Chania
Edisi 10/I/Desember 2019
Oleh: Erlina Anriani Siahaan

Lanna alias Butet terkesiap. Menyeka peluh menganak sungai yang menuruni lekukan mulus permukaan pelipis dan kening putihnya. Sesosok wanita bak titisan dewi surga jana yang turun ke bumi. Sang dewi berpeluh. Dadanya menaik dan menurun mengikuti irama jantungnya yang cepat. Ia baru saja bermimpi tentang peristiwa sepuluh dua puluh tahun mendatang. Saat senyumnya tak lagi berenergi erotis, tak lagi mengundang kemaskulinan para lelaki. Gitar spanyol tak lagi bersentuhan dengan dekapan puja dan puji. Perhatian dan cinta tak lagi membalut berlapis-lapis. Ia hamil. Gitar spanyol berubah wujud, berbalut kain satin yang cerah di bawah lampu neon berwarna merah semerah darah. Gitar yang sudah lapuk. Gemuk bulat dan melingkar kehilangan kerampingan dan pikatan. Rambut acak awut-awutan di pelipis. Ia memperhatikan warnanya. Hitam, legam, pekat. Syukurlah! Ia membatin. Aku masih muda, uban itu hanya mimpi. Mengambang di antara dunia dan negeri dongeng menyedihkan tanpa moral cerita. Hanya sebuah delusi, khayali, fantasmogaria bahkan hanya dalam tidurku saja, ia kembali membatin. Ia menyentuh perut. Tidak menggembung. Tidak ada yang menyembul di sana. Huff … hanya sebuah mimpi.

Mengapa ia harus bermimpi kala impiannya sendiri sudah dibuangnya ketika ia bermimpi keluar dari jerat mimpi itu? Ah … mimpi Ibu yang ditanamkan dalam benaknya harus terkubur dalam bolus-bolus saraf pusatnya. Ia menangis. Merindu pada Ibu nun jauh di sana. Ia meraih ponsel di laci tepat di tepian tempat tidurnya. Laci dari Jepara berdinding lapis emas. Akankah ibunya menyukai kemewahan yang selalu didambakan dan ditanamkannya pada putri kecilnya itu dulu?  

Ia menyingkap selimut sutra beludrunya. Kehangatan yang tercipta dari kemewahan dan cita rasa seorang wanita kelas atas. Iya, dia masih di jajaran yang seharusnya. Kaki jenjangnya menjulur di tempat tidur enam kaki berharga puluh jutaan itu. Ia masih Lanna, sang dewi yang dicari para lelaki bercita rasa kelas atas. Bukan para! tetapi lelaki. Yah, hanya orang-orang tertentu yang memiliki akses dengan radius dekat dengannya. Dalam artian lelaki, tentunya.

Ia mengusap layar dengan jemari lentik hasil sulapan manikur teratur yang sudah terjadwal datang ke rumahnya. Eh, bukan! Ke hotel. Apa bedanya? Rumahnya adalah hotel Marie.

Halo … Ma! Ia menyapa dengan bibir bergetar. Mimpi masih menghantuinya.

Butet! Ada apa, Nak? Panggilan hangat yang mendamaikan menyelusup mengusir hantu mimpi pelan tetapi pasti. Masih jam 2 subuh, Sayang. Kamu bermimpi? Ibunya bertanya. Ia menangis. Maafkan aku, Ibu, ucapnya lirih. Kamu pasti bermimpi buruk, ya? Atau jangan-jangan kamu sakit? Sang ibu berhenti, menunggu balasan dari putri kesayangannya itu. Tidak, Bu, ucapnya lirih. Aku hanya rindu, sungguh merindu. Hahaha … kamu, kayak anak kecil saja! Syukurlah kamu sehat. Itu yang terpenting. Kamu harus bekerja besok. Tidurlah putri kecilku. Selamat malam. Malam, Ma! Aku mencintaimu, Ma ….

