Apa yang Dilakukan Chairil di Usia 21?

Diposting oleh Label: pada

Oleh: Hiday Nur

Mengajak keluarga datang ke temu ODOP, sudah tentu hal wajib dalam mbolang goal kami. Bagaimana kalo mengajak Umar Affiq, saudara saya dari lain-ayah-beda-ibu? Hummm… mestinya akan seru. ODOP-ers bisa tatap muka dan menyedot pengalaman langsung darinya. Sedangkan bagi si pendekar galaw, maksud saya, pendekar hobi menulis yang karyanya sudah ngeksis di sejumlah media dan event nasional ini, hidupnya akan dirasa lebih berguna, lebih dekat dengan dharma pramuka ke lima yang berbunyi rela menolong dan tabah. Hiyah.

“Tanggal dua sembilan aku ada kopdar ODOP di Malang. Ayo ikut, sambil jalan-jalan!” ajak saya di sela bincang entah apa.

“Kamu nanti duduk depan sama Mas. Aku sama ciwi-ciwi dan children di belakang.” Tanpa keterangan begitu, dia pasti buru-buru parno dan bilang: ogah, lainnya emak-emak semua.

Dan benar saja, penjelasan sedikit panjang itu berbuah jawaban: siap.

Sebetulnya saya tetap membatin sih: tumben. Biasanya dia akan sorong ke kanan sorong ke kiri seperti nona minta dansa empat kali, sekadar untuk bikin jengkel dan ngajak berantem. I know, kayaknya dia lagi perlu piknik. Dan juga ODOP sudah familiar. Selain dia pernah menjadi tamu online ODOP, saya terbilang sering menceritakan ODOP-ers semisal Septian dan Fadhli. Pendek cerita, dengan kerelaan hati dan wajah penuh tawa-tiwi, dia berhasil saya bawa ke Amalia Guest House, TKP Kopdar dan Munas pertama ODOP. He has been changed and I knew why, hiya hiya hiyah.

Azan Magrib sudah berlalu saat mobil yang dilaju Kang Mas Hati memasuki area parkir penginapan. Sembilan jam untuk Tuban-Malang mestinya ampuh menaikkan tensi darah. (Dulu saat menempuh studi menengah atas di kota apel, lima jam sudah sampai). Tetapi karena ada saja drama dua bocah yang tak henti tengkar-tapi-mesrah, obrolan tentang cerpenis dan cerpen-cerpennya, diskusi retjeh perihal keunikan teman (baca: ngrasani), dan rupa-rupa, semua jadi asyik-asyik saja. Setimpal. Deal.

ODOP-er pertama yang bersapa dengan saya adalah Mbak Titi. Ini kali pertama bertemu beliau dan it was nice.  Lalu rekan rumpi online saya, Mbak Mab, langsung memeluk dan nablek dan komen: Padahal samean yang pengen ke Boba Library, eh malah ketinggalan.


Ha ha ha. Ya sudah. I’ll be there next time, karena yang penting di kesempatan ini adalah kumpul-kumpulnya, tak peduli di Boba Library atau Boba Blacksheep have you any wool. Halah.

Seperti tahun lalu, usai salat Isya, acara diisi makan malam sekaligus bincang-bincang. Ya, untuk inilah saya mengajak Kak Umar Affiq (boleh saya singkat saja jadi KUA? Oh, tidak boleh? Oh, baiklah). Lebih istimewa karena tahun ini, Kang Heru di-dhapuk juga berbagi kiat suksesnya menembusUbud Writers and Readers Festival di Ubud bulan Oktober nanti dan Septian ditodong oleh-oleh dari acara Writerpreneur Bekraf tanggal 25-28 Juni kemarin.

Tentang sharing Kang Heru dan Septian, bagi yang tidak hadir sih masih bisa tanya-tanya di grup kapan saja. Nha kalau dialog dengan pemenang Kampus Fiksi Emas 2017 ini, gimana dong? Sedih, kan, yang tak bisa datang?

