Keindahan Goa Gong yang Memesona

Diposting oleh Label: pada

Oleh: Rusmiyati

Pesona Indonesia memang tiada duanya. Jajaran kepulauan dari Sabang sampai Merauke sungguh menawarkan keindahan yang memanjakan mata. Untuk itu, kita patut bangga dan bersyukur dengan cara menjaga dan melestarikan apa yang sudah alam sediakan untuk kita.

Keunikan Goa Gong

Dari sekian banyak keragama keindahan alam Indonesia, gua adalah salah satu destinasi yang menarik untuk dijelajahi. Sebab, selain memiliki keunikan dan juga banyak menyimpan misteri, tempatnya yang gelap dan menjorok ke dalam bumi membuat gua menarik untuk dikunjungi.  Menjelajah gua juga akan mengobati rasa penasaran, sehingga menjadi petualangan yang berkesan dan sulit untuk dilupakan.



Berbagai jenis gua banyak tersebar di pelosok negeri ini. Namun, ternyata ada sebuah daerah yang dikenal dengan sebutan kota 1001 gua. Sebutan itu bukan hanya sebuah jargon. Kenyataannya, di wilayah paling timur Pulau Jawa, tepatnya di daerah pesisir pantai Jawa Timur, memang banyak ditemukan gua.  Salah satu yang tersohor adalah Goa Gong. Goa Gong terletak di wilayah Pacitan. Medannya merupakan pegunungan kapur yang gersang dan tandus. Meski begitu, keindahan pantai dan pesona bawah tanah di Pacitan tak perlu diragukan lagi.

Goa Terindah Se-Asia Tenggara

Perlu diketahui, Goa Gong ini digadang-gadang sebagai gua yang paling indah se-Asia Tenggara. Goa ini telah banyak dikenal oleh wisatawan baik wisatawan domestik yang berasal dari dalam negeri maupun wisatawan mancanegara yang berasal dari luar negeri. Dari namanya yang unik, Gong, memang bukan tanpa alasan. Hal ini karena di dalam gua tersebut, ada sebuah batu besar, yang apabila dipukul, maka akan mengeluarkan suara seperti bunyi gong, sebuah alat musik tradisional yang merupakan bagian dari gamelan. Sehingga pada akhirnya gua tersebut diberi nama Goa Gong.

Lokasi Goa

Goa Gong berada di Dusun Pule, Desa Bomo, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Berjarak 37 km ke arah barat (arah Wonogiri) dari pusat kota.


Rute untuk Mencapai Goa

Untuk pengguna kendaraan umum, jangan khawatir karena tersedia travel dan bus umum yang  mengantar ke sana. Dari arah Yogyakarta, rute pertama adalah menuju Gunung Kidul. Dari Gunung Kidul perjalanan dilanjutkan ke arah Wonogiri  melalui jalur Pracimantoro hingga sampai Pacitan. Sebelum memasuki Kota Pacitan, di sepanjang jalan dapat ditemui beberapa markah jalan menuju Gua Gong.

Jalur darat lainnya bisa ditempuh bagi mereka yang berasal dari Solo, yaitu melalui Batu Retno.



Sedangkan pengunjung dari Surabaya bisa melalui Nganjuk, Madiun, lalu lanjut ke arah Ponorogo, hingga sampai di Pacitan. Bisa juga sebagai alternatif, melalui Kediri dan Trenggalek. Rute terakhir ini lumayan panjang sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama. Namun begitu, sepanjang perjalanan, pengunjung akan disuguhi keindahan pantai yang membuat perjalanan menjadi lebih menyenangkan.

Petualangan Dimulai

Sampai di tujuan, saat memasuki Goa Gong, pengunjung akan disambut oleh stalaktit yang mengagumkan. Stalaktit adalah batuan yang menggantung di atap gua, berbentuk lancip mengarah ke bawah, dan stalakmit yaitu batuan di dasar gua, berbentuk lancip mengarah ke atas, yang terbentuk secara alami dengan sangat indah. Pengunjung akan dipandu oleh penerangan yang telah disediakan untuk dapat masuk lebih dalam dan menyusuri lorong gua sepanjang 256 meter. Di dalam gua terdapat beberapa ruangan, diantarnya adalah ruang Sendang Bidadari, ruang Bidadari, ruang Kristal dan Marmer, ruang Pertapaan, dan ruang Batu Gong.

Di ujung lorong, ada sebuah ruangan yang membentuk kubah rakasa sepanjang 100 m, dengan lebar 15 hingga 40 meter, dan tinggi antara 20-30 meter yang akan membuat decak kagum pengunjung. Stalaktit dan stalakmit dengan bentuk dan ukuran yang beraneka macam menghiasi seluruh penjuru ruangan. Beberapa dari stalaktit dan stalakmit tersebut  di antaranya diberi nama Selo Jengger Bumi, Selo Pakuan Bomo, Selo Bantaran Angin, Selo Citro Cipto Agung, Selo Adi Citro Buwono, dan masih banyak nama yang lainnya.