Ia menangis setelah melempar ponsel ke atas tempat tidur. Aku tidak sedang baik-baik, Bu! Aku tidak perlu istirahat di malam hari untuk bekerja di pagi, siang hingga senja menjelang seperti yang selalu menjadi cerita kita di malam-malam panjang kita, Bu! Aku berkisah padamu, malam itu dan kebanyakan di malam-malam yang kita habiskan dengan meletakkan ponsel di telinga kiri kita sambil bekerja. Aku bekerja di malam hari, Bu. Walaupun aku mengajak Ibu bercerita sebelum melakukan pekerjaan inti yang harus kulakukan penuh profesionalitas. Integritas dan memuaskan. Aku perlu mengingat kasihmu sebelum melakukan pekerjaan itu. Aku adalah sebuah tubuh terperangkap dalam sebuah drama persetubuhan sarat birahi, sarat erotis, sarat ereksi, sarat akan beban yang kau pikul di bahumu, tentang Lya yang lulus kedokteran bulan lalu, tentang Bram yang sedang menyusun skripsi. Mereka butuh berikat-ikat uang. Aku harus profesional, bukan?

Ia tertawa, memenuhi ruangan sepuluh kali sepuluh mewah yang khusus menjadi huniannya. Ia tertawa dalam isak yang tersengal dalam kerongkongan. Ia ambruk. Lelah memasang apa-apa menjadi sandiwara. Ia menangis sejadi-jadinya. Menangisi diri yang tidak punya keahlian selain kecantikan yang tiada tara. Lya harus menjadi gambaran sungguhan mimpi ibu untuk kedua putrinya. Bram harus menjadi tempat kelak di masa tuanya bisa berteduh. Ia bisa membayangkan, kelak di masa tua ia hanya sebatang kara. Tanpa kekasih, tanpa rumah yang hangat dengan anak-anak. Ia akan sendirian dan kehilangan sensasi sintal tanpa kebinalan. Terkutuklah aku, gerutunya menghukum diri. Selama berjam-jam ia hanya meraung hingga mentari yang menyusup menyelinap dari balik gorden kamar menyentuh kulitnya namun tak mampu menghentikannya.

Sebuah ketukan pelan penuh irama teratur di balik pintu membuatnya memalingkan wajah ke layar di sisi kanan pintu. Lambaian tangan seorang pria berambut klimis merekah dengan senyum lebar di layar. Ia berdiri, tanpa menyeka air mata yang masih menyisakan alur genangan yang mengguratkan kepedihan, penyesalan dan sebuah penghukuman.

“Kamu menangis?” Pria berdasi merah maroon itu tampak khawatir. Ia menyeka air mata itu. Membelai rambutnya untuk seketika dengan seketika. Lalu menjauh duduk di bangku cokelat mewah di sisi kiri ruangan itu. “Sudah kubilang, Lan! Hidup ini adalah sebuah berkah. Jalanilah! Aku sudah bilang, kamu adalah satu dari sekian orang sukses—”

“Aku manusia gagal, Ran ….”

“Oh, ya? Siapa bilang? Manusia sukses itu berbeda untuk sudut perspektif tiap-tiap kita. Aku misalnya, sukses bagiku adalah saat aku memiliki kolega dan mempertahankan Marie, bahkan membawanya ke bintang enam. Menjadi bintang lima saja sudah memikatku begini. Coba bayangkan jika kita membuatnya menjadi hotel berbintang enam. Itu keajaiban dunia berikutnya yang harus kita lihat. Kamu misalnya, bukankah kebahagiaan ibu dan kedua adikmu adalah kesuksesanmu?” Ia menatap jauh ke dalam hitam bola mataku. Meneliti saksama tentang rasa yang harus kubenamkan dalam-dalam di biluk-biluk lorong sepi dan hampa di tepian retinaku.

