Pelarian

Diposting oleh Label: pada

Oleh: Anisa Sustianing

“Mbak ... minta sedekahnya,  Mbak ....” 

Kuangkat kepala dan menghapus tetesan air dari pipi. Sedikit terkejut menyadari lelaki paruh baya berbaju dekil dan menggunakan tongkat sudah berada di hadapanku. Tanpa menunggu lama, kubuka saku depan tas. Selembar pecahan dua ribuan kuulurkan ke tangannya. 

“Terima kasih, Mbak.”

Lelaki tersebut tampak heran melihat mata sembabku, namun tak kuhiraukan tatapannya. Seperti halnya tak kuhiraukan tatapan orang yang berlalu lalang di terminal ini.  Kulihat jam di layar ponsel, sepuluh menit lagi bus yang akan kutumpangi berangkat. Sudah kubulatkan tekad untuk pergi. Pergi ke mana pun asal hilang dari pandangan mereka yang mengenalku. 

Ayah ... Ibu ... maafkan Mira. Tak terasa air mata kembali menggenang. Sedih, galau, takut, bercampur menjadi satu. Aku tak tahu apakah yang kulakukan benar atau salah. Yang kupikirkan sekarang hanya ingin orangtuaku tidak mengetahui apa yang telah terjadi.  

Bayangan peristiwa dua tahun lalu yang menimpa Tuti, tetanggaku, kembali melintas. Saat itu aku begitu ketakutan melihat keributan yang terjadi. Tuti diamuk dan ditampar sekuat tenaga oleh ayahnya karena hamil di luar nikah. Tuti yang masih terhitung saudaraku hamil karena pergaulan yang sangat bebas. Bahkan, ibunya sendiri bangga karena anaknya memiliki banyak teman. 

“Kamu jangan kayak Tuti, ya, Nak.  Biarlah kamu dikatakan kuper, pergaulan di luar sana sangat berbahaya kalau nggak pandai jaga diri.” Masih terngiang nasihat Ibu kala kami mendengar keributan itu. Aku tahu Ibu pun sangat terkejut dengan apa yang terjadi. 

“Iya, Bu,” jawabku singkat. 

“Kalau sampai kamu hamil di luar nikah, itu sama saja kamu menimpakan kotoran ke muka Ibu,” kata Ibu kemudian. 

Sungguh, kalimat yang selalu terngiang. Aku yang kala itu merasa benar-benar menjadi anak rumahan tidak terlalu terbebani dengan pesan ibuku. Hal yang pasti bisa kuhindari, karena berteman dekat dengan laki-laki pun tidak. Apalagi sampai melakukan pergaulan bebas.  

Ah, tapi itu dulu. Kini semuanya telah berubah ketika aku mulai bekerja selepas SMA. Ijazah SMA yang kupunyai hanya bisa mengantarkanku bekerja di sebuah pabrik, sebuah industri kecil di kota kecamatan. Perjalanan pulang pergi ke tempat kerja membuatku sering berinteraksi dengan banyak orang. Termasuk seorang lelaki yang cukup sering kutemui di lingkungan tempat kerja. Hingga hubungan itu tercipta ....

“Ayo naik! Naik! Naik ...!” Lengkingan suara kondektur bus menghentikan lamunan.  

Segera kuberanjak dari bangku kayu yang sedari tadi kududuki. Kulangkahkan kaki menuju armada bus AKDP kelas ekonomi yang baru pertama kali kunaiki ini. Beberapa orang yang masih sibuk membeli penganan di warung makan buru-buru menyelesaikan transaksinya. Ada pula yang baru selesai mendapatkan tiketnya dan segera mengisi bangku kosong di angkutan ini. Suasana khas terminal yang sebenarnya sangat asing bagiku, namun kali ini terpaksa kujejakkan kaki di tempat ini. 

Perlahan bus meluncur meninggalkan terminal. Aku harap dengan menaikinya aku bisa meninggalkan semuanya. Semua hal yang tak ingin kuhadapi.  

Kupejamkan mata berusaha menguatkan diri. Bayangan Ayah, Ibu, dan semua keluarga membuat dadaku kembali sesak. Apakah mereka akan mencariku? Aku sang putri kesayangan yang mereka anggap gadis kuper telah melakukan dosa besar. Perbuatan yang mungkin membuat mereka tidak akan percaya jika aku telah melakukannya.