Harusnya iya, tapi jangan! Jangan sedih kalau mukamu sangar, asal punya aplikasi editan. Jangan sedih tak datang kopdar, nih saya buatin rangkuman. Apa deh.

Jadi begini. Usai sesi Kang Heru dan Septian, Mbak Nia madu-ruqyah-xixixix akhirnya mempersilakan talk show dengan penulis dua kumcer di penerbit Basabasi ini dimulai. Karena tidak paham dengan apa spesifikasi yang diminta ODOP-ers untuk dibagikan, obrolan mengalir melalui tanya jawab.

Q: Kak Umar, bagaimana penulis dapat membuat angle yang baik?
A: Menurut Clara NG, apa yang membedakan penulis dengan tidak penulis adalah bahwa penulis melihat sesuatu dari sudut pandang yang tak sama dengan orang lain. Untuk mendapat angle, saya akan membaca banyak untuk menemukan sesuatu yang saya anggap menarik. Misalnya dalam cerpen Memenggal Kepala Sang Raja, itu tentang lokalitas di Nias, tentang raja yang dihukum. Hal ini menarik, dan saya kembangkan menjadi cerita.

Q: Bacaan apa yang memengaruhi tulisan Kak Umar?
A: Saya banyak membaca cerpen Gus Mus karena latar saya dari pesantren. Tapi kemudian saya bergeser karena saya harus berkembang. Salah satu bacaan yang membuka pintu wawasan saya pada bacaan-bacaan baru lainnya adalah Kukila karya Aan Mansur. Dalam teori menulis, saya banyak mendapat info bahwa pembukaan cerita haruslah dibuat semenarik mungkin. Selanjutnya, hal-hal yang perlu diperhatikan lainnya adalah twist.
Bagaimana cara membuat twist atau membelokkan cerita? Kata Agus Noor, menulis adalah bersiasat dengan pembaca, jika pembaca sudah digiring ke arah A, belokkan ke arah B. Jika awalnya digiring ke arah B, belokkan ke arah lainnya.

Q: Bagaimana Kak Umar mulai menulis dan berapa kali menulis setiap hari? Ada genre khusus gak?
A: Saat SMA saya pernah menulis dua cerpen yang kalau sekarang saya baca, saya akan malu sendiri. Dulu, Bapak meminta saya bermain komputer di rumah Om setiap hari. Karena bosan bermain Corel dan lain-lain, saya mulai mengetik dan menulis. Om menyarankan untuk mengirim tulisan saya di sebuah majalah nasional. Tapi cerpen itu jelek saja belum. Tapi tidak apa, saya tetap menulis. Guru bahasa Indonesia di SMA pun menyarankan agar ke mana pun belajar, saya harus tetap belajar sastra, itu menjadi sebuah motivasi.
Untuk genre tertentu, tak ada. Tapi karena sasarannya media, saya mengikut selera media. Untuk waktu menulis khusus, juga tak ada. Yang penting setiap hari memosisikan diri untuk berhadapan dengan laptop menyala. Entah hanya menyetel lagu dan saya tertidur atau membaca buku. Tapi jika memang sudah menulis, saya bisa menghabiskan waktu dari sore sampai malam, hanya terjeda salat.

Q: Saya membaca kumpulan cerpen Di Surga Kita Dilarang Bersedih dan salah satu cerita paling berkesan adalah Paman Wo. Bagaimana Kak Umar mendapat ide untuk menulis cerpen itu?
A: Ada sedikit cerita di balik cerpen itu. Adik lelaki saya suatu siang diminta untuk beli cabe oleh Budhe. Di belakang rumah saya, dulunya ada rumah tua dengan rumah panggung di belakangnya. Saat disuruh beli cabe, adik saya mengaku diajak oleh Pakdhe, dan selama seharian sampai sore, dia menghilang. Tulisan itu adalah bayangan tentang apa saja yang terjadi ketika adik saya hilang. Tulisan itu juga adalah imajinasi bagaimana jika ada orang lain yang menyayangi anak selain orangtuanya sendiri.