“Aku tahu kamu kuat! Sudahlah, dunia adalah di mana sebuah perjuangan bisa menjadi sebuah kutuk dan sebuah pengorbanan adalah karma. Ingat, di perspektif tiap-tiap mata, di tiap-tiap opini, pendapat dan komentar, semua bisa terjadi. Bisa saja A berubah jadi Z. Ingat! 6 saja saat ini jika diletakkan tepat di tengah kita, bagiku mungkin akan tetap menjadi 6. Bagimu, percayalah, dengan perhatian penuh fokusmu, ia adalah angka 9.” Ia menatap mata sang dewi dengan dalam. Sesungguhnya ia begitu menyukai integritas dan sudut pandang wanita itu. Saat pertama kali bertemu, Lanna dahulu dengan yang sekarang tidak berbeda. Ia tetap kalem, tetap bersahaja, tetap pemalu dan tentu saja tetap menggetarkan hatinya. Tetapi, profesionalitas menjadi pagar pemisah yang tetap membuat semuanya kelihatan lebih beradab, lebih santun dan penuh tata karma. Kadang, ia lebih menyukai keadaan ini. Setidaknya Lanna akan selalu dekat dengannya. Melihatnya berurai air mata sesungguhnya menggetarkan jiwa maskulinitasnya. Ia seharusnya mampu menjadi alasan berhenti menangis. Alasan untuk tersenyum, alasan untuk tetap tampil cantik memesona. Ah, Lanna. Terberkahilah seluruh kehidupanmu.

“Aku akan melayat. Bersiaplah, gunakan baju yang mampu membuatmu merasa senang. Kau tahu, kau membuatku tertekan harus melihatmu berkabung setiap pagi.”

“Maaf, aku—”

“Sudah! Aku paham.” Ran berbalik dan menghilang di balik pintu. Seketika muncul dengan hidung mancungnya, “Bawalah sebuah topi lebarmu. Kita akan ke pantai pulang dari sana.” Lalu berlalu tanpa menunggu jawaban. Ada secercah senyuman getir di wajah Lanna. Pantai adalah tempat yang selalu ingin ditujunya kapan dan di mana pun. Tunggu dulu, Ia tak pernah memberitahukan siapapun tentang pantai. Dirinya adalah sesuatu yang harus tersembunyi. Ia dan segala rasa dan kesendirian harus terkubur dalam-dalam. Ia tak butuh dipahami, ia harus mampu meniadakan diri. Setiap hari Minggu adalah libur untuknya. Di hari itu, Ran tak akan mengusiknya tentang daftar tempat yang akan dituju, tentang tamu yang akan datang, tentang malam panjang yang harus ia lalui dengan senggama, tentang berbagai trik safety yang harus dilakukan jika sang tamu berenang aneh atau bahkan enggan menepi. Hanya sebuah klimaks, itulah aturannya, suatu ketika Ran berujar panjang kali lebar. Jangan melayani dengan hati. Simpan hatimu di dalam lacimu, di bawah lipatan dan timbunan uangmu, tambahnya kala itu. Satu yang ia tahu, lelaki itu adalah lelaki penuh perhatian yang terlalu mendewakan Marie. Sejujurnya, perhatian lelaki itulah yang menenangkannya bekerja mengarungi malam berombak, mengimbangi arus hingga ia tidak karam. Kadang, ia bahkan membayangkan lelaki itulah yang sedang menungganginya. Hanya saat-saat tertentulah itu bisa terjadi. Tanpa bisa diprediksi. Kala itu, ia akan memburu, mengarungi lautan yang tak mampu ia selami, terus saja berlayar dan berlayar, menyelam sampai ia benar terhempas di dada lelaki itu. Tetapi, ia tak layak bermimpi tentang itu. Kebaikan lelaki itu sudah sangat lebih dari cukup. Ia takkan pernah benar-benar terhempas di dada lelaki itu.

Ia menaiki pintu mobil yang dibukakan dengan hormat untuknya.

“Terima kasih ….” Ia tampak cantik dengan stelan jeans dan kaos putihnya.

“Apakah kamu senang?” Lelaki itu bertanya dengan sekilas, memperhatikan busana santai perempuan di sebelahnya.

“Aku memang harus senang. Senang atau tidak memang aku harus selalu senang.” Ia menunduk. Memainkan jemarinya. Ia kembali melankolis.