Cih, kemana laki-laki itu? Kemana dia yang telah menanamkan benih di rahimku?

Marah, benci, dan dendam seketika memenuhi jiwaku mengingat wajah lelaki itu. Dia yang selalu mendekatiku ketika jam istirahat kerja. Begitu lihainya dia melakukan berbagai cara untuk mengakrabkan diri. Hingga kebiasaan bertemu membuatku sedikit luluh. Perasaan yang awalnya sebal menjadi terbiasa dengan kehadirannya. Hatiku pun sedikit memiliki rasa simpati kepadanya.

Dua tahun terbiasa bertemu membuatku bergantung kepadanya. Dia yang selalu ada ketika aku membutuhkan bantuan. Dia bagaikan malaikat penolong yang selalu bisa diandalkan. Aku terperdaya rayuannya, padahal aku tahu dia lelaki beristri.  Kami menjalin hubungan terlarang, hingga suatu hari aku menyerahkan mahkota paling berhargaku. Tetapi, untuk meminta pertanggungjawabannya, aku tak sanggup. Aku tak mau merusak rumah tangga orang lain karena kebodohanku ... bermain api. 

“Mau kemana, Dek?” Wanita di sebelahku membuka percakapan.

“Ke rumah saudara, Bu,” jawabku asal. Ah, lagi pula saudara siapa? Aku bahkan tak tahu harus kemana.

“Rumah saudaranya di mana?” lanjutnya kemudian.

“Di ... di ....” Aku tak kuasa melanjutkan ucapan. Kembali perasaan sedih, galau, dan takut menyerangku. 

“Sepertinya kamu sakit, Dek. Wajahmu pucat.” 

Sebuah senyum kucoba gariskan untuk menyembunyikan air mata yang hendak menetes kembali. Dalam hati aku pun lega karena tidak perlu mengarang jawaban kepadanya. 

Bus terus saja meluncur membelah jalanan. Berbagai pemandangan telah silih berganti dilalui. Persawahan, rumah penduduk, pasar, perkebunan kelapa, hingga area pemakaman. Beberapa kali terhenti ketika para penumpang turun di tempat tujuan mereka. Ah, sial. Rasanya penyakit lamaku kambuh. Panas dingin melanda tubuh, keringat mengucur dengan deras, air liur terasa asam, dan sepeti ada yang hendak keluar dari perutku.

“Bang! Aku turun di sini!” Aku bangkit berdiri dan setengah berteriak memberi instruksi kepada kernet bus. 

“Nggak salah, Neng? Di sini mana ada rumah?” 

“Nggak, Bang. Bener, aku mau turun di sini.”

Kernet bus pun memberi isyarat kepada supir untuk menghentikan laju bus. Aku segera melompat dari bus. Seketika kumutahkan segala isi perut, menuntaskan mabuk perjalanan yang melanda. Hingga tak kusadari di mana kini berada. Kuedarkan pandang ke sekeliling, hanya ada pepohonan yang berputar. Terus berputar, dan akhirnya, hanya gelap yang kulihat.

***

“Kamu sudah sadar?”

Sayup-sayup kedengar suara di sampingku. Siapa yang menyapaku? Susah payah kucoba menstabilkan posisiku, mengingat-ingat apa yang terjadi. Perlahan kubuka mata dan menoleh ke sumber suara. Sepertinya aku pernah melihatnya.

“Aku orang yang duduk di sampingmu ketika di bus tadi.” Wanita itu seperti tahu apa yang kupikirkan.

“Oh, Ibu. Kenapa aku bisa ada di sini?” tanyaku, “Dan kenapa Ibu ....”

“Ini rumahku, dan aku yang membawamu ke sini.” 

Aku tak bisa melanjutkan kata-kata. Kurasakan tubuhku sangat lemah. Wanita di depanku bangkit berdiri. Diambilnya satu strip obat dari sebuah lemari di sudut ruangan, dan segelas air dari dispenser di samping lemari. Tak berapa lama, ia berjalan ke arahku dan memberi isyarat agar meminumnya. 