Q: Bagaimana agar tak kehabisan ide?
A: Saya mengikuti apa yang disarankan Agus Noor. Saat belajar menulis di awal-awal, saya banyak mencari banyak info di YouTube. Salah satu saran Agus noor adalah selalu membawa catatan ke manapun. Jadi setiap ada ide, saya tulis: ceritanya begini, konfliknya begini, penyelesainnya begini. Lalu di pondok ketika sudah ada waktu luang, saya baca lagi ide tersebut. Jika layak dilanjutkan, saya akan mulai mencari referensi dan menentukan bentukan cerpennya bagaimana.

Q: Bagaimana memutuskan ide itu layak atau tidak?
A: Itu semacam insting, misal ketika saya membacanya tidak enak, sementara membaca cerpen orang kok enak. Juga apakah idenya basi dan sudah banyak dipakai orang? Jika iya berarti tulisan saya belum layak.

Q: Bagaimana cerpen dikatakan basi?
A: Sebenarnya bukan soal basinya. Seperti yang tren beberapa saat lalu tentang saudara kembar diri, itu sudah pernah ditulis Eko Triyono, sebenarnya. Tantangannya adalah bagaimana penulis memunculkan sesuatu yang baru dari hal yang sudah ada.

Q: Seandainya diminta menulis cerpen yang anti mainstream tentang pengantin baru, Kak Umar akan menulis apa?
A: Tentang tema pengantin baru, yang saya ingat adalah cerpen eksperimental Dadang Ari Murtono, juga tentang pengantin baru yang dulu pernah dimunculkan dalam soal ujian sekolah. Tapi kalau saya sendiri diminta menulis dengan tema itu, saya belum mau. Hahaha.

Q: Bagaimana jika kita menulis sesuatu yang menabrak norma?
A: Sejauh ini saya merasa nulis yang lurus-lurus saja, karena background saya pesantren. Tapi pernah saya menulis tentang uang sebagai sesembahan. Itu sebuah ironi sih sebenarnya.

Q: Saya ingin menulis tentang lokalitas daerah sendiri tapi tak menemukan sesuatu yang menonjol. Sedangkan untuk menulis lokalitas lain, saya merasa tidak menguasai.
A: Di daerah Jawa, memang dikeluhkan lokalitasnya tak terangkat karena sudah banyak dipopulerkan oleh penulis lama. Berbeda dengan lokalitas luar Jawa yang sekali tayang biasanya langsung booming. Tapi saya yakin, seperti di Tuban pun, banyak hal dapat diangkat. Kita cuma perlu observasi dan mencari data, mengobrol dengan tukang becak, sesepuh, dan lain sebagainya.

Q: Apa dampak merebaknya platform kepenulisan?
A: Positifnya adalah karena banyak yang menulis, maka banyak pula yang membaca. Ada teman saya yang menulis di Wattpad lalu diterbitkan sendiri dan laku keras. Setiap orang kan punya jalan kepenulisan sendiri. Teman saya mungkin tidak bisa menulis di media karena itu bukan bidangnya. Masalahnya adalah, tak ada penjaga gawang di platform kepenulisan tersebut sehingga penulis bebas menulis apa saja, dengan atau tanpa peduli norma dan batasan. Apakah penerbit mau membedah dan menyensor isinya sebelum diterbitkan? Jika ada maka bagus.

Q: Eka Kurniawan dalam tulisannya menyebutkan, menulis tidak saja soal kuantitas, tapi kualitas, target. Penulis memang harusnya menguasai logika berpikir karena menulis bukan saja soal berbagi tetapi juga mengajak pembaca untuk berpikir. Pengetahuan dan sejumlah disiplin semisal antropologi, sejarah, filsafat, dan lainnya, harusnya dikuasai penulis agar tulisannya berisi dan sampai. Menurut Kak Umar, bagaimana kaitan penulis dengan kemampuan dasar yang seharusnya dikuasai penulis tersebut?
A: Ya, hal-hal tersebut penting. Maka grup kepenulisan harusnya menjadi tempat diskusi. Seperti Mbak Hiday (red: apadeh), Kak Heru, ini kan banyak wawasannya tentang sejarah. Tanyakan referensinya apa saja. Ini akan bagus untuk menambah bacaan dan sumber menulis. Setiap kali diskusi, saya akan mencari tahu buku apa yang bagus dijadikan sumber. Saya akan mengoleksi buku-buku tersebut untuk memperdalam pengetahuan saya.

