Sesuatu yang Merasuki Lemariku

Diposting oleh Label: pada

Oleh: Sabrina Lasama

Sejak lemari tiga pintu terbuat dari kayu meranti itu berpindah ke dalam kamarku lima tahun yang lalu, aku sudah menduga ada yang tidak beres dengannya. Aku masih berumur lima belas tahun ketika itu dan harus merelakan malam-malam yang kulalui di kamar setelahnya tak pernah sunyi. 

Kalau kau cukup akrab denganku dan aku sedang berbaik hati membawamu bertamu ke kamar, kau akan menyaksikan betapa lemari kayu tua berukir tersebut begitu mendominasi. Hampir sepertiga luas kamar terisi olehnya. Pintu lemari itu berhadapan dengan tempat tidur sehingga jika aku berbaring menghadap kanan, pantulan diriku bisa terlihat jelas pada cerminnya yang telah usang. 

Sebenarnya keberadaan lemari itu sangat menguntungkan. Aku bisa memasukkan seluruh barangku tanpa terkecuali ke dalam sana : baju, sepatu, tas, buku-buku. Lemari tersebut juga begitu besar sehingga dua orang dewasa bisa bersembunyi dengan lega di dalamnya. Seorang lelaki pernah bersembunyi di sana dan Ayah tidak pernah mengetahuinya.

Lemari tiga pintu itu milik Kakek. Ia seorang pengrajin kayu yang terkenal di desanya. Ia bisa membuat berbagai furniture hingga rumah panggung dari kayu. Kebanyakan ia menggunakan kayu meranti yang tumbuh subur di hutan tak jauh dari tempatnya lahir dan meninggal. Ayah membawa lemari kayu itu sehari setelah jasad Kakek dimakamkan. Istri Ayah tak menaruh minat pada lemari kayu usang, sehingga ia memutuskan menjejalkannya dalam kamarku.

Ketika pertama kali menyentuh lemari ujung-ujung jariku tersengat. Seperti ada aliran listrik yang mengaliri permukaannya. Aku menyentakkan tanganku seketika hingga membuat kening Ayah mengerut.

“Ada apa, Lyla?”

“Lemari ini ada listriknya.”

“Ini lemari, bukan televisi. Mana mungkin ada listriknya?” Anita, istri Ayah, menyahut sedikit sinis. “Sudah, cepat pindahkan lemarinya ke kamar Lyla. Kasihan kan selama ini cuma pakai lemari plastik.”

Aku tahu Anita tidak pernah merasa kasihan padaku. Ia hanya tidak suka penampakan benda usang itu di dalam kamarnya yang dipenuhi perabotan mewah dari salah satu swalayan furniture yang sering mengiklankan produknya di televisi. 

“Iya, Sayang,” Ayah menyahut pada Anita. Dua tahun kemudian Anita menyembunyikan lelaki selingkuhannya di dalam lemariku.

Hari itu enam jam setelah matahari terbenam. Ayah kembali lebih cepat dari perjalanan dinasnya di luar kota. Anita mengetuk pintu kamarku dengan terburu-buru. Ketika pintu kamar kubuka, seorang lelaki menghambur ke dalam kamarku. Lelaki yang sudah dua hari ini kulihat mondar-mandir keluar masuk dari kamar Anita.

“Cepat sembunyi di dalam lemari!” Anita mendesis sementara suara Ayah terdengar dari pintu depan.

“Jangan!” Aku berseru.

Tetapi lelaki itu tak mendengarkan seruanku. Ia menghilang dengan cepat ke dalam lemari. Selanjutnya aku masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana semua kejadian itu berlangsung. Diawali dengan bunyi yang sangat familiar di telingaku: bunyi cakar menggores kayu, bunyi ketukan pelan yang menjadi kencang seiring waktu, bunyi dok dok dok berulang-ulang. Bunyi yang entah dilafalkan oleh mulut atau ditimbulkan dari gesekan dua benda. 

Sebuah erangan pelan terdengar. Erangan yang sudah kudengar sejak pertama kali lemari itu ada di kamarku. Lalu teriakan mencekam disusul lelaki selingkuhan Anita itu menghambur keluar dari dalam lemari.

“Ada hantu! Ada hantu!” Ia berseru seperti orang gila. “Ada hantu di dalam lemarimu!”

“Itu Babadook. Aku sudah mencoba memperigatkannya padamu.”