Sedikit ragu aku menerima, namun tak segera meminumnya.

“Kenapa? Kamu dehidrasi dan wajahmu sangat pucat. Atau ada hal lain yang kamu rasakan?” tanyanya melihat reaksiku, “Jangan khawatir, aku ini dokter.”

Kupandangi ruangan yang berwarna serba putih ini. Nampaknya benar dia seorang dokter, ruangan tempatku berada adalah ruangan praktiknya di rumah. Darinya kutahu kalau aku pingsan di pinggir jalan setelah mabuk. Dia mengikutiku turun, beberapa meter setelah aku turun dari bus.

“Namaku Sarah, siapa namamu?” lanjutnya.

“Mira.”

“Nah, Mira, istirahatlah sebentar, aku ada urusan sebentar.”

Kucoba untuk duduk. Dalam hati aku bersyukur, ada orang baik yang peduli padaku. Apa jadinya jika tidak ada yang menolongku. Bodohnya aku tidak berpikir panjang, hanya ingin melompat dari bus saat mabuk perjalanan tadi. Perlahan aku beringsut ke pinggir ranjang, mencoba turun, dan berjalan untuk ke luar ruangan. 

Dengan hati-hati kubuka gagang pintu. Rupanya aku berada di sebuah klinik mungil yang terpisah dari rumah utama. Antara rumah dengan klinik hanya berjarak sebuah taman kecil. Aku sama sekali tak mengenal tempat ini, rasanya sudah terlalu jauh aku pergi dari tempat asalku. 

Ayah ... Ibu ... nyata sudah Mira pergi jauh. Tak kukira, kekhilafanku berbuah kesengsaraan. Seandainya saja aku tidak hamil, aku tidak perlu kabur dari rumah seperti ini, terpisah dari orangtua. Padahal, aku ada adalah si bungsu yang paling disayang oleh mereka. Aku tak bisa membayangkan reaksi Ibu kini, menyadari aku telah pergi dari rumah.

***

Dua minggu sudah aku berada di rumah Bu Sarah. Rumah yang tidak terlalu besar, namun lengkap dengan fasilitas. Bu Sarah hanya tinggal bersama dua orang anaknya dan seorang pembantu rumah tangga. Wanita yang masih terlihat cantik sekalipun tidak lagi muda itu selalu berangkat bekerja dan hanya berada di rumah saat malam. Sedangkan anak-anaknya tidak berbeda jauh darinya, berangkat pagi dan pulang di sore hari karena sibuk les tambahan. 

Bu Sarah orang yang sangat baik, rendah hati, dan low profile. Padanya kuceritakan keadaanku, dan dia bersedia menerimaku hingga semuanya kondusif. Sejauh ini aku belum melihat suaminya. Menurut penuturan pembantu, suaminya mengurusi kerja sama bisnis di luar kota. Biasanya dua minggu sekali pulang ke rumah. Aku sendiri tak mau tahu, karena itu bukan urussanku.

Pintu gerbang terbuka saat aku sedang berada di halaman rumah bersama Bu Sarah, menikmati suasana sore. Sebuah mobil yang tak pernah kulihat berada di rumah ini, bergerak memasuki halaman.  

“Eh, itu Papa udah pulang.” Bu Sarah terlihat riang menyambut kedatangannya. 

Seorang lelaki keluar dari dalam mobil. Kurasakan jantung berdebar melihat sesosok tubuh itu. Hanya beberapa detik kemudian, wajahnya dapat kulihat. Dunia seakan berhenti berputar ketika pandangan mata kami bertemu. Dia, orang yang sama yang membuatku pergi dari rumah. 

Selanjutnya,  hanya gelap yang bisa kulihat. 

Tuhan ... kemanakah aku harus pergi lagi?  

***

Anisa Sustianing anggota ODOP Batch 7 tinggal di Pemalang, Jawa Tengah

3 komentar:

  1. Omg keren sekaleeeπŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ€—

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih apresiasinya Mbak Erlina 😊

      Hapus
  2. Berharap melarikan diri dari masalah, malah melarikan diri ke sumber masalah, keren Mbak Nisa aku cukup surprise dengan endingnya.

    BalasHapus

Back to Top