Chania
Edisi Khusus Munas 2019
Oleh: Ezza Tania

Biasanya saat seseorang akan bepergian jauh, pasti sudah jauh-jauh hari packing. Pakaian sudah disiapkan, badan selalu dijaga agar terus fit, dan lain sebagainya. Apalagi bepergian yang memakan waktu berjam-jam bahkan seharian di kereta atau bus.

Nah, dalam tulisan ini, aku pengen share ke kawans semua tentang perjalananku menuju Malang, yang melewati hutan, sawah, gunung, lautan. Hehee (Ambil baiknya buang buruknya yah, semoga ada hikmahnya).

Packing Kilat Malah Ketinggalan Banyak

Bepergian jauh harusnya bawa pakaian ganti, bukan? Apa jadinya kalau nggak ganti-ganti baju berhari-hari, bisa-bisa orang-orang disekitar malah pegang hidung. Jangan pula kelebihan, karena akan repot nanti. Sesuaikan dengan waktu menginapnya.

Sebelum berangkat ke Malang, pakaian kotorku masih numpuk di cucian. Dan yang lebih mencengangkan lagi, aku belum packing sama sekali. Akhirnya, sore sebelum keberangkatan, buru-buru packing dan setrika pakaian yang baru kering. Eyadalaaah... lebih riweuh. Hasilnya memuaskan sekali, banyak barang-barangku yang ketinggalan karena harus dikejar waktu berburu jadwal bus. Buku antologiku yang sudah diniatkan untuk tukar buku sesama ODOP-er, malah ketinggalan, alat make up (lipstik dan bedak), dan minyak telon. Pakaian ternyata bawa kebanyakan. Duh, bikin berat bawaan. Kelen juga, ya gaes, harus perhatikan barang bawaannya jangan sampai ada yang ketinggalan jangan pula kelebihan. Pelajaran, sih, mestinya packing maksimal H-1 sudah siap ransel atau tas jinjingnya. Lagi-lagi pastikan, ya...

Bolang Harus Segar Bugar

Jujur, berangkat ngebolang kemarin badanku masih drop. Lima hari sebelum keberangkatan baru pulang camping, jadi panitia Kegiatan Pendidikan Dasar Relawan Nusantara Lampung selama ±3 hari. Aku di bagian panitia acara. Kalau dihitung-hitung, tidurku hanya 1-3 jam/hari saat kegiatan, itu pun kadang tidur di sela-sela peserta sedang ikut materi atau ada panitia lain yang handle. Demi menyukseskan acara dan amanah yang sudah kadung kuamini, dengan semangat kulakukan sepenuh hati. Akhirnya, karena kelelahan, keesokan harinya atau Senin, aku kena flu berat dan demam, juga badan rada pegal-pegal. Semoga lelahnya Lillah... (bisik-bisik dalam hati).

Perjalanan yang kami tempuh, Bandar Lampung dengan bus DAMRI kurang lebih 8-9 jam (estimasi Bandar Lampung-Bakau 2 jam, 1,5 jam di kapal, 5 jam Merak-Stasiun Gambir). Kami melanjutkan kembali perjalanan menggunakan kereta, rute Pasar Senen-Jayabaya Malang dengan lama perjalanan 13 jam. Waktu perjalanan yang panjang, belum lagi ditambah menunggu jadwal keberangkatan yang lamanya kayak nunggu jodoh, eh. Perjalanan panjang itu membuatku tambah drop.

28 Juni 2019 pukul 02.45 WIB kami sampai di stasiun Malang. Di ponselku menunjukkan 17° C. Suhu yang sangat dingin bila dibandingkan kebiasaan di Lampung, sekitar 26-30° C. Buru-buru kami turun dan mencari tempat selonjoran di masjid. Yah, masjid is the comfortable place in the world, gratis pula. Hehee.

Sambil menunggu azan Subuh berkumandang, aku tertidur. Beruntungnya Mbak Ika, teman seper-bolang-an terus terjaga sepanjang subuh, jadi aku merasa aman. Bangun dari istirahat yang sangat berkualitas itu, aku segera berwudu. Awalnya aku pikir ingus karena sedang flu, ternyata darah segar muncur dari hidungku. Aah, mimisan? “Oh, Gee... jangan bikin repot orang lain dong!” dalam hati terus bergumam. Biasanya aku mimisan karena kecapaian, suhu tubuh yang terlalu panas atau dingin. Alhamdulillah, selang beberapa waktu, darah berhenti mengalir. So, apapun kondisinya, pastikan sehat dan bugar kalau mau pergi-pergi yah (mengingatkan diri sendiri).

