tebal. 

Langkah ringan mengantar sepasang kaki bersepatu hitam berlubang gadis itu menuju lapak buku bekas. Seorang wanita yang bernama Dariyah melempar senyum saat menyadari kehadiran Erka.

“Kak Erka!” 

Bocah lelaki muncul dari balik punggung Dariyah. Usianya genap enam tahun, tapi ia terlihat seperti balita; pendek dan kurus. Erka mengulurkan tangan, menyerahkan hadiah ulang tahun. 

“Uwaaa, terima kasih Kak Erka! Ibu lihat! Aku punya bus!”

“Nak Erka, maaf ya! Agum selalu merepotkanmu! Seharusnya uang itu kau tabung.” Dariyah membelai kepala Erka. 

“Menabung itu mudah, tapi punya adik angkat seperti Agum adalah anugerah,” kata Erka. “Ibu angkatku juga cantik!”

“Hei! Aku terlalu muda untuk jadi ibumu!”

Mereka tertawa. Suara kebahagiaan yang mereka keluarkan menarik perhatian seorang wanita yang baru keluar dari mobil sedan hitam berkilau. Ia melepas perlahan kaca mata hitam. Mencari sumber suara. 

“Kalian terlihat senang! Apa sudah mulai menikmati hidup?”

Kemunculan wanita kelas tinggi membuat tiga orang miskin itu terpaku. Lalu gemetar. Dariyah segera meraih putranya. Agum beringsut dalam pelukan sang ibu. Erka bangun dari duduk perlahan. 

“Mau apa kau?”

“Beberapa bulan ini aku sering bosan. Karena bosan aku jadi lapar.” Si wanita kaya mengelus perutnya yang ramping. “Tawa kalian terdengar renyah, pasti lezat. Izinkan aku merasakan kebahagiaan kalian yang kecil dan manis itu, ya!?”

“Pergi kau!” bentak Erka. “Kami bukan makananmu!”

“Kasar sekali! Aku hanya ingin merasa bahagia bersama kalian, kenapa malah diusir?”

“Bahagia? Lalu untuk apa semua hartamu? Bukankah kau bisa bersenang-senang dengannya?!”

“Huh, uang, ya! Aku agak menyesali masa lalu, tapi yang terpenting … adalah sekarang. Saat ini aku haus dan lapar.”

Wanita kaya nan cantik berderap maju. Erka segera menghalanginya. Gadis itu mengerahkan seluruh energinya menahan tubuh ideal wanita kaya. Ia mencengkeram kedua bahu berlapis kain sutra terbaik. 

Pergulatan panjang dan berdarah membuat Erka berhasil memojokkan si wanita kaya. Ia menekan kuat tubuh lawannya di lantai. Erka memang kurus. Namun otot yang membungkus tulangnya begitu padat dan kuat. 

“Aku tidak tahu siapa kau. Tapi aku tahu, dulu kau juga seperti kami. Ketamakan telah membuat manusia menjadi monster serakah yang selalu lapar!”

“Aku juga benci seperti ini!” teriak si wanita kaya. “Tapi, aku juga benci miskin! Aku hanya ingin bahagia!”

“Kalau begitu buang keserakahanmu!”

“Tapi aku tidak mau mati! Aku mau hidup!”

Erka geram dan kesal meladeni makhluk kelas atas ini. “Kau hidup untuk apa? Hah?” cibir Erka. 

Wanita tersebut berhenti meronta. Dalam hati kecilnya, dia ingin merasakan kebahagiaan dan ketenangan seperti masa lalu. Sebelum ia berkubang dalam kemewahan dan hingar bingar lampu sorot. 

“Apa gunanya hidup jika hanya untuk menikmati jeritan orang lain? Apa gunanya hidup untuk menghisap arwah orang lain? Apa gunanya hidup hanya untuk menjilat tetesan darah orang lain?” seru Erka geram. 

“Aku … ingin tertidur di bangku taman bunga sambil mendengar gemericik air mancur. Dibangunkan hangatnya cahaya mentari. Lalu menghirup harumnya bunga yang mekar. Apa … aku bisa merasakan kebahagiaan sederhana itu lagi?” Netra wanita itu bergetar, seolah ada bulir bening yang akan mengalir. Tapi tidak ada. Para monster tidak bisa menangis. 

“Entahlah! Aku belum pernah membaca tentang kebangkitan kedua.”

Wanita itu mengulurkan tangan kanan. “Jabat tanganku, dan bebaskan aku, Gadis Kumuh!”

Erka beranjak dari posisinya yang menindih si wanita kaya. Wanita itu pun duduk bersimpuh menghadap gadis berpakaian katun murah. Telapak tangan mereka bertemu. Jempol wanita itu menekan celah antara jempol dan telunjuk Erka, lalu timbul tinta hitam di sepanjang kulit jempol si wanita. Bertuliskan ….

“Lima puluh juta?” tanya Erka heran. 

“Iya. Ini adalah nominal saat aku menjual jiwaku pada harta. Kini akan kubayar padamu sebagai ganti kebebasanku. Lakukan persis sepertiku!”

Erka pun menekan celah antara jempol dan telunjuk si wanita kaya. Perlahan namun pasti, tulisan itu bergerak, berpindah ke kulit jempol Erka. Bersamaan dengan peristiwa itu, tubuh si wanita berubah menjadi abu yang melayang, terbang dan lenyap di angkasa. 

Erka masih tertegun menyaksikan apa yang ia baca di buku selama ini ternyata benar. Semua nyata. 

“Erka,” panggil Dariyah. “Akan kamu apakan uang sebanyak itu?”

“Aku tidak tahu, Bu.”

Semoga saja nominal ini tidak mengubahku menjadi monster. Batin Erka. 

***

Mentari bersinar hangat. Cahayanya menyilaukan pupil yang tertutup kelopak mata. Seorang wanita bangkit dari tidurnya di sebuah bangku taman. Jaket hijau kumal membungkus tubuhnya yang kurus. Sudut bibirnya tertarik ke atas, menciptakan lengkungan indah di wajahnya yang cantik. Telinganya fokus mendengarkan irama tetesan air yang timbul tenggelam. Hidung dan paru-parunya sibuk menikmati keharuman bunga yang baru mekar. 

“Aku … hidup.”[]

***

Nio Zaharani anggota ODOP batch 7 tinggal di Nganjuk, Jawa Timur. Akun media sosial: Fb (Nio Zaharani), Ig (@nioz19). Bergiat pula di Komunitas Pegiat Literasi Nganjuk (Kopling).

2 komentar:

Back to Top