Escape in Malang City

Diposting oleh Label: pada

Oleh: Winarto Sabdo

29/06/2019

(06.17)
Terlalu pagi untuk memulai melakukan aktivitas, ini bukan kebiasaan sehari-hariku. Seperti telah mendapatkan suntikan vitamin dan suplemen, tubuhku rasanya lebih segar dari biasanya. Ini adalah suntikan motivasi untukku, karena aku akan pergi ke Kota Malang hari ini. Bertemu rekan-rekan lainnya di sana, untuk menghadiri, serta mengikuti Musyawarah Nasional One Day One Post (Munas ODOP).

(06.40)
Mempersiapkan kebutuhan mamiku selama kutinggalkan, dan kusempatkan untuk menanak nasi di magic jar, dan membuat sambal goreng kesukaannya. Setelah itu, perasaan lega meninggalkan orangtuaku satu-satunya itupun menguat.

(08.20)
Cek WhatsApp Group, dan beberapa chat lainnya, untuk memastikan diri tentang lokasi tujuan. Seperti yang sudah disampaikan Heru Sang Mahadewi, titik kumpul adalah di Amalia Residence, Oro-oro Dowo, Malang. Plus membaca ulang rute yang dia sampaikan tadi malam, yaitu dari terminal bus Nganjuk menuju terminal bus Jombang, kemudian dilanjutkan (oper bus) menuju ke terminal Malang. Sangat mudah diingat, ataupun dilakukan.

(09.10)
Berangkat dari rumah menuju terminal bus Nganjuk, menggunakan jasa Grab, sang ojek online. Berbiaya setara sebungkus rokok medium class, Rp18.000. Oleh karena pengojeknya sangat sopan, dan membawa kendaraannya dengan baik, maka aku memberinya ongkos Rp20.000, tanpa meminta kembalian padanya. Bus yang kutumpangi kebetulan tidak ngetem, jadi bisa langsung berangkat menuju terminal Jombang.

(09.14)
Sampailah di tujuan pertamaku, seperti petunjuk dari Heru Sang Mahadewi, aku berganti bus untuk menuju Malang. Nah, ini masalah pertama dalam perjalananku ini. Bus tidak berangkat berdasarkan pengaturan jam trayek seperti biasanya, tapi nunggu penumpangnya memenuhi target. Busnya memang sudah diusir keluar terminal oleh petugas, tapi kemudian kembali ngetem di luar.

(09.45)
Barulah sang sopir terketuk hatinya untuk memberangkatkan bus, setelah terdengar rengekan anak balita dari salah seorang penumpang. Alhamdulillah, akhirnya kendaraan itu melaju meninggalkan kota ke arah selatan, ke arah Malang.

Baru saja menyandarkan kepala di sandaran jok, tiba-tiba bus terjebak kemacetan parah di pinggiran Kota Jombang. Tepatnya di depan Pondok Pesantren Tebu Ireng, bus benar-benar hanya bisa merayap, karena sedang berlangsung acara (mungkin) Penyambutan Siswa/Santri baru di sana. Bayangkan, jarak 10 kilometer ditempuh dengan waktu rayap 45 menit. Sedang jarak Jombang dengan Malang sekitar 60 kilometer, melewati jalanan hutan dan perbukitan, banyak turunan dan tanjakan, belum lagi waktu untuk naik turunnya penumpang di sepanjang perjalanan. Estimasi sopir setelah kutanyakan padanya, adalah butuh waktu sekitar 3 jam untuk sampai ke terminal Malang.

Rasa tegang, dan kurang nyaman mulai menyerang ketenanganku. Pada situasi normal saat ini, sopir membutuhkqn waktu tempuh 3 jam. Itu belum termasuk, jika tiba-tiba ban kendaraan itu kempes, atau bocor di jalan. Aku mulai menghitung kemungkinan itu terjadi, dan beberapa (mungkin) kendala lainnya.

Untunglah, panorama alam yang indah di sepanjang perjalanan, dapat sedikit mengurangi keteganganku di sana. Apalagi saat bus mulai masuk wilayah Batu, rasa kantuk pun segera sirna, karena terpesona dengan banyaknya destinasi wisata, yang dalam hati aku berjanji untuk kembali mendatanginya.