Pria itu terdiam. Ia sedih tak mampu membuat sang dewi gembira. Semua harus berubah, pikirnya seketika. Dua tahun menjadi rekan dalam satu atap—Marie. Selayaknya memang harus ia perjuangkan. Mobil membelok memasuki areal pemakaman. “Sudah dikebumikan. Kita hanya perlu menyalami San Daunders. Tidak akan lama lagi kamu akan berenang di pantai. Tersenyumlah ….” Ia menatap wanita itu. Yang ia harapkan menjadi kenyataan, wanita itu tersenyum namun penuh tanda tanya. Ia bergegas keluar dan dengan cekatan sudah membukakan pintu sebelah. Seorang EO mendekati mereka. Memberi penghormatan. Seorang GM hotel terbesar di kota datang melayat rekan kerjanya memang layak diberi sebuah penyambutan.

Ran mendekati San Daunders. “Turut berduka, San … semoga kedamaian selalu melingkupi hatimu.” Ran menjabat tangannya dengan hangat.

“Menjadi duda tidak terlalu menakutkan, Ran. Bukankah banyak wanita yang siap kunikahi?” San berkomentar sambil melirik ke arah Lanna. Lanna menunduk. Kata-kata pelan, tanpa tendensi menggoda namun sangat meremehkan baginya, mencabik-cabik hatinya. Makna siratnya begitu dalam. Bahkan bagi Ran. Ia menarik tangannya dengan halus, penuh pertimbangan. “Baiklah, kami harus pamit, San! Ada acara penting yang harus kami hadiri.” Ia bahkan berpaling tanpa menatap mata yang sedang berkabung itu masih ingin berkisah padanya. Ia menarik tangan Lanna dengan erat. Emosinya memuncak. Belum pernah ia merasakan dadanya sesesak itu.

Dalam meratapi nasib dan berusaha mengumpulkan puing-puing harga diri yang ia miliki, Lanna mencoba mengangkat kepala. Apa yang mereka tahu soal pengorbanan, soal dapur yang harus mengepulkan asap, soal esok yang harus bertabur mentari, soal siksa yang harus tersembunyi di balik kesendirian, soal mimpi yang terkubur demi mimpi-mimpi lain yang akan menciptakan mimpi-mimpi indah di atas segala mimpi. Apa yang mereka tahu soal mimpi? Hanya Ibu yang mengetahuinya. Lalu, ia tersadar saat ini ia sedang tak bermimpi. Ran memegang tangannya dengan kuat. Ia merasakan aliran emosi yang meninggi, ia tahu, Ran merasakan peremehan yang baru saja merendahkannya. Ia terluka untukku? Ah, terlalu melankolis, apakah ia tersinggung untukku? Ia begitu mulia. Ia menganggapku bagiannya. Begini saja sudah cukup mendamaikanku. Begini saja. Jangan berubah, aku takut jika genggaman ini beralih, akan menjadi apakah aku? Ia buru-buru membuang rasa yang mulai tidak tahu diri yang menguasai dirinya. Berhentilah menghayal, mengabaikan diri adalah perjalan yang harus kautempuh. Sebab cinta dan mimpimu sudah kaukubur demi mimpi-mimpi yang harus kauimpikan. Ia menarik tangannya dengan pelan, penuh hati-hati.

“Apakah sakit? Maafkan aku, aku tidak sadar …Aku—” Mereka tepat mencapai parkiran. Sebuah tinju ia kepalkan ke mobil paling mewah di sana—mobil San. Sebuah lubang menganga di sana. Baja itu peyot dan sirene segera membahana.

“Kita bisa menjadi bermasalah jika masih harus di sini. Ayo ….” Lanna menarik lengannya dengan kasar. Ia berubah, bukan lagi Lanna yang sering berduka, berkabung di pagi hari. Ran terpukau pada kekuatan perempuan itu. Ia menarik Ran tanpa ragu.

“Buka pintu mobil. Sini kuncinya.” Lanna seperti memerintah, Ran mengikut saja.  Ia meraihnya dengan cekatan. Ia medorong tubuh Ran ke dalam mobil. Ia segera masuk dan mengemudi dengan laju melesat. Melebihi kecepatan cahaya.

“Untuk apa melarikan diri? Aku hanya tak mungkin menghabisinya di depan makam istrinya dan di depan seluruh pelayat. Itu mungkin hari kematiannya juga.” Ran berkomentar tenang.

