Chania
Edisi 10/I/Desember 2019
Oleh: Adelanafi

Cerita di Persimpangan Jalan

Tuan..
Aku termangu dalam ruang sepi tak berteman
Susuri sunyi desiran waktu yang tak mungkin mengeluh
Bibirku kelu sekedar berkata
Memandang bulan rebah saat kuterlentang melawan arah
Berusaha menolak bayang lama kian membuatku sengsara

Aku rapuh
Jatuh bersimpuh susah tumbuh
Bila jua tuan rasa menjuntai iba
Aku tetap dirangkul tikaman tak kasat mata
Aku diterpa petaka tak bersisa

Akankah tuan meraba?
Lenyapkan dahaga yang aku punya
Datang kembali ke depan mata
Meski harapku sebatas fatamorgana

Sketsa Abu

Aku tertunduk lugu
Terjebak dalam pilu semesta biru
Meski luas lukis kelabu
Seluruh penjuru menikamku pada nyata yang nampak semu

Baiknya aku diam dulu
Tak peduli panas api atau dingin salju membunuh waktu
Ku tak mau sketsaku turut layu
Macam hati termakan rindu yang tak ujung temu

Sambil duduk termangu
Pandang langit biru berselimut awan abu
Aku curahkan segala ilmu
Agar padam api cemburu

Sebetulnya aku ragu
Tak sedikit rela sketsa putih tertelan kelabu
Bergambar sendu di kala rayuanmu bergelayut mesra ke puncak halu
Aluni alufiru mimpi yang memaku banyak jiwa tenangku

Tapi... aku sedia demi sketsa suciku
Biar dia tetap bernada merdu
Iringi kisahku yang berakhir lebur

Di Balik Kenangan Hujan, Tuan Dinantikan

Tuan..
Kata demi kata kutarah tuk memuja
Betapa aku berbangga ketika kau datang membawa suka
Sengaja meminta, mempersilahkan kau singgah lebih lama biar kumerasa bahagia

Katamu indah catatan senja adalah bentuk kolam penghias rasa
Menjelma siulan asmara iringi laju kita berdua
Lukis elok sandiwara di tengah tarian gelombang samudra
Dan... lepas hiasi peristiwa lampau untukku tersenyum bersama gugur daun musim kemarau

Tapi tuan...
Akankah kau paham?
Kini aku teramat luka
Hancur hati seketika saat kau memutuskan tiada entah ke mana
Aku letih pula sedih menahan perih
Kau lenyap seolah menantangku lalui rongga kesendirian bersisa sepi
Tanpa ujung helai yang kan bersalam damai

Ah, tuan...
Sepertinya aku menyerah
Aku pasrah
Aku terlalu dalam menyelam kesunyian ini sendiri tanpa kau di sisi
Kini aku tak lagi bisa memaksa
Aku sadar aku cukup berdosa bila terus mendesak di mana kau berada
Hanya rasa rela kan kuberi walau sedikit tak terima
Kau memilih benar-benar pergi dan mungkin tak akan pernah kembali

Adelanafi adalah nama pena dari Siti Dela Khoyrunnisa, anggota ODOP batch 7 kelahiran Ciamis, 13 Oktober 2001.

Komentar Pembaca

Lilis Odiah

Cakep

Berikan Komentar