Lelaki itu gemetaran. Tanpa menyentuhnya aku tahu ia tengah berkeringat dingin. Mata lelaki itu liar menjelajah sudut-sudut kamarku. Ia berhenti pada jendela dan seperti kesetanan membuka daun jendelaku dan melemparkan tubuhnya keluar dari sana. Begitulah ia bisa kabur dari rumahku tanpa pernah ketahuan oleh Ayah.

Pada tahun 2014 aku pernah menonton film horor Australia tentang arwah yang bersembunyi dalam lemari. Arwah itu begitu jahat dan menganggu seisi rumah. Film itu berjudul The Babadook. Sejak saat itu aku menamai sesuatu yang merasuki lemariku dengan judul film itu, terlebih ketika ia sering mengeluarkan bunyi dok dok dok. 

“Ada sesuatu di dalam lemariku,” kataku di hari kedua setelah Ayah membawa lemari itu ke rumah. 

Ayah berhenti mengunyah roti bakarnya dan menatapku dengan lekat. “Lyla, kamu sudah lima belas tahun. Berhentilah mengatakan omong kosong!”

Kelihatan sekali Anita menahan tawanya. “Kamu juga pernah mengatakan hal yang sama tentang meja makan ini. Kamu ingat? Katamu ada anak kecil sering bersembunyi di bawahnya.”

Aku tidak pernah benar-benar menerima Anita dalam hidupku meskipun ia sudah tinggal bersama kami sejak aku berumur sepuluh tahun. Ayah bilang ia ada untuk menggantikan posisi ibu yang meninggal karena melahirkanku. Tapi aku tak pernah melihatnya berperan seperti layaknya seorang ibu. Aku tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu sebelumnya, tidak juga ketika Ayah menikahi Anita.

Di dunia ini tidak ada benda mati, yang ada hanyalah makhluk tak hidup.  Batu, bongkahan kayu, onggokan tanah, mereka semua adalah makhluk tak hidup yang mampu menyerap energi makhluk hidup di sekitarnya. Ketika Ayah membeli meja makan dari tempat penjualan barang-barang antik aku merasakan energi yang begitu kuat di sana.

Ketika ujung-ujung jariku menyentuh permukaan meja, pikiranku terempas entah ke dimensi mana. Aku bisa melihat dengan jelas anak-anak kecil berlarian dan main petak umpet di bawah pohon pinus tua. Seorang anak kecil ditabrak mobil tak jauh dari sana. Pinus tua yang telah menyaksikan begitu banyak peristiwa di sekitarnya berakhir menjadi meja. Energi paling dominan yang diserapnya berasal dari anak kecil yang mati ditabrak. Energi itu kadang melemah dan ketika menjadi kuat ia bisa menjelma menjadi sosok anak kecil yang setiap hari menghabiskan waktu bermain di bawah pohon sebelum akhirnya tewas tertabrak truk berisi batu kali.

Pertama kali menyadari keajaiban dalam diriku -aku enggan menyebutnya keanehan- adalah ketika ayah membawaku ke museum sejarah saat berusia lima tahun. Begitu banyak energi berseliweran di dalam museum. Benda-benda itu seolah hendak mendongengkan cerita mereka langsung ke dalam kepalaku. Kisah-kisah itu bekelebat lemah seperi cahaya lilin. Ketika beranjak dewasa,  aku tahu bahwa aku perlu menyentuh setiap benda untuk mengentahui kisah lengkapnya.

Hal kedua yang kurasakan ketika menyentuh lemari tua milik kakek -yang pertama adalah sensasi tersengat listrik- adalah kesedihan yang begitu tebal. Aku meletakkan kesepeluh jariku pada pintu lemari dan sebuah kisah mengalir ke dalam kepalaku. Seorang lelaki, penebang kayu, mati bunuh diri tergantung di pohon meranti yang seharusnya ia tebang hari itu. Energi dari lelaki itu diserap oleh pohon meranti. Merasuk dan mendiami serat-seratnya hingga  berakhir menjadi lemari.

Kadang-kadang, energi dari lemari itu melemah dan bunyi-bunyian yang berasal dari dalam lemari menghilang. Sebaliknya, di waktu-waktu tertentu ketika energi itu menguat, seperti ada kehidupan di dalam sana. Bunyi cakar, ketukan, suara dok dok dok. Ketika energi itu mencapai kekuatan maksimal, ia akan berwujud seorang lelaki tinggi besar, berkulit legam, berambut megar. Sosok itu pertama kali keluar dari dalam lemariku di hari kelima. Aku menatapnya dengan sekujur tubuh kaku. Sosok itu tak mengangguku meskipun matanya yang melotot sesekali melihat ke arahku. Lima tahun kemudian aku sudah mulai terbiasa dengannya.