“Jika masih memiliki pertimbangan, mengapa hari pemakaman istrinya harus menjadi hari pemakamanmu juga?” Lanna berkomentar tanpa menatap lelaki di sampingnya. Ia terus melesat melebihi kecepatan cahaya.

“Kamu takut San menemukanku?” Ada harap di balik tanya yang tak lagi memikirkan jika, andai dan takut kehilangan. Begitu saja.

“Aku hanya ingin cepat tiba di pantai.” Lanna mencoba menguasai diri. Bercinta, memiliki cinta dan memperbanyak diri dengan cinta adalah mustahil. Ia sudah menguburnya. Jauh. Tak ada yang mampu menjamahnya. Ia mencoba menyangkal diri tentang perasaan yang diciptakan untuk saling memikirkan. Tuhan tak benar-benar menciptakan, menumbuhkan, dan menjadikan apa-apa indah—termasuk sebuah mimpi. Ia menyangkal kebenaran yang sesungguhnya ia junjung. Kenyataan dan kehidupan membuatnya harus bisa menyangkal. Hidup adalah sebuah pengorbanan. Pengorbanan untuk kehidupan lain, pengabdian diri untuk diri yang lain. Seperti seorang ibu yang harus menepiskan sisi keperempuanan untuk menjadi perkasa bagi anak-anaknya. Seperti seorang kakak yang harus menjadi ibu bagi adik-adiknya, bahkan bagi ibunya juga. Hidup tidak seberpihak yang didongengkan dalam buku-buku dongeng anak yang seorang anak kecil peroleh ketika meminta ibunya membawa berkeliling-keliling kota, melihat dengan asyik keramaian yang ada. Lihat becakku lari, bagaikan tak berhenti, becak, becak, jalan hati-hati. Tetapi, aku punya hati, empunya segala nurani dan intuisi. Mampukah aku menguburnya? Lanna bertanya dalam diam untuknya, untuk dirinya tanpa perlu memikirkan, apalagi menjawabnya.

“Kau suka pantai?” Ran bertanya memecahkan diam yang begitu menyelimuti. Diam yang tak benar-benar hening. Dua manusia yang saling memperkarakan perkara hati masing-masing.

“Menurutmu?” Lanna balik bertanya.

“Kau setiap minggu mengunjunginya. Berendam berlama-lama sambil menangis. Menurutmu, wajar kan aku mempertanyakan—”

“Kau mengintaiku? Bahkan di hari liburku? Katakan anak buah mana yang melihatku berendam? Melihatku bertelanjang—”

“Aku! Aku sendiri yang melakukannya. Maafkan aku, Lan ….” Ran tahu, adalah suatu kesalahan melihat seorang wanita berendam di pantai di malam hari. Bertelanjang tubuh. Berendam dengan derai air mata. Mobil menepi. Hari minggu adalah hari libur penuh privasi yang Lanna habiskan menyucikan diri dengan berendam di pantai. Mengusir aroma tubuh, aroma birahi, aroma senggama yang menyatu dengan tubuhnya. Hingga malam tiba. Pantai yang ia pastikan tidak ada orang lain. Beberapa penjaga akan diletakkannya di beberapa titik. Menjaga kesendirian yang benar-benar sendiri. Tetapi, ia lupa Ran adalah pemilik pantai. Tak mungkin penjaga memberitahu dirinya seorang Ran memasuki zona kesendiriannya. Kala ia menghanyutkan seluruh pakaian yang ada pada tubuhnya, membuatnya merasa telah melepaskan seluruh dosa dan aib dalam dirinya. Ia akan berdoa sambil berenang bebas berurai air mata dan mengimani ada kemurahan Tuhan untuk insan-insan yang merindu sebuah jamahan Tuhan.

Mobil berhenti. Lanna terdiam. Antara emosi yang memuncak, malu, dan dilecehkan. “Berapa kali?” ia berbalik menatap murka pada pria yang tak penting lagi siapa dia. Soal profesionalitas, soal integritas, semua soal, siapa perduli. Wajahnya merah padam, dadanya naik turun.

