Cerita Seorang Lelaki yang Sedang Bermimpi tentang Dirinya yang Sedang Bermimpi

Diposting oleh Label: pada

Oleh: Achmad Ikhtiar

Suatu malam aku bermimpi tentang diriku yang sedang bermimpi. Dalam mimpiku aku melihat mimpi aku yang sedang bermimpi itu memenangkan lotere. Hadiahnya luar biasa banyak. Lebih banyak dari yang berani aku mimpikan dalam kehidupan nyata. Herannya aku yang ada dalam mimpi aku yang sedang bermimpi itu malah menghabiskan semua hadiahnya untuk membeli mimpi. Tampaknya aku yang ada dalam mimpi aku yang sedang bermimpi itu sudah lupa pada pesan Emak di kampung. Beliau selalu terkenang-kenang menginjakkan kaki di Mekah, berjalan memutari Ka’bah dan mencium Hajar Aswad. Setiap kali Emak berbicara tentang Mekah, maka beliau pasti teringat dengan Nabi Muhammad SAW. dan semua perjuangan beliau lalu pasti berderai-derailah air mata Emak.

Lain lagi dengan Bapak. Bapak selalu berpesan kepadaku kalau sekiranya nanti aku mendapat rezeki nomplok, beliau ingin sekali membeli sepasang kerbau, mengajak mereka merumput dan membiarkan beranak pinak. Tidak tanggung-tanggung, sebidang tanah di belakang rumah sudah disiapkan untuk dijadikan kandang.

Aku yang ada dalam mimpi aku yang sedang bermimpi itu memang benar-benar keterlaluan, dengan entengnya dia membelanjakan semua hadiahnya hanya untuk membeli sebuah mimpi. Kalau sekiranya aku bisa masuk ke dalam mimpi aku yang sedang bemimpi itu pasti sudah kuhajar dia, kutempeleng sampai sadar.

Setelah membeli mimpinya itu, dia lalu bermimpi. Jadi aku bermimpi tentang diriku yang sedang bermimpi lalu membeli mimpi hanya untuk sekadar melanjutkan mimpi.

Dalam mimpinya ada Narti, gadis yang sudah empat tahun ini kupacari dan terus menerus merengek untuk segera dinikahi. Narti yang sabar, keibuan dan cerdas. Seandainya aku punya uang, pasti sudah kunikahi dia dari jauh-jauh hari, toh orangtuanya juga sudah memberi lampu hijau.

Dalam mimpi yang baru dia beli itu, ternyata dia bermimpi jadi orang yang kaya. Tanpa menunggu tempo lama dia ajak Emak dan Bapak untuk bertemu dengan orangtua Narti. Singkat cerita, tanggal pernikahan sudah dipilih. Aku yang hanya jadi penyaksi dari aku yang sedang bermimpi lalu membeli mimpi itu ikut merasa bahagia, heran juga padahal bukan aku yang akan menikahi Narti tapi orang yang serupa sepertiku yang ada dalam mimpi. Bahagia menyaksikan orang yang mirip aku dan orang yang aku sayangi bahagia adalah juga sebuah kebahagiaan tersendiri.

Pulang dari acara lamaran, Emak dan Bapak diajaknya mampir ke sebuah peternakan kerbau. Tanpa ba-bi-bu dan tawar menawar yang alot dia belikan bapak sepasang kerbau paling bagus yang ada di peternakan itu. Tak bisa aku gambarkan ekspresi wajah Bapak yang aku lihat dalam mimpiku itu. Tak pernah wajah bapak—seumur hidupku—kulihat sebahagia itu. Bapak adalah orang yang selalu ingin terlihat gagah, garis dahinya yang keras dan kumis hitamnya yang tebal setidaknya mewakili karakter itu. Tapi dalam mimpiku itu kulihat bapak menangis. Menangis bahagia.

Tak jauh beda dengan Emak, sebelum sampai ke rumah, orang yang membeli mimpi dalam mimpiku itu belok ke sebuah agen perjalanan haji. Kulihat Emak sampai sujud syukur saking bahagianya karena semua harapan yang malah hampir menjadi angan-angan itu terwujud sebegitu mudah.

Narti sudah dilamar, kerbau untuk Bapak sudah terbeli, rencana Emak untuk pergi ke Tanah Suci tinggal menunggu hari. Sekarang aku sadar, ternyata kebahagiaan itu bisa dibeli. Dengan uang kita bisa membeli semua kebutuhan. Dengan uang segala jenis dahaga bisa terpuaskan. Uang bisa membeli kebahagiaan.

