Chania
Edisi 9/I/November 2019
Oleh: Vinny Martina

Berat rasanya meneruskan langkah ke dalam gedung berlantai tiga ini. Meski interiornya dirancang sedemikian rupa agar memberikan kenyamanan dengan membuat taman, kolam ikan dan air mancur. Detak jantungku tetap saja langsung belingsatan begitu kaki mendarat tepat di depan pintu masuk, napas mengerat tenggorokan sebab ngeri pada 'bagaimana nanti'. Tidakkah ini aneh?

Aku yakin, saat ini, wajahku tidak menyegarkan mata siapapun yang memandang, warna muka seperti vampire, ujung kulit bibir mengelupas. Sungguh, dampak mimpi buruk ini dahsyat sekali. Oh ... bukan. ini bukan mimpi. Ini nyata, kawan!

Cemas menindas hasrat untuk cantik, gelisah merampok keinginan untuk sekedar tampak enak dipandang dan perih membawa pergi gairah untuk berjalan tegak.

Mungkin, ini sudah nasib atau mungkin … ini adalah hukuman atas kesalahanku yang pernah kuperbuat.

Kutarik napas dalam dan panjang untuk menguatkan diri agar tetap melangkah sampai drama ini tuntas. Sialnya, mata ini benar-benar tak sanggup kukontrol, keinginan untuk mengeluarkan airnya begitu kuat. Padahal, dia tahu aku tak akan pernah sudi berwajah becek di hadapan ratusan orang. Bagiku, menangis adalah kekalahan telak dalam perang melawan diri sendiri.

Dengan gerakan lambat, aku menuju ruang tunggu yang berada di lantai dasar, ruang yang cukup luas untuk sebuah kantor layanan masyarakat. Atapnya sengaja dibuat tinggi dengan dinding gading berhias figura berisi berbagai informasi. Aura kesedihan begitu terasa, menyeruak hingga sudut, tak bercela. Wajah muram, ocehan amarah, bisikan caci maki bagai decitan tikus yang terjebak di lubang air limbah. Sementara, di sudut lain, terdengar tawa yang ditahan seolah mereka sedang berada di tempat makan. Bising.

Aku memilih duduk di kursi pojok deretan belakang di antara sekian banyak bangku besi kosong yang tersusun rapi, setelah mengambil nomer antrian.

Satu jam berlalu, selama satu jam pula indra kubiarkan berkeliling tamasya mengamati setiap inci raut pengunjung. Lalu, mendadak pandangan terhenti pada perempuan yang menggendong bayi dengan kain batik, tubuhnya diputar sembilan puluh derajat, berpura-pura dia pada sang bayi seolah tubuhnya adalah ayunan di rumah, matanya berlingkar hitam, wajahnya sendu menyimpan pengalaman pilu. Sementara, dari sudut lain, terdengar jelas tangisan balita menggema.

Kasihan sekali, pasti anak itu menangis karena aura tempat ini memang tidak nyaman, ucapku dalam hati. Ruang ini tak cocok untuknya karena di sinilah cinta yang telah mengantarnya melihat dunia bermutasi menjadi sebuah rantai penyambuk asa.

Kuputar kepala ke sebelah kiri, di balik jendela terdapat sekelompok wanita dan lelaki dewasa berkumpul, ada yang berbicara, ada yang mendengarkan. Hampir semua tangannya mengepit map tipis, ada yang berwarna biru, kuning, merah.
    
***

Dua jam berlalu, aku masih duduk di sini. Saat itulah, tiba-tiba masa lalu melambai, berjalan gemulai. Menggambarkan tangis haru kelahiran Raka, pelukan hasrat Remi dipadu ucapan terima kasih karena telah menghadirkan juniornya. Hari itu, nyeri dari sebelas jahitan tanpa bius lokal dan ribuan urat syaraf yang terputus tak berarti apa-apa bagiku. Cinta telah mengantar kami menuju surga ....