“Maafkan aku. Setiap kali kamu ke pantai, aku di situ.” Ran mulai resah. Ada ketakutan akan sebuah kehilangan muncul. Ia tak ingin kehilangan lagi setelah kehilangan ibunya.

“Baik. Kita ke pantai sekarang!” Lanna tiba-tiba memacu lacu mobil. Melesat menembus, membelah angin. Hampir tertabrak, nyaris tertubruk. Ran meracau mencoba menenangkan Lanna dengan berbagai penjelasan. Lanna tetap membisu. Ia sama sekali tidak mendengarkan. Ran mencakar kepalanya sendiri. Kehabisan kata-kata. Ia lemah, jika harus kehilangan. Mobil mencapai pantai, namun tak kunjung berhenti. Dalam satu hentakan mobil tepat berhenti di tubir tepian pasir yang bertemu dengan air. Ombak berlarian mengejar menyambut mobil. Airnya mencapai kaca mobil.

“Gila kamu, Lan. Kita bisa hanyut.” Ran keluar dari mobil. Melangkah ke sisi kanan mobil tepat di sebelah Lanna. “Buka pintu dan biarkan aku memundurkan mobilnya.”

“Aku juga bisa!” Lanna memundurkan mobil dengan kasar. Ran kaget. Ia berlari ke arah Lanna. Tepat ketika mobil berhenti.

“Baik. Sekarang aku akan berenang, bertelanjang dada, ini yang kamu nantikan di tiap kali kamu membuntutiku kemari. Sekarang lihatlah! Tanpa harus bersembunyi. Lihatlah! Bukankah kamu sanggup membayarku lebih dari siapapun?” Lanna mulai melepaskan pakaian yang melekat pada tubuhnya. Ia menangis. Sesungguhnya ia berduka yang amat sangat, karena merasa dikhianati oleh cinta yang dengan sadar mulai ia rajut di relung terdalam hatinya. Yang mulai terjamah oleh seorang pria, Ran. Mengapa ia harus selalu salah soal cinta, soal perasaan dan soal mimpi barangkali. Ia bahkan takut kalau-kalau ia akan masih bisa mengabdi tanpa salah. Kepada ibu dan kepada kedua adiknya. Hanya merekalah keluarganya. Selama ini dalam lingkar dirinya, ia mematri Ran di sejajaran ibunya. Mengalahkan kedudukan Bram. Ia salah. Kaos putih terjuntai ke bawah. Terlempar begitu saja tanpa arah. Gaya mekanik tanpa arah yang pasti menjatuhkannya dan mendarat dalam pilu di tepian kaki Ran. Ia memungutnya, ia diam. Tanpa tahu berbuat apa. Wanita itu
menangis dan aku membuatnya menagis, lelaki macam apa aku ini?
Ia mengutuki dirinya.

“Baiklah, kamu sepertinya punya hobi bejat. Lihatlah! Persetan dengan cinta! Persetan dengan dunia, dengan pengorbanan dengan orang lain!” Ia melemparkan tali pinggang peach-nya sembarang. Sesaat, ia mulai membuka kancing jeans-nya. Ran tersadar, bukankah dunia selalu mempunyai kemungkinan pertama dan kedua bahkan kesejuta kali yang mampu memberikan keajaiban? Jikapun harus kehilangan lagi dan lagi, bukankah ia harus menepis luka untuk tidak semakin menganga?

“Cukup, hentikan!” Ia menepis tangan wanita itu dari kancing jeans-nya. “Aku minta maaf, Lan! Aku bukan mengintip, aku—”

“Ingin tidur denganku barangkali?” Lanna menatap mata yang teduh dan tenang itu. Mata yang mampu menenangkannya. Tetapi tidak kali ini, dan tidak akan pernah lagi. Mata itu sekarang nanar penuh rasa takut, bimbang, dan tidak percaya diri.

“Lanna! Apakah aku sebejat itu bagimu?” Ran melemah. Ia merasa menjadi manusia paling gagal. “Aku ingin menghentikanmu. Tapi itu bisa membuatmu malu. Aku hanya memastikan tidak ada yang mengusikmu. Aku bahkan ikut menangis untukmu!” Ia kehabisan akal. Kehabisan keperkasaan.