Sampai tiba saatnya, semua keadaan itu berbalik dengan cepat. Kerbau yang baru dibeli dua hari lalu dicuri. Tidak ketahuan siapa yang mencuri, tak ada bekas-bekas kerusakan pada kandang atau pun kuncinya, bahkan jejak kaki pada tanah sekitar kandang yang becek pun nihil. Seolah-olah kerbau itu hilang begitu saja dari dalam kandang. Bapak stres berat. Sekarang setiap harinya hanya dihabiskan untuk melamun sambil meratapi kerbaunya yang hilang.

Emak lain lagi, ada santer kabar orang yang membeli mimpi itu terlihat di televisi tentang penipuan para calon jamaah haji. Dia coba merahasiakan hal itu sambil terus memantau perkembangan dan harap-harap cemas semoga Emak bukan salah satu korbannya. Tapi apa mau dikata, kabar menyebar dengan cepat, dari mulut tukang sayur langganan Emak berita itu sampai juga. Emak bertanya dan memaksa memastikan agar orang yang membeli mimpi dalam mimpiku itu segera menanyakan pada agen perjalanan haji tempat Emak mendaftar.

Berkali-kali menelepon tetap tak bisa tersambung. Mencoba menyatroni langsung ternyata kantornya sudah tutup. Emak menangis tersedu-sedu, dengan bibir gemetar dan jari memelintir biji tasbih. Kebiasaan Emak saat sedih memang begitu, beliau tak akan berhenti mengingat Tuhan sampai hatinya benar-benar merasa tenang. Putus sudah harapan Emak untuk berkunjung ke Baitullah di Mekah.

Dengan perasaan gundah, orang yang membeli mimpi dalam mimpiku itu melajukan motornya pergi ke rumah Narti. Tiupan angin dan pemandangan sawah yang hijau di kiri-kanan jalan sedikit bisa menenteramkan hatinya.

Tapi apa mau dikata, tiupan angin yang semula menenteramkan mendadak menjadi badai saat secara tidak sengaja dia berpapasan dengan Narti yang sedang berboncengan dengan mantan kekasihnya. Dengan emosi di ubun-ubun dia berbalik arah dan mencegat motor yang membonceng Narti.

Motor digeletakkannya begitu saja tanpa sempat menurunkan standar. Sambil berteriak-teriak dan menujuk-nunjuk ke arah Narti dia ngomel tidak karuan. Narti hanya mematung. Perlahan-lahan tangan kanannya terangkat ke arah orang yang sudah membeli mimpi dalam mimpiku itu.

“Kamu tidak akan pernah bisa membeli kebahagiaan,” katanya. Suara Narti pelan namun terdengar sangat jelas seolah-olah suara itu bukan berasal dari mulut Narti tapi keluar dari dalam kepalaku dan kepala orang yang membeli mimpi dalam mimpiku.

Dari arah warung dekat sawah, Emak dan Bapak keluar, juga dengan tangan menunjuk ke arah orang yang membeli mimpi dalam mimpiku itu. Lagi-lagi kata-kata yang dikeluarkan sama dengan ucapan Narti.  

“Kamu tidak akan pernah bisa membeli kebahagiaan.”

Perlahan-lahan muncul satu persatu orang yang pernah ditemuinya beberapa hari belakangan. Penjual kerbau, orangtua Narti, mbak-mbak penjaga agen perjalanan, tukang sayur langganan Emak dan lainnya.

Mereka semua menunjuk dan berucap dengan satu suara, “Kamu tidak akan pernah bisa membeli kebahagiaan.”

“Kamu tidak akan pernah bisa membeli kebahagiaan.”

“Kamu tidak akan pernah bisa membeli kebahagiaan.”

Kalimat mereka makin cepat, lebih mirip seperti dengungan ribuan lebah. Sampai pada akhirnya, aku dan orang yang membeli mimpi dalam mimpiku itu tidak kuat, menjambaki rambut dan memukul-mukul kening agar sura-suara itu berhenti.

Setelah itu gelap.

Saat sadar, aku berada di rumah sakit. Berada dalam selimut hangat di gendongan seorang suster.

Wajah Emak yang masih muda terlihat kelelahan. Rambut panjangnya kusut masai dan pakaian bersimbah keringat. Sementara Bapak yang juga terlihat muda, dengan kumis tebalnya sedang memegangi tangan Emak sambil manatap ke arahku dengan tatapan bangga bercampur bahagia. 

Bapak kini baru saja menjadi seorang bapak. Emak baru saja menjadi seorang emak. Dan aku baru terlahir kembali sebagai aku.

***
Posting Komentar

Back to Top