Chania
Edisi 4/I/Juni 2019
Oleh: Dyah Yuukita

Wajah dekil dan polos itu tengah mendengkur kecil di bahuku yang lebarnya setulang. Aku ingin menyentaknya agar terbangun dan tidak bermalas-malasan, tapi aku mengurungkan niat melakukannya. Kutatap wajah kecil itu dengan meratap, ada kedamaian di sana. Aku menghela napas berat, kakiku sudah berkejut, lelah menjajakan barang di kantong plastik besar kepada orang yang berlalu lalang. Bahkan kerongkonganku kering bagai musim panas di bulan ini dan suaraku terdengar seperti pekikan seekor tikus yang terjepit di perangkap. Aku ingin berbaring, mengistirahatkan tubuhku yang rasanya seperti telah memikul setumpukan karung beras, tapi aku tidak bisa melakukannya karena semua barang yang kujajakan belum juga laku.

Senja di musim panas memberikan warna oranye yang pekat. Sinar mentari yang timbul dari balik awan yang bergerumul memberikan cahaya yang menyilaukan pandangan. Orang-orang berpakaian rapi dan beraroma wangi parfum berhilir mudik melewati kami yang tengah duduk di pinggiran anak tangga JPO. Tanpa bersuara, kuulurkan tangan kanan yang memegangi barang jualan dengan lelah kepada orang-orang yang sibuk menaiki dan menuruni tangga dengan tatapan tak nyaman kepada kami. Dan di antara kerumunan orang itu, tak ada satu pun yang membeli tisu dari dalam plastik yang ditenteng selama seharian ini.

Aku mengiba, meratap langit senja kala itu, ada secercah harapan yang kulihat di sana. Seseorang yang dari tadi mendengkur di bahuku kini sudah mengerjap dan mengelap iler yang berhasil dibuatnya di bahuku.

“Kak?” dia bertanya memastikan sesuatu.

“Belum terjual satu pun,” lirihku dan dada terasa begitu perih melebihi perih saat mengiris bawang.

“Lalu, bagaimana?” tanyanya sedikit takut. Tangannya yang mungil mencengkeram baju lusuhku.

Aku terdiam, menatap senja yang semakin lama warna oranyenya memudar. Aku tengah berharap senja mendengar harapanku yang terdengar konyol dan mungkin karena kekonyolan harapanku tak pernah diwujudkan. “Kita pulang. Hari sudah mau malam.”

Sudah tiga tahun, sejak kematian ibu yang membesarkan kami sendirian karena penyakit paru-paru yang dideritanya selama dua tahun, dan kami pun berakhir menjadi penjual tisu di JPO demi mendapatkan sesuap nasi. Setidaknya kami beruntung karena tidak perlu risau membayar rumah beserta tagihan listriknya, gubuk kami yang terbuat dari kardus dan akan terbang bila angin kencang melanda membantu kami untuk singgah menikmati lelah dengan gratis, dan petromak pengganti lampu yang menerangkan saat gelap membuat pengeluaran tak membengkak.

Selama menjajakan tisu, kami sering tidak mulus, seperti hari ini, tak ada satu pun tisu yang berhasil terjual dari pagi sampai sore. Orang-orang yang berlalu lalang itu menatap kami dengan tatapan kasihan dan sebagai lalat penggangu perjalanan mereka. Aku tak peduli dengan tatapan mereka yang merendahkan, asal mereka membeli tisuku itu sudah cukup tanpa harus mengurusi pandangan mereka mengenai kami.

Di tengah perjalanan, ada tarikan bajuku yang begitu semangat. Kutengok ke arah adik, dia menunjuk dengan tangan kecilnya ke sebuah rumah yang tidak asing bagiku. Rumah yang cukup luas dan besar menjulang tinggi dari rumah-rumah yang lain, pun pagar yang dipasang di halaman rumahnya mempunyai tinggi tiga per empat dari rumahnya.

“Ikan!” serunya sambil tersenyum menunjukkan giginya yang bolong. Tanpa instruksi, adik berlarian menuju rumah itu. Aku yang tak mampu menahan semangat adik pun harus mengalah dan mengikutinya. Dari luar pagar yang besinya tebal bagai beton lidi yang tertancap, kami bisa melihat berjejeran aquarium dengan kaca-kaca bening mengilap memenuhi halaman rumah, di dalam persegi panjang itu terdapat ikan-ikan yang hilir mudik memperlihatkan sirip dan ekornya yang menawan, membuat siapa pun ingin menatapnya lebih lama. Begitu pun dengan adik yang sudah menatap mereka dengan pancaran binar sambil mulutnya yang mungil itu terbuka menganga.