Tak berapa lama, ia terbang ke Taman Angsa Tabumbuya dekat rumah. Tampak jelas Raka balita tertawa sambil berlari menghindari ayahnya, sementara aku duduk di atas rumput, menonton mereka, dikelilingi bunga kertas warna warni dan suara gemercik air terjun danau mini buatan. Kami berpelukan, makan bersama, menikmati bekal seadanya yang dibawa dari rumah. Ubi ungu kukus, telur puyu rebus, sekotak susu strawberry untuk Raka. Bernyanyi, senda gurau. Membangun pondasi, tiang kehidupan yang kokoh, tahan badai atau apapun juga. Apapun!

Hingga datanglah gempa berkekuatan lebih dari lima skala richter yang membuat tubuhku membeku detik itu juga, kulit mati rasa bagai tenggelam dalam lautan es ketika membaca pesan Remi untuk seorang wanita di pesan singkatnya.

"I will keep my words, Anggi. Aku akan membuat dia yang meninggalkanku agar semua keluarga tidak ada yang tahu bahwa sebenarnya sudah ada kamu di sisiku. Kita menikah tahun depan di mesjid Ar-Rahman, impianku. Kita akan punya anak. Aku ingin memiliki anak darimu. Anak kita akan banyak. Kamu dua, aku satu. Tambah satu dari kita. Ramai. Pasti akan menyenangkan. Kau adalah cinta yang selama ini kucari, sayang. Keep my words. I wont take it back. I wont break your heart."

Seandainya kamu jadi aku, Remi ... cobalah menjadi aku, sebentar saja. Apa yang akan kau lakukan padaku?

Malam itu ... Remi yang tertidur pulas kuguncang kasar. "Bangun ... bangun!"

Dia menggeliat mencoba bangun, matanya masih terpejam sementara tubuhnya sudah duduk di pinggir kasur dan menyender pada tembok. Aku yakin dia tidak pernah menyangka rencana brilliant yang sudah disusun rapi olehnya, ketahuan.

"Ini apa? Apa ...?" Tangisku pecah ... dengan napas tersengal. Tak ada jawaban, aku kembali bertanya, "Ini apa ...?!" Ponsel yang kulempar mendarat dipelipisnya. "Teganya kamu! Jadi selama ini yang kamu bilang sedang berjuang untuk kehidupan lebih baik adalah untuk kehidupanmu? Sepanjang malam aku menunggumu sampai tertidur, sementara di luar sana kau menunggunya di hotel?"

Raut Remi mengeras, lehernya bergerak menelan liur. Kutatap matanya dengan penuh kemarahan dan pertanyaan. Tak ada sekata pun yang diucapkannya untuk mengelak. Dadanya naik turun menahan sesuatu, entah apa, aku tak tahu.

Tanpa sadar aku menamparnya sekali, sementara tamparan kedua tak berhasil mendarat sebab tangannya meraih tanganku, dalam waktu bersamaan tangan satunya mencengkeram leherku, mendorong tubuhku dan aku pun terjatuh, duduk.   

Dalam posisi itu air mata tak lagi dapat kutahan, bayangan mataku buram tertutup air mata yang mengambang. Ke mana Remi yang kukenal selama ini? Kenapa dia bisa sampai sebegitu kejamnya mencekik dan mendorongku ke lantai? Bayangan dia bersama perempuan lain di hotel, di mall, duduk bersebelahan di mobil yang biasa kami pakai bersama, menggerogoti napasku. Oh Tuhan … apa yang harus aku lakukan sekarang?

Luka pun semakin perih ketika pandangan terhenti pada Rama yang sedang tertidur pulas. Tubuhku lunglai, meringkuk di pojokan, bersender pada dinding kamar penuh coretan tangan Raka.

Bapak ... Re dihianati, Pak ... Bisikku mengadu pada Bapak yang mungkin sedang pulas pada saat itu di rumahnya, Tangerang.

Semua yang sudah dibangun dengan segenap tenaga dan gairah, mendadak hancur tak bersisa. Aku menolak dicurangi, dibodohi, digibahi oleh suamiku sendri. Ada satu pesan Remi untuk perempuan itu yang sempat kubaca sekali, dan sampai sekarang aku masih sangat mengingatnya dengan jelas, bahkan emotikonnya pun masih terekam di otak.

"Aku kesal dia gak pernah menyambut aku setiap pulang kerja, aku tuh cape kerja… aku mau dia menyambutku saat sampai rumah tapi apa … dia malah asyik tidur."