“Hahaha … aku tidak butuh simpati dan empati manismu, Ran! Sudahlah. Aku memang harus tahu diri, aku terlalu menganggapmu. Merasa aku berarti untukmu. Aku salah! Aku salah! Aku tolol!” Lanna menjauh. Menuju ke barat. Ke arah tenggelamnya matahari. Ke arah sebuah kepergian. Ran mengejarnya.

“Aku melakukannya karena memang kamu berarti. Sangat berarti, Lan!” Ia mengejar. Mengimbangi langkah gontai perempuan yang menjadi pengisi malam panjangnya. Ia akan menatap CCTV tak berkedip kala wanita itu bekerja tengah malam. Ia ingin menghentikannya, tetapi Marie butuh pelayan sepertinya. Ia mengorbankan cinta dan hatinya untuk Marie. Ia akan meremuk kala menatap wanita itu mencapai klimaks, ereksi dan mengerang mencakar punggung lelaki yang ia tunjuk untuk menghabiskan malam bersama wanita yang ia impikan mengisi mimpi-mimpinya. Mimpi adalah sebuah perkara yang harus menjunjung cinta. Agar kebejatan dan kejahatan tidak berkuasa, agar isak tak lagi melagu, agar air mata tak lagi mencucurkan kepedihan dan kesunyian pada pertiwi. Persetan dengan ambisi. Mimpi. Cita. Yang ada hanya cinta. Ia menangkap tangan Lanna. Merangkulnya dengan kasar dan memeluknya dengan erat.

“Maafkan aku, Lan! Aku tidak tahu akan diriku yang penuh ambisi ini. Maafkan aku, tetapi aku tak ingin kamu melakukan pekerjaan itu lagi.” Ran menatap mata sendu itu. Siluet-siluet yang memancarkan murka dan prasangka untuknya.

“Terima kasih untuk memecatku. Aku juga muak menjadi boneka! Aku muak hidup. Aku muak dengan mimpi dan masa depan! Aku—” Lanna bicara terpotong. Tangan Ran menyentuh bibirnya menyatakan isyarat diam. “Aku tidak memecatmu. Mulai sekarang, maukah kau menjadi pacarku saja, tanpa melakukan pekerjaan itu lagi?” Ran menatap ke dalam relung iris yang menggenang itu. Ia memeluk tubuh itu sekuat mungkin.

“Sungguh, ini semua menyiksaku, Lan! Aku tak ingin kehilangan kamu!” Ran mengecup kening dan menyeka air mata di sudut kedua bola mata yang mampu teduhkan samudra dan riak-riak kemelut yang pernah ia tanam.

“Katakan satu alasan mengapa aku harus bermimpi lagi …” Lanna tampak bimbang.

“Karena aku mencintaimu, selalu … Aku ingin menua bersamamu. Kala kulitmu tak lagi cantik dan kala perutmu menggembung berisi bayi-bayiku, bayi kita. Kala uban memenuhi kepala kita dan kala itu, aku berharap engkau tetap menggodaku dengan gaun satin dengan warna lampu neon semerah darahmu. Aku sungguh ingin menghabiskan malam-malam panjangku denganmu.” Ran memburu. Ada sensasi erotis mengaliri sekujur nadinya.

“Kala tua, aku tak kan mampu melayanimu. Maafkan aku!” Lanna melepaskan tangannya. Mimpi itu, mimpi di malam ia bermandi keringat, hamil dan membulat. Siapakah lelaki yang menghamilinya? Ran? Jangan katakan ini adalah mimpi.

“Kala tua kuharap kita akan menikmati masa-masa ompong dan meminum makan siang kita dengan sedotan. Tetap di sisiku. Tetap bersamaku. Aku akan merasakan dekapan semesta pada jiwa kosongku. Kumohon, beri aku kesempatan ….” Ran menghiba. Meruntuhkan benteng prasangka dan ketakpercayaan yang angkuh pada diri Lanna. Keduanya saling menatap. Diam dalam seribu kata yang saling berbahasa dalam kebisuan. Saling menyampaikan rasa-rasa penuh sensasi yang tersembunyi, terkubur, dikubur, disembunyikan dan kini tersembur keluar begitu saja. Keduanya merasakan degup jantung yang saling memburu dan saling mengadu, merangkul dan saling meyatu. Melebur dan mereplika membentuk untaian seberbak mewangi. Bunga mawar merah yang merekah meleburkan aroma sensasional dan penuh mimpi-mimpi yang bercahaya di bawah mentari berwarna orange hingga kuning mentega.  