Sore itu Anita menerobos masuk ke dalam kamarku tanpa mengetuk. “Apakah di dalam lemarimu masih ada ruang?” Ia tidak menunggu terlebih dahulu jawabanku untuk membuka lemari. “Masih banyak ruang kosong. Aku kehabisan tempat untuk menyimpan baju lamaku. Aku akan menitipkannya di sini.”

Saat ia meninggalkan kamar, aku merasakan energi yang terpancar dari lemariku meningkat drastis. Begitu tebal dan pekat sehingga terasa menghimpit dadaku. Beberapa saat kemudian Babadook berjalan keluar menembus lemariku. Ia mondar-mandir keluar masuk dari sana. Ia tampak gelisah.

Anita kembali dengan membawa setumpuk baju yang katanya sudah tidak ia gunakan dan melenggang ke arah lemariku. “Jangan!” Aku berseru, bermaksud mencegahnya mendekati lemariku terlebih di saat energi yang memancar dari sana begitu pekat. 

Anita menatapku dengan lirikan tajam. “Kenapa kamu pelit sekali, sih? Aku cuma menumpang sementara.” Ia mengempaskan baju-bajunya ke atas ranjangku sebelum membuka lemari.

Saat pintu lemari itu terbuka aku bisa melihat Babadook duduk bersila di sana. Aku menduga-duga apakah Anita bisa menyadari keberadaannya. Dari jeritan melengking Anita aku sadar ia juga melihat keberadaan Babadook di sana.

“Lyla, itu….” Anita bebalik ke arahku dengan tergagap. Ia gegas beranjak dari sana namun tangan Babadook lebih dulu menarik rambut panjang Anita yang dicat burgundy. Aku masih mendengar teriakan Anita sebelum tubuh wanita itu seperti ditarik ke dalam dan pintu lemari itu menutup dengan bunyi yang menggema di sudut-sudut kamarku. 

Ayah sedang perjalanan dinas dan aku hanya bisa menyaksikan semua kejadian itu dengan tubuh yang kaku. Babadook tidak pernah mencoba melakukan kontak fisik denganku. Aku pun yakin ia hanya menakut-nakuti lelaki yang dulu pernah bersembunyi di dalam lemariku. Tapi tidak pada Anita. Aku mendengar bunyi gaduh dan suara menjerit yang seperti berasal dari kejauhan. Ketakutan mencekamku.

Ayah datang keesokan harinya dan mendapatiku mematung dengan posisi tidak berubah sejak semalam : duduk di tepi ranjang. “Ada apa, Lyla? Mana Anita? Ia tidak ada di mana-mana dan tidak menjawab teleponku.”

Aku bergeming.

“Lyla!” Aku merasakan Ayah mengguncang bahuku.

Aku mengangkat tangan kananku dengan lemah dan menunjuk ke arah lemari. Ayah mengikuti arah telunjukku. Ia membuka pintu lemari dan tubuh Anita yang membiru terkulai keluar. 

“Lyla! Apa yang terjadi? Apa yang kamu lakukan padanya?” Ayah menguncang tubuh Anita. Tidak ada reaksi. Aku melihat bekas cengkeraman yang menghitam pada pergelangan tangannya.  Aku beranjak dan memeriksa lemari. Babadook tidak ada di sana. Energi yang berasal dari lemariku melemah. 

“Lyla, kamu sudah membunuhnya!” Aku tercekat demi mendengar kalimat Ayah. Aku menggeleng berulang-ulang. Bagaimana mungkin aku membunuh? Babadook yang melakukannya.

“Lyla, apa yang sudah kamu lakukan?!” Ayah mencengkeram rambutnya dengan putus asa. Ia berjalan mondar-mandir.  “Aku tidak mungkin melaporkanmu ke polisi. Kamu anakku satu-satunya. Kita harus menguburkan mayat Anita sebelum orang lain menyadari ia sudah mati.”

Seketika kepalaku terasa sakit. Bagaimana aku bisa menjelaskan pada Ayah bahwa Babadook yang melakukan itu padanya? Anita mengingatkan Babadook pada istrinya yang berselingkuh. Wanita itu yang menyebabkan Babadook gantung diri. Aku harus mulai menjelaskan hal itu pada Ayah sekarang.

***

Sabrina Lasama, berdomisili di Manado dan anggota One Day One Post batch 1. Sabrina bisa dihubungi melalui email : sabrina.lasama@yahoo.com; fb: sabrina anggraeni lasama; ig: @sabrinalasama. 
Posting Komentar

Back to Top