Jantungku berlari super kencang. Tanganku gemetar. Rasanya seperti didorong ke jurang secara tiba-tiba oleh orang yang telah kita serahkan jiwa raga sepenuhnya. Dan saat aku terjerembab dengan tubuh penuh luka, orang yang mendorongku hanya menatapku lantas meninggalkanku begitu saja.

Hai kekasih suamiku tercinta … tahukah kau bahwa selama ini suamiku lebih sering pulang lewat jam dua belas malam ketibang jam tujuh malam seperti karyawan kantor pada umumnya? Dan setelah kutahu sudah berapa lama kalian saling memadu kasih, lewat obrolan mesra nan laknat itu, terhitung sejak dua bulan yang lalu. Dia ... lelaki yang katanya mencintaimu sampai mati telah mengelabuiku dengan berbagai cara agar bisa menemuimu hingga pagi hari. Benar-benar pagi… katakan apa yang harus kulakukan agar tetap tersenyum manis menyambut kepulangannya di jam tujuh pagi, seperti apa yang dia katakan padamu?

Mungkin ini salahku atau memang benar ini salahku … tidak pernah mempelajari pekerjaannya seperti apa, sehingga aku memilih mempercayainya meskipun dia mengatakan sedang berada di kantor notaris pada jam dua belas malam atau harus mengantar tim marketingnya terlebih dahulu sebelum meluncur ke rumah karena itu perintah dari atasannya. Bahkan aku memilih mendoakannya ketika dia baru memberikan kabar sedang berada di karaoke bersama teman-temannya setelah kutanya lewat pesan singkat karena dia belum juga pulang pada jam sebelas malam dan tidak ada kabar. Yang kutahu, perusahaan tempat Remi bekerja bergerak di bidang advertising. Menghibur kolega adalah bagian dari perkerjaan yang harus dilakukannya.
    
Air mata tak pernah peduli di manapun aku berada ketika kenangan itu datang. Sampai detik ini, di tempat yang tak pernah sedetik pun terbayang aku akan berada di sini, rasa itu masih tetap sama, rasa yang selalu mengundang tangis dan sesak di dada. Kupejamkan mata kuat-kuat untuk menghentikan kenangan itu. Detik-detik kehancuran hidupku.

Sebenarnya, sebelum kami akhirnya memilih untuk hidup sendiri-sendiri, aku sempat mengikuti saran ibunya untuk mengubur kejadian itu, menjalani hidup seperti sedia kala dan tak mencemaskan apapun saat suamiku berada di luar rumah.

"Dia bukan milik kita saat sedang berada di luar, sayang … tanamkan dalam dirimu, jika dia melakukan kesalahan yang sama di kemudian hari, percayalah, dia melakaukannya karena khilaf dan tugas kita adalah memaafkan, demi anak-anak kita."

Waktu itu, aku tak mampu berkata-kata pun berpikir, meski sejujurnya aku tidak setuju dengan konsep rumah tangga yang seperti itu. Belum lagi, ada beberapa teman yang dengan lantang mengatakan padaku

"Hei, menjaga keutuhan rumah tangga adalah tugas bersama, jika dia meminta maaf dan berjanji untuk tidak mengulangi kesalahannya, maka kewajibanmu adalah memaafkannya. Tapi jika sebaliknya… you know what you have to do?!"

Kenangan lain yang sama mengiris hati pun ikut nimbrung berseliweran di kepala. Demi keutuhan keluargaku, aku beruasaha menghubungi kekasih suamiku. Tanpa ragu, aku memohon padanya untuk menyudahi hubungan mereka,

"Kalau perlu kamu block nomer suamiku agar dia tidak lagi dapat menguhungi. Apa kau tidak pernah berpikir, bagaimana kalau kau jadi diriku? Kau juga tidak ingin keluargamu berantakan, kan?"

"Hubungan kami hanya untuk senang-senang, jadi kamu nggak perlu khawatir. Aku tau semua janjinya palsu … dia cuma lagi terbawa suasana. (emoticon senyum)"

Membaca jawabannya, hanya membuatku semakin terbayang apa yang mereka lakukan saat bertemu. Kalian sudah pasti tahu apa yang terjadi padaku, kan?