Keindahan bentuk dari stalaktit dan stalakmit yang dipadu dengan permainan lampu warna-warni yang begitu menawan dan menyoroti ruangan dan batuan, menambah gemerlap dari stalaktit dan stalakmit.Tak hanya itu, gemiricik air dari berbagai penjuru ruangan menjadikan suasana terasa berada di negeri dongeng. Semua kesyahduan itu membuat pengunjung akan merasa nyaman berlama-lama di dalamnya.

Selain keindahan stalaktit dan stalakmit yang menghiasi ruangan gua, ada juga mata air (sendang) yang menurut penuturan warga sekitar memiliki kekuatan magis menyembuhkan beragam penyakit  bagi mereka yang mempercayainya. Mata air itu antara lain bernama Sendang Jampi Rogo, Sendang Panguripan, Sendang Relung Jiwo, Sendang Kamulyan, dan Sendang Relung Nisto.

Butuh waktu sekitar dua jam untuk menjelajahi seluruh lorong dan bagian dalam gua. Rasa lelah akan hilang kala pengunjung menikmati pemandangan dalam gua. Sarana dan prasarana seperti tangga, pagar pengaman, penerangan, dan kipas angin untuk keamanan dan kenyamanan pengunjung, semuanya telah disiapkan oleh pihak pengelola gua.

Harga Tiket Masuk

Tidak perlu bayar mahal untuk bisa memasuki dan menikmati keindahan dari Goa Gong ini. Biayanya hanya Rp5.000 untuk anak-anak, Rp10.000 untuk tiket dewasa pada hari biasa, dan Rp12.000 untuk orang dewasa ketika weekend. Disediakan pula senter yang disewakan seharga Rp5.000, serta jasa guide seharga Rp30.000. Goa Gong buka mulai jam 9 pagi hingga 5 sore.


Fasilitas

Berbagai macam fasilitas sudah tersedia di sekitar area wisata ini seperti musala, rumah makan, hingga toilet. Semuanya ada untuk memberikan kenyamanan pada para pengunjung ketika sedang berwisata di sekitar area Goa Gong. Selain itu, banyak sekali pedagang di area wisata Goa Gong yang menjajakan buah tangan khas Pacitan, seperti souvenir berupa batu akik, makanan khas, hingga fashion dan aksesori lainnya.

Tips Berkunjung

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat mengunjungi Goa Gong. Yang paling utama adalah persiapan fisik. Karena sebelum mencapai Goa Gong kita harus berjalan dengan jarak yang lumayan panjang. Selain itu, untuk mengkesplorasi keindahan Goa Gong, yang harus dilakukan selanjutnya adalah meniti tangga yang jumlahnya tidak sedikit.

Kita juga harus tetap berhati-hati ketika berjalan menyusuri ruang gua. Karena meskipun telah dibekali dengan fasilitas yang baik, seperti tangga dan pagar pembatas untuk pegangan, tapi air yang menetes dari gua tersebut membuat jalanan menjadi licin. Selain itu, jangan sembarangan memegang, bahkan mengambil batuan stalaktit atau stalakmit yang ada di dalam gua, karena selain  bisa merusak pertumbuhan dari stalaktit dan stalakmit tersebut, juga akan berefek buruk kepada keindahan gua.

Sejarah Gua

Sekelumit cerita yang beredar dari warga sekitar, bahwa Goa Gong ditemukan sekitar tahun 1930-an. Dulu sekali, saat musim kemarau yang berkepanjangan, Pacitan mengalami kekeringan parah, sehingga sangat sulit untuk memperoleh air. Kondisi tersebut memaksa dua orang warga bernama Mbah Noyo Semito dan Mbah Joyo mencari sumber mata air hingga mereka menemukan sebuah lubang dan langsung berinisiatif untuk menelusurinya. Dengan berbekal obor, mereka menyusuri lorong-lorong yang ternyata sangat dalam hingga keduanya menemukan mata air. Sejak saat itu, warga berbondong-bondong memanfaatkan mata air yang ada di gua tersebut.

Akhir Kata

Penting untuk diingat bahwa janganlah sekali-kali mengotori lingkungan sekitar gua maupun sendang (kolam) yang berada di dalam gua tersebut dengan sampah atau berbagai coretan yang akan merusak. Hal ini dimaksudkan agar kelestarian lingkungan gua tersebut tetap terjaga dengan baik. Jadilah wisatawan dan pengunjung yang bertanggung jawab, karena kelestarian lingkungan dan alam ini akan diwariskan kepada anak cucu kita kelak.

Rusmiyati anggota ODOP Batch 7. Lahir di Blora tanggal 10 September. Menyelesaikan pendidikan S1 Akuntansi UNJ, S1 PGSD UMJ, dan S2 Pendidikan IPS di Universitas Indraprasta Jakarta. Mulai mengajar sejak tahun 2001. Sebagai ibu dan guru pembelajar, ingin sekali berbagi ilmu dan pengalaman melalui tulisan. FB: Rusmiyati, IG: bu.rusmi, Blog: gurumandiri.blogspot.com.
Posting Komentar

Back to Top