Tetap Sabar dan Positif Thinking

Sebaik-baik kita berencana, paling baik rencana yang Allah buat untuk kita. ‘Ala kulli hal, bus kami menuju Pelabuhan Bakau sempat mogok selama ±2 jam. Lumayan gerah dan panas berdiam di dalam bus mati, di hutan pula. Menambah horor suasana. Akibat mogoknya bus yang kami tumpangi, membuat kami ketinggalan kapal feri. Kami harus menunggu pukul 03.00 WIB untuk keberangkatan selanjutnya, tapi beruntungnya meski kapal belum berangkat, kapal sudah bersandar, jadi kami bisa langsung naik. Beruntungnya lagi, jadwal kereta kami besoknya jam 13.00 WIB. Mungkin kami harus beristirahat lebih panjang, minum vitamin dan obat flu sambil leluasa selonjoran di kapal yang besar ini.

Saudara Baru

Aku dan Mba Ika (duo nekaters asal Lampung kata ODOP-ers) baru pertama kali ke Malang. Sebelum acara Munas dimulai dan berkumpul di penginapan, kami diajak ke rumah saudara Pakde Walimin (ODOP-er) untuk sekedar beristirahat. Kami sangat senang disambut sangat ramah dan baik di sana. Mulai dari sarapan pagi, makan siang, sampai dipinjami sebuah rumah untuk beristirahat. Senyum sumringah dan keramahan terpancar di wajah-wajah itu. Rasanya sangat bersyukur. Inilah wajah asli Indonesia. Coba tanya ‘bule’ dan ‘pale’ (bule: non-WNI) mengapa mereka banyak yang mau menjadi WNI? Alasan pertama adalah mereka telah mencintai keramahan pribumi. Ya, orang Indonesia terkenal dengan keramahan dan sopan santun, semangat gotong royongnya yang luar biasa. Dan yang membanggakan, Indonesia adalah negara yang paling tinggi tingkat sharing atau kedermawannya menurut CAF World Giving Index 2018. Amazing, bukan? So, be proud to be Indonesian people, kawans, dan tetap jaga asli wajah kita, yah.

Munas yang Tak Terlupakan

Kebayang nggak kalau kamu belum pernah ketemu sama sekali dengan orang yang sering kumpul di dunia maya? Pasti ada rasa canggung, rasa minder, dan malu-malu kucing. Wah, ini tidak berlaku bagi ODOP-ers, kawans! Ternyata saat pertama kali bertemu, bisa langsung seakrab saudara lama yang baru bersua kembali. Ngobrolnya mengalir kayak air terjun Coban Nirwana, hehee. Seru, lucu, dan ending-nya bikin haru. Bagaimana tidak, orang-orang dari berbagai kota, berbagai profesi dari mahasiswa sampai ibu rumah tangga, dari kepala sekolah sampai kepala keluarga, bahkan dari penulis pemula sampai penulis kaliber, juga membaur bersama. Berbagai ilmu inspiratif, mulai dari kepenulisan, memasak, merajut, sampai pada curhat, hiyaa... (ini mah sesi terakhir setelah acara selesai, hanya berdelapan mata, Mbak Ika, Kak Saki, Mas Auf, dan aku, sambil menikmati bakso Malang di belakang penginapan). Rasanya, perjalanan berhari-hari dari Lampung ke Malang cukup terobati dengan kehangatan Munas.

Itulah sejumput kisah dua hari selama di Malang bersama ODOP-ers. Banyak yang terkesan dan terinspirasi. Semoga pulang ke daerah masing-masing membuat kebermanfaatan yang semakin banyak terutama di dunia literasi.

Ezza Tania Anggota komunitas ODOP batch 6, tinggal di Lampung.

Komentar Pembaca

Kif

Rinduuuuuuuuu

Ummu Arrahma

Jadi mengharu biru baca ini. Rindu masih mewarnai, belum bisa move on pokoke.

Pakdhe

Wah kisah perjalanannya bis dnovelkan itu...

Ibrahim

ini anak, mahromnya kemana? > ada yang nanya kayak gitu ga? hehe bener-bener nekaters ya... kerennya walaupun begitu tetep bisa bagi-bagi tips biar ODOP-ers lain tidak merasakan hal yang serupa.

Ashima Meilla Dzulhijjah

Sama kak, aku juga biasanya kalau mau bepergian, malamnya baru packing hehe Seru ya kak sepertinya bisa berkumpul, suatu saat bisa ga ya berkumpul juga dengan ODOP-ers

Reno Danarti

Sepertinya seruu....

Eko Endri Wiyono

Mantap #semangat

Sulis

Wah rinci bangett

atiqoh

hehehee... memang berat tapi menyenangkan :)

Anne

Seru, menjadi pengalaman yang sangat berkesan kayaknya

Mahmudah

Nekad syekali ya mba Ezza... Mantap jadi buat bahan cerita ya... Pengalaman tak terlupakan jadinya

Berikan Komentar