“Terima kasih.”

“Untuk apa?”

“Untuk tidak pergi meninggalkanku.”

“Siapa bilang?” Lanna berlari hanya dengan kaos bertali satu. Ran menyodorkan kaos putih yang sedari tadi ia genggam.

“Pakailah! Lebih cantik kalau agak tersembunyi.”

“Dasar kamu!” Lanna balik mengejar Ran. Wajahnya merekah peach kemerahan.

“Jangan malu. Tak perlu! Toh aku akan melamarmu secepatnya, Sayang!” Ran berbisik di telinga Lanna.

“Katakan, akankah aku terbangun dari mimpi panjang ini dan mendapati diriku tak harus bermimpi seperti mimpi kali ini?” Lanna mengucap lirih.

“Sudah kukatakan. Jangan lagi bersedih. Itu membuatku tersiksa.” Ran mengelus rambut panjang Lanna.

“Terima kasih.”

“Untuk apa?”

“Untuk segera melamarku.”

“Siapa bilang?” Ran berlari menuju mobil. “Ayo kita pulang!”

Mimpi itu tidak akan menghantui lagi. Mimpi itu akan membuai. Mimpi itu bukan lagi mengambang di antara dunia dan negeri dongeng tanpa moral cerita. Mimpi itu kini menjadi cerita yang menjadi sebuah perjalanan. Mendarah daging dan kelak akan menjadi sejarah. Menjadi sebuah kenangan manis. Lanna melangkah mengikuti Ran dari belakang. Dia tahu, mereka tidak akan selalu bahagia. Namun, ia tahu mereka akan selalu bertemu damai dalam segala resah, kemelut, sakit, luka, duka, apa pun. Damai yang selalu ada untuk mereka di semua apa-apa yang akan terjadi—kelak—ketika tiba di akhir yang dia yakini—apa pun itu, damai terakhir dan yang ada hanya salam-salam surgawi, senyuman cinta dan mimpi yang tanpa perlu dikubur, disembunyikan. Cinta akan bersimpulan menjahit bahagia.

***

Erlina Anriani Siahaan, seorang penulis yang belajar menjadi terbiasa merangkai kata-kata yang mengalir menganak sungai menjadi sebuah rangkaian yang mampu menghidupkan sisi-sisi yang seharusnya bernyawa. Menemukan terapi jiwa dan menjadi sebuah kisah yang kelak akan diperbincangkan oleh anak-anaknya. Tentang baca tulis yang akan membawamu berkelana menjelajahi semesta tanpa harus berpindah dari nyamannya posisi saat ini. Dunia sebenarnya adalah sebuah ruang di depan mata yang harus kita teropong dengan baca tulis. Sudah menulis puluhan antologi dan aktif dalam dunia kepenulisan. Berharap semoga esensi abjad-abjad sedikit lebih mengilhami, lebih membuat dunia berwarna. Monokrom sudah terlalu menjemukan. Anggota ODOP batch 7 ini tinggal di Kota Pematangsiantar.

 

Komentar Pembaca

yoharisna

Keren. Tentang hidup dan pengorbanan. Juga kesempatan ke dua..

Maria tanjung sari

Bagus banget cerpennya

Erlina Siahaan

Terimakasih. :)

Anne

Wow, menarik!

Karis Rosida

Keren bingitt ni kak erlin 😀

Nyi Heni

Wow keren

Sabrina

Keren banget. Keep writing Mbak

Erlina Siahaan

Wah ... sangat tersanjung dengan komentar para kakak-kakak sekalian🙏😍 semoga bisa belajar lagi lebih baik lagi bermain kata-kata

Berikan Komentar