(13.40)
Akhirnya, bus sampailah di Terminal Landungsari Kabupaten Malang. Rasa senang dan bahagia, seakan mengguyur rasa tegang, panik, dan kelelahan yang kualami. Alhamdulillah, matur suwun Gusti Allah.

Turun dari bus, segera aku mencoba mengikuti obrolan di grup WhatsApp. Terbaca di sana, beberapa orang sedang berada di Boba Library. Bahkan, seorang teman memposting alamat tempat maksud. Segera kucari di peta Grab tentang tempat itu, dan memang ada. Rasa syukur kembali terucap, barulah teringat perut rasanya sudah mengirim sinyal pada otakku semenjak sejam yang lalu. Dengan mantap aku memesan semangkuk bakso di area Terminal Landungsari, seporsi Rp20.000 terlalu mahal bagiku. Karena di desaku, menu bakso yang hampir sama dengannya hanya dijual Rp.5000 saja.

(14.11)
Aku memesan ojek online lagi menuju Boba Library, tempat teman-teman lainnya sudah berkumpul. Tetapi sayang, Grab tidak mengambil penumpang di dalam area terminal. Akhirnya aku memutuskan untuk keluar, dengan beban tas punggung yang semakin terasa berat. Saat sudah di luar terminal, aku coba mencari ojek online lagi. Celaka, battery low. Aku segera bermaksud mengeluarkan kabel USB dan power bank dari dalam tasku, astaghfirullah! Ternyata aku tidak membawanya, malah kabel headset terbawa dua.

Berlari aku menyeberangi jalan, kebetulan ada sebuah counter HP di sana. Membeli satu set kabel untuk men-charge gawai itu, lalu menunggu sesaat untuk menambah energinya agar bisa digunakan beraktivitas.

Syukurlah, seorang pengemudi Grab menyambut panggilanku dengan segera. Itu adalah lima menit yang terasa sangat panjang, karena di saat yang sama... aku sedang menahan keinginan untuk buang air kecil. Biaya tertera Rp14.000, menuju perpustakaan pribadi tempat teman-teman berkumpul saat itu. Tidak masalah, yang penting bisa segera bertemu teman-teman, dan membuang limbah air dari dalam tubuhku itu. Saat itu terdengarlah suara azan, entah dari masjid, atau surau sebelah mana.

(15.24)
Kuputuskan meminta pertolongan lagi kepada Grab, kembali ke lokasi yang sama dengan biaya berbeda Rp16.000. Sampai di Terminal Landungsari, segera beberapa orang kujapri, menanyakan lokasi sesungguhnya dari perkumpulan ODOP-ers itu. Bahkan menjapri beberapa teman, yang mungkin tahu-menahu tentang lokasi di Malang itu.

Seorang wanita yang sangat kelihatan jika keturunan Madura--- dari bahasanya, coba kuajak berdialog. Dia sedang menunggui dagangannya, di samping pick-up putih yang penuh buah-buahan.

"Maaf, Mbak. Sampeyan tahu daerah Awar-awar Ombo?" tanyaku padanya, setelah meyakinkan diri untuk langsung ke penginapan saja.

"Awar-awar Ombo, daerah Malang mana itu Mas?" dia menjawabku, dengan mimik muka yang sama bingungnya denganku.

Barulah teringat pesan WA dari Heru, maksudnya ingin kubacakan pada wanita 30 tahunan itu. Astaghfirullah! Ternyata bunyinya Oro-oro Dowo, bukan Awar-awar Ombo. Maka segera kusebutkan alamat yang benar itu kepadanya, dengan menahan senyum dia menjawab, "Ah, tadi tanya Awar-awar Ombo saya gak ngerti Mas. Nah kalau Oro-oro Dowo, saya tahu! Itu, di Kotamadya Malang letaknya."

Aku sangat terkejut, begitu menyadari kebodohanku yang satu ini. Baru ingat, wilayah Malang memang dibagi dalam tiga zona administratif; Kotamadya Malang, Kabupaten Malang, dan Kotamadya Batu.