Beberapa hari kemudian aku mengirimnya gambar anak kami yang sedang tertidur. Apapun aku lakukan untuk menjaga keutuhan rumah tanggaku meski harus mengemis padanya. Sebagai sesama wanita, harapanku hanya satu, yaitu dia mengasihaniku dan segera melepaskan suamiku.

Sayangnya, apa yang kulakukan hanya memperkeruh keadaan … Remi marah atas apa yang telah kulakukan, lewat pesan singkatnya

"Kamu hubungi dia? Buat apa? kamu tahu nggak bahwa perbuatanmu hanya membuat keadaan menjadi semakin sulit? Sekarang aku jadi gak bisa dia hubungi."

Kemarahan Remi seperti cuka yang mengguyur luka basah ini. Pertahananku mulai goyah.

Otakku semakin kacau, hati semakin berantakan, wajah tak bersinar, mata menatap kosong. Entah ini perbuatan bodoh atau tepat, saat temanku datang untuk menghibur. Dengan penuh amarah dia menyuruhku menghubungi suami dari kekasih suamiku.

"Cari kontak suaminya, bilang ke dia kalau istrinya sudah main gila sama suami lo! Enak aja itu perempuan hidup tenang berada di antara dua lelaki sementara lo tersiksa begini."

Aku sempat terdiam beberapa menit saat Ana mengatakan itu. Ada sebagian hatiku yang bersorak gembira menerima sarannya, ada pula bagian hati yang ragu, menggelengkan kepala, menolak melakukan itu.

Lamunanku terhenti seketika begitu mendengar pengumuman dari speaker, "Antrian B tujuh, nomer perkara tiga enam empat puluh, tahun dua ribu tujuh belas. Silakan menuju ruang sidang dua."

Akhirnya, nomer antrianku dipanggil, segala sensasi rasa mengaduk hati. Jemari membeku, napas memendek, tubuh pun menggigil. Ruang tunggu mendadak bersuhu nol derajat. Kaki bergerak mendekat ruang dua. Tangan meraih gagang pintu emas dan mendorongnya agar bisa masuk.

Sial … pintu ini berat sekali!
    
Kali pertama seumur hidup kakiku menginjak ruangan ini, kusapu sekeliling dengan mata sayu. Ada lima orang duduk di belakang meja kayu hitam dengan palu berwarna senada di tengah, tepat di depan singgasana bertuliskan 'Hakim Ketua'. Dalam ruang berukuran sepuluh meter persegi berhias figura presiden dan wakilnya. Kelimanya memakai jubah hitam bergaris kuning memandangku datar. Memberi perintah untuk duduk di bangku sebelah kiri di hadapan mereka.

"Anda tergugat atau penggugat? Siapa yang menggugat cerai? Di mana lawan anda?"

Napasku berhenti sejenak mendengar pertanyaannya,

Lawan? Sebegitu tragisnyakah akhir perjalanan pernikahanku? Sehingga dia yang dulu satu-satunya sandaran, kini menjadi lawan.

Berulang kali istighfar terucap, berdoa semoga aku tidak pingsan di sini. Kurapatkan gigi, bergemeretak kemudian.

"Saya tergugat, Pak Hakim." Tenggorokanku tercekat saat mengatakannya.

"Lawan Anda belum datang ya? Silakan tunggu di luar saja dulu." Perintahnya tanpa memandangku sebab jemarinya sibuk bekerja mengecek tumpukan berkas di depannya.

Jiwaku gugur terbungkus raga yang bergerak lamban keluar ruang. Kupilih duduk di bangku tepat samping pintu. Bersender lemas dengan dagu menempel di dada. Menggigit bibir sendiri. Mengelus lembar gugatan dengan mata berkaca-kaca.

Ruang Sidang Pengadilan Agama Jakarta Selatan, di sinilah cinta yang menghangatkan kini hanya sekedar retorika. Senyawa penghancur sukma tercepat alam raya.

Aku bisa menghadapi ini semua kan, Tuhan?

Vinny Martina anggota komunitas ODOP.

 

Komentar Pembaca

Tita Dewi

Cakeepp Mak Pin! Saya sangat menikmati cerita ini dan larut di dalamnya 😍

Sanros

Tulisannya selalu kece, ah! Semangaaat