Memetik Mutiara

Diposting oleh Label: pada

Oleh: MS Wijaya

Wajib sekolah 9 tahun, rupanya sudah dituliskan dalam Undang-Undang Pendidikan Nasional No. 2/1989, yang mewajibkan semua warga negara Indonesia yang berusia 7-12 tahun dan 12-15 tahun untuk menamatkan pendidikan dasar dengan program 6 tahun di SD dan 3 tahun di SLTP secara merata.

Namun pada pelaksanaannya tidak semudah itu, masih banyak anak-anak di umur wajib sekolah itu tidak mendapatkan pendidikan yang layak, walaupun pemerintah telah mengupayakan biaya pendidikan itu gratis. Tapi ternyata tidak didukung dengan infrastuktur yang baik sarana maupun prasarananya. Tidak perlu jauh-jauh melihatnya di ujung negara Indonesia seperti di Papua, bahkan di pinggiran kota besar di Indonesia masih banyak yang kesulitan untuk mendapatkannya.

Seperti salah satu cerita dalam buku antologi Komunitas One Day One Post yang judul Mutiara Hitam dari Papua, salah satu penulinya menceritakan bagaimana kondisi sekolah di Desa Mekarrahayu yang ada di Jawa Barat. Mereka kelebihan jumlah siswa, namun sekolah mereka sangat terbatas baik ruangan maupun tenaga pengajar. Sehingga sekolah memberlakukan sekolah pagi dan sekolah siang untuk menyiasati kurangnya ruang kelas.

Di tengah keramaian hiruk-pikuk perumahan elite terdapat sekolah dasar memiliki banyak keterbatasan. Bangunan sederhana dengan cat kusam menyaa kami. Anak-anak terlihat gembira di tengah keadaan yang sederhana. Terlihat rona bahagia di pelupuk mata mereka seolah menjadi obat dari rasa lelah yang mendera. -Hal 35

Di sisi lain ada sekolah dengan fasilitas ‘wah’ di sudut lainnya dengan jarak tidak lebih dari tiga KM terdapat tempat belajar yang menawarkan keterbatasan. Ruang kelas muram lagi sempit. Di berbagai sisi retakan-retakan menghiasi, belum lagi ditambah dinding yang entah sejak kapan catnya sudah terkelupas. Kelas yang terbatas penuh sesak dengan siswa. -Hal 37

Dalam buku antologi Mutiara Hitam dari Papua ini, bukan hanya menyadarkan bahwa pendidikan benar-benar belum merata di tanah air ini, tapi juga memberikan kita pesan-pesan yang selama ini mungkin terlupa oleh kita untuk selalu ikhlas, semangat, intropeksi diri dan lainnya. Disampaikan dengan diksi-diksi yang lembut dalam balutan kisah membuat kita bisa mengambil banyak pelajaran-pelajaran didalamnya. Keempat belas penulisnya ini memberikan warna sendiri dalam menyampaikan cerita mereka secara sederhana namun mendalam.

Judul : Mutiara Hitam dari Papua
Penulis : Dewie Dean, Adriana, Nychken Gilang, dkk
Penerbit : Zukzez Express
ISBN : 978-602-6594-66-2
Tahun terbit : 2018
Tebal  : 162 halaman
Posting Komentar

Back to Top