Q: Bagaimana dengan penulis pemula, yang masih tertatih dan belajar? Tidakkah ini menakutkan jika penulis harus dibebani untuk menguasai banyak hal seperti di atas?
A: Saya bergabung dengan Kostra (red: komunitas sastra di almamater Umar Affiq) sejak 2011 dan menghasilkan puisi-puisi yang tidak tembus media. Seorang senior lalu menantang saya, “Jika setelah dua tahun belum ada satu pun tulisanmu dimuat media, jangan bermimpi jadi penulis!” Mendengar itu harga diri saya seperti terinjak-injak. Saya berjuang keras, tetap menulis, dan lebih banyak membaca. Bahkan saya mengikuti semua grup kepenulisan yang saya tahu. Karena keseriusan itu saya kemudian memenangkan lomba resensi Diva Press. Setelah itu puisi dan cerpen saya mulai bermunculan di media. Setelah memiliki banyak teman penulis dan tulisan yang banyak ditayangkan, saya malah bersyukur karena pernah dikata-katain.

Memang benar penulis pemula melangkah step by step, tapi saya teringat lagi, pembina sastra saya, almarhum Pak Har, yang adalah salah satu penulis senior di Tuban, suatu sore bertanya: apa yang dilakukan Chairil Anwar ketika 21 tahun?

Saya teringat biodata Chairil Anwar dan mengingat apa saja yang ditulis Chairil Anwar di usianya itu. Pak Har bertanya lagi: Sekarang bandingkan, apa yang kalian lakukan di usia 21 tahun? Apa yang kalian baca? Apa yang kalian tulis? Saya lalu menyadari bahwa untuk menjadi orang besar kita harus mengawali usaha sejak dini. Tapi tidak ada kata terlambat. Kata Eka, penulis menemukan masa keemasannya sendiri. Saramago menulis di usia 60 tahun dan di usia 70 tahun mendapatkan nobel sastra.

Jadi, penulis pemula justru harus selalu semangat dan menengok orang lain. Apa yang sudah dilakukan orang lain? Apa yang belum saya lakukan?

Suatu saat juga, saya bertemu Yonathan Rahardjo, salah satu finalis lomba novel DKJ tahun 2006. Dia bilang dia mulai pelupa, dan saya membayangkan suatu saat mungkin saya juga akan pelupa sepertinya. Maka saya mulai menggunakan catatan di setiap halaman penting di buku yang saya baca. Hal ini penting untuk mengingkatkan kualitas bacaan, dan sangat berguna buat aktivitas saya meresensi buku.

Sampai di situ, tanya jawab diakhiri. Cukup panjang dan buanyak kan, ya? Apalagi ODOP-ers semangat sekali, like: kaos biru tak boleh lolos! Kyahaha. Bahkan bagi saya pribadi yang ajeg berdiskusi dan membedah cerpen bersama dan merasa paham dengan karya dan jalan kepenulisannya, ada saja cerita dan hal yang baru saya dengar.


Sekarang, jika sedang malas, mungkin saya akan juga mengingat pertanyaan almarhum Pak Har (saya jadi paham kenapa Umar dan teman-teman seangkatannya di komunitas sastra begitu menghormati dan menyayangi beliau): Apa yang dilakukan Chairil di usia 21? Dan dirimu, apa yang sudah kamu baca? Apa yang sudah kautulis?

Hiday Nur penasihat Komunitas ODOP, penulis banyak buku, pendiri Sanggar Caraka, penggagas NAC.
Posting Komentar

Back to Top