Dan dari keterangan si Mbak, saat itu aku sedang berada di Kabupaten Malang. Olehnya aku dianjurkan naik Lyn seri ALP, yang akan melewati Terminal Arjosari Kotamadya Malang. Setelah aku tunjukkan lagi pesan WA Heru, tentang alamat penginapan.

Boba Library terletak di jalan Ir.Soekarno, bukan merupakan tempat yang sulit untuk ditemukan. Beberapa menit kemudian, sampailah ke tempat itu. Tetapi, tak satupun terlihat kegiatan apapun di sana. Tidak tampak adanya kegiatan literasi, hanya kulihat seorang pemuda dari Timur duduk di sana, sedang merayu kekasihnya yang juga berkulit hitam. Akhirnya sampailah aku pada satu keputusan, bukan ini tempatnya.

Aku segera masuk kembali ke grup WA, sudah tidak ada aktifitas chating di sana sejak setengah jam yang lalu.

(16.17)
Meninggalkan area Landungsari, menuju Arjosari. Dari Kabupaten Malang, menuju Kotamadya Malang. Yang saat itu jalannya macet parah, selain karena malam liburan, Arema (Tim Sepak Bola Kabupaten Malang) juga akan menjamu tim tamu, di stadion Gajayana yang juga merupakan jalur kendaraan yang kutumpangi itu. Terjebak macet lagi, dan yang ini cukup parah.

(17.02)
Sampailah di pintu depan Terminal Arjosari Malang Kotamadya Malang, dengan ongkos yang sangat murah Rp5.000 saja. Segera aku menghubungi Grab, yang seakan sudah menjadi keluarga baruku di Kota Malang ini. Kali ini tujuanku adalah Amalia Regency, seperti yang Heru kirimkan alamatnya padaku via WA pagi tadi.

Aneh, peta Grab tak satupun bisa menganalisa tujuan yang aku sampaikan dalam pencarian itu. Tidak ada Amelia Regency di Oro-oro Ombo, malah diarahkan pada destinasi yang lain di tempat yang sama.

Astaghfirullaahal adziim! Cobaan apa yang sedang engkau timpakan padaku, ya Allah! Seruku dalam batin. Sekujur tubuh sudah terasa lunglai, lemas, letoy, dan apapun istilahnya untuk menggambarkan kondisi 'lelah lahir bathinku' itu. Saat itulah emosionalku mulai terpompa, aku merasa Heru sudah menyesatkanku dengan informasinya.

Aku segera menjaprinya lagi, tidak banyak kata yang kutuliskan. Jempuuuuuttt! Atau aku pulang kembali ke Nganjuk! Lalu si senewen itu mengirim ulang alamat penginapan yang sebenarnya, Amalia Guest House, Oro-oro Ombo, Malang.

What?! Setelah dia memberi rute bus yang salah padaku, ditambah lagi nama penginapan yang direvisi, di saat-saat akhir keputusan penyerahan diriku. Apa maksudnya semua ini, dan aku bertekat akan menggugatnya sesampai di penginapan nanti.

(17.33)
Dengan Grab lagi, aku diantarkannya menuju tempat tujuan. Sepanjang jalan sudah kupersiapkan makian kepadanya, karena telah menyengsarakan perjalananku seharian ini. Tetapi, begitu roda depan ojol itu menyentuh pelataran penginapan. Aku melihat juga wajah-wajah kelelahan, dari teman-teman ODOP-ers.


Kang Walimin, Rusdy, Nova, Heru, Agus Heri, segera menyambutku dengan hangat dan mengharukan, kami berpelukan bagai sepasang kekasih yang lama tidak berjumpa. Kehangatan persahabatan mereka, telah sanggup meluluhkan kemarahan dalam dadaku ini. Kami menuju kamar di lantai atas setelahnya, karena sesuai daftar... aku, Kang Wali, dan Heru akan tinggal di kamar yang sama. Amalia Guest House nomer 25.

Winarto Sabdo anggota ODOP batch 6.
Posting Komentar

Back to Top