“Hei, apa yang kalian lakukan di rumahku?” teriak seseorang dengan nada tak ramah. Sontak kutoleh arah suara, seorang pria paruh baya dengan hidung bangir dan perutnya yang buncit tengah memelototi kami dengan mata merahnya.

“Adikku ingin melihat ikan, Tuan. Izinkan kami melihatnya dari sini,” ujarku sedikit memohon belas kasih. Dari orang-orang yang kudengar, pria itu memang mempunyai pengarai buruk terhadap orang yang miskin seperti kami.

Pria itu berjalan menuju pagarnya yang lebih seperti gerbang ke dunia lain, sambil mendengus dia menatap kami dengan menghunjam. “Apa kau bilang? Ingin melihat ikan-ikanku?”

Aku mengangguk dengan kebingungan karena semua ucapanku dipertanyakan lagi olehnya. “Jangan bermimpi, bocah miskin!” suara tawanya menggelegar disusul sahutan tawa yang tak kalah dari para bodyguard-nya.

Aku sangat kesal dengan cara tertawanya, begitu bahagia mencemooh dan menindas kami. Saat itu juga, aku ingin memukuli wajah bulat berleher pendek itu dengan kepalan tanganku yang sedari tadi kutahan. Tapi, aku tidak bisa melakukannya karena terhalang oleh pagar sialan ini.

Uwooo ... kenapa dengan wajahmu, hah? Ingin menantangku? Kurang ajar sekali kau!” serunya dengan hardikan keras, bahkan air liurnya muncrat dengan menjijikan.

Tangan kecil menggenggamku dengan erat. Segera kuurungkan niat untuk lebih jauh membuat pria itu marah pada kami. Dan tanpa sepatah kata kami meninggalkan rumah besar itu, tanpa menatap kembali pria itu yang kini mencak-mencak memberondongi kami dengan sumpah serapahnya.

Kami terdiam seribu bahasa hingga sampai di tempat Om Gendut. Tempat itu seperti gubuk yang lainnya, hanya saja sudah sedikit lebih baik dari gubuk kami, atapnya beralaskan asbes, dindingnya juga terbuat dari kayu yang mudah termakan rayap. Kami mempercepat berjalan ke arahnya saat dia menatap kami dengan datar.

“Kenapa lama sekali? Dasar lelet!” hardiknya dengan wajah garang bercodet di bagian pipi kirinya.

“Maaf,” singkatku tanpa mengungkap alasan kami telat. Om Gendut memang tak butuh alasan, dia hanya butuh uang setoran dari kami.

“Mana?” tanyanya sambil mengulurkan tangan ke arah kami.

Kuserahkan seluruh tisu di dalam kantong plastik hitam padanya. Saat dia membuka dan mengeceknya, Om Gendut dengan wajah memerah menyembur ke arah kami, “Apa-apaan ini? Kenapa kalian belum juga berhasil jual satu tisu pun? Kalian ngapain aja, heh? Kalian bermain dan tidur di saat bekerja?”

Aku tahu Om Gendut akan marah besar kepada kami, dia berbalik dan mengambil tongkat kayu yang berdiameter 1 cm. “Mana kedua tangan kalian?” Aku menuruti dan membuka telapak tanganku yang basah. Begitu pun juga adik.

Om Gendut siap memukul ke tangan adik yang mungil sebelum aku berteriak menghentikannya, Om Gendut tentu saja kesal tindakannya terhenti. “Biarkan ... biarkan semua hukuman adikku, aku yang menanggungnya,” lirihku sambil menelan ludah. Tentu saja jawabanku membuat Om Gendut menyeringai bagai mendapat mangsa yang menggiurkan. Dengan tanpa ampun, Om Gendut memulai aksinya. Dan di penghujung sore ini, suara teriakan kesakitan menggema begitu keras dari tempat itu.

Akibat tak ada satu pun tisu yan terjual juga berarti tak ada sepeser uang yang kami dapat. Untungnya aku masih punya uang Rp5.000,00 dari hasil tabunganku untuk berjaga-jaga kalau hal ini terjadi pada kami. Dengan uang itu kami membeli satu bungkus nasi tanpa lauk yang menggiurkan. Kami masih bisa makan hari itu saja sudah sangat bersyukur meskipun harus makan nasi ditaburi garam yang membuat semut pun enggan mendekatinya.

Diam-diam tanpa sepengetahuan adik, aku menyimpan beberapa uang di bawah tikar usang yang menjadi alas kami tidur. Aku melakukannya karena ingin membeli aquarium beserta ikannya dan memberinya kepada adik. Saat adik terlelap dan mendengkur begitu keras, aku menghitung hasil tabunganku selama ini. Beberapa menit kemudian, aku tersenyum dengan puas.

Sinar pagi mulai menerobos dari balik-balik kardus kami yang sudah reyot, aku terbangun dengan wajah berantakan dan menyadari tanganku yang ternyata membengkak dan terasa sakit sekali. Kuambil minyak jelantah yang sengaja kusimpan dan mengoleskannya ke kedua tanganku dan perihnya menyelimutiku hingga tanpa sadar aku meringis seperti kuda.

“Sakit ya, Kak? Maafin aku, ya.” Aku tersontak saat adik terbangun dari tidurnya yang nyenyak, apa ringisanku mengganggunya tidur?

Aku menggeleng dengan senyuman bohong yang sering kulakukan jika adik menanyai keadaanku. “Kakak ini kuat, hal beginian belum seberapa sakitnya,” begitulah kataku dengan sombong.

Tanpa ingin memperpanjang, aku mengajak adik ke sebuah pasar dekat daerah kami yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Adik menggerutu kenapa harus pagi-pagi ke pasar? Seharusnya sarapan terlebih dahulu, cacing-cacing perutnya berdemo dengan ganas.

Gerutuan adik terhenti saat di hadapkan pada sebuah toko ikan yang lumayan ramai dikunjungi. Ditatapnya aku dengan tatapan polosnya yang menggemaskan. Kukembangkan senyum padanya, “Carilah ikan yang kamu ingin.”

Tak perlu dikatakan berkali-kali, adik menghambur ke toko ikan itu seperti sudah lama tak diberi kebebasan dari ruang himpit. Dia sibuk menatap ikan-ikan di sana dengan seksama dan memilih ikan yang ingin dibawanya pulang ke gubuk. Aku tersenyum penuh makna, sudah lama tidak melihat adik bahagia selain dibelikan sepatu baru saat mereka masih sempat sekolah.

Lima belas menit kemudian, adik telah menambatkan hatinya pada ikan berwarna oranye dengan sirip dan ekornya yang cantik. Kubelikan juga aquarium untuk tempat tinggal ikan mungil itu menyusuri jalan yang itu-itu saja; mengitari ruang aquarium sambil memamerkan ekor dan siripnya yang indah.

Sepanjang perjalanan, adik tak henti-hentinya memandangi ikan cantik itu seakan takut jika ikan itu menghilang begitu saja dari pandangan mata cokelatnya. Aku terkekeh menatap keluguannya. Aku memang sengaja membeli aquarium dan ikan itu agar bisa melihat adikku tersenyum membanggakan deretan giginya yang bolong.

Sesampainya di gubuk, kami dikejutkan dengan kedatangan tamu yang tak diundang. Pria bangir dengan perut buncit juga beberapa bodyguard-nya tengah menunggu kami sambil memegang beberapa balok kayu yang cukup besar. Kulihat ke arah gubuk tercinta kami yang kini sudah porak-poranda. Aku begitu marah dan kudatangi mereka dengan sikap angkuh. “Apa yang membawa kalian ke sini dan menghancurkan gubuk kami?”

Pria bangir itu maju dengan wajah tak bersahabat dan lebih menyeramkan dari hari kemarin. “Ikan-ikanku hilang dicuri. Dan aku baru teringat bahwa ada dua bocah miskin yang tertarik dengan ikan-ikanku.”

“Kau jadi menuduh kami?” tanyaku dengan memicingkan alis, menyampingkan rasa sopanku.

“Kami tidak mencurinya!” teriak adik memberi pembelaan.

“Hohoho, lihatlah apa yang mereka bawa? Bagaimana kalian bisa membeli itu? Uang darimana kalian?”

“Aku menabungnya,” sahutku dengan nada tak ramah.

“Menabung? Hahaha. Jangan membuatku tertawa, bocah miskin mana bisa menabung? Dapat upahnya saja tidak cukup untuk makan apalagi menabung?” Dia mendekatkan wajahnya ke arahku, bau tuak menyembur dari mulutnya yang seperti burung beo. “Aku sekali lagi bertanya bocah, di mana ikan-ikan yang kau curi?”

“AKU TIDAK MENCURINYA!” teriakku tepat di telinganya. Dan dengan kemarahan yang memuncak, aku tiba-tiba dihempaskan ke tanah oleh orang-orang bayarannya.

Pria bangir itu mulai mengambil kasar balok kayu dari salah satu bodyguard-nya dan mulai memukul. Aku menutup mataku karena tindakan itu sangat menyeramkan untuk dilihat. Tiba-tiba saja arah balok kayu itu mengenai aquarium dan ikan yang dipegang adik, sontak aquarium itu pecah begitu pun dengan ikannya yang jatuh gelagapan di tanah. Adik terdiam, air merembes dari matanya. Kuteriakan agar adik pergi dari sana. Tapi dia tidak dengar, dengan kekuatan kecilnya dia meninju perut buncit pria bangir itu. Pria bangir yang juga tengah memuncak emosinya dengan tega melayangkan balok kayu ke arah adik. Aku meraung mendapati adik yang sudah tidak sadar bersimpah darah yang menggenang. Dengan kalut aku berusaha bebas dari keadaanku dan melayangkan tinju ke rahang pria bangir itu, muncrat darah menghiasi wajahnya yang menjijikan itu. Belum genap aku memuaskan diri, dari arah belakang aku menerima hantaman keras yang membuatku terjatuh terkapar bersama adik di sisiku.

Di saat-saat napasku tersengal, kutatap ikan oranye itu yang sudah tak bergeliat lagi memamerkan sirip dan ekornya. Kutatap adik yang sudah beralaskan darah yang mengalir deras, tubuhnya tak bergerak bahkan riang dan senyumnya seperti saat dirinya mendapati ikan yang diinginkan turut sirna. Mataku memanas, kurasakan aliran hangat yang menyelimutiku. Samar-samar kulihat wajah adik yang tersenyum dengan gigi bolongnya tengah memegang aquarium yang berisi ikan oranye. Dan seketika kututup kedua mataku dengan wajah tersenyum.***

Dyah Yuukita, penulis yang aktif di komunitas One Day One Post dan Nulis Aja Community. Penyuka hujan, es krim, dan gemerlap cahaya di malam hari. Tinggal di Depok, Jawa Barat. Blog pribadinya www.dyahyuukita.wordpress.com

Komentar Pembaca

Pembacasetia

Suka banget sama ceritanya

Dwi Septiyana

merembes euuuy

AgusSalim

Ada cerita keduanya enggak,,??? Sedih bgt

Miftah

Mantap seneng banget sama ceritanya, semiga sukses selalu kak diah

Miftah

Mantap seneng banget sama ceritanya, semiga sukses selalu kak diah

Nyi Heni

wow keren

Yulia

Kak Dyah tulisan nya keren. Hati ini bergetar jika membayangkan anak2 itu๐Ÿ˜ข

Maria

Kerenn mbaak.....

Kereen Dek Dyah

Selvi Febrn

Sampe segitunya ya Allah. Ngena banget kak masyaallah ceritanya ๐Ÿ˜ข

Lilis Indrawati

Bawa sini tisunya nak, bunda beli semua.

yoharisna

Potret kehidupan yang tak tersentuh ya, mbak. Moga jadi pengingat.. Anyway, keren mbak^^

Nio Z

๐Ÿ˜ญ selalu saja ada orang-orang yang buta nurani~ Ngena KaDit๐Ÿ‘ kereeen

Siri Gachi

Semua karena ikan dan orang yang tak berperasaan yah.

Ayu Safitri

Ikut kebawa suasana akunya

Ayu Safitri

Ikut kebawa suasana akunya

Joko Septiono

Sudah saya review tulisan ini Mbam Dyah, bisa cek di ayahjesi.blogspot.com terima kasih

Joko Septiono

Sudah saya review tulisan ini Mbam Dyah, bisa cek di ayahjesi.blogspot.com terima kasih

Akep.id

Meninggal kah mereka berdua? Tidak ada yang menolong?

Meitantie

Kaya, sombong, plus tak berhati nurani.

Endang Setyowati

Dimana ya hati nuraninya,.. Hatiku terbawa suasan, ngak tega

Lusi Damayanti

Kalimat yang digunakan mudah dimengerti. Alurnya juga bagus. Bertahap, paragraf satu sampai seterusnya tetep dibaca, nggk ada yang bisa bikin kelewatan. Selalu buat penasaran. Endingnya sedih.

Endang Setyowati

Dimana hati nuraninya? Ngak tega,.. keluar air mata. membacanya

Inara Yunita

Kak Dyahhhh ๐Ÿ˜ข๐Ÿ˜ข Nelangsaaa hati ini bacanya, masih aja ada manusia yg tak punya hati nurani dan menuduhkan orang kecil dengan sembarangan.

Angrumaoshi

Simple namun mengena di hati. Pilihan diksi yang beragam hingga benar-benar dapat menggambarkan suasana dengan detail. Membacanya pun serasa ikut masuk berada dalam cerpen tsb.

FITRIATI ARINA MANASIKANA

Bagus mbak... sedih.. ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ‘

Anne

Sedihhh ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ

Amanda Kinta Nur

Berasa banget sedihnya๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ bagus banget cerpennya Mbak Diah๐Ÿ‘๐Ÿ˜Š

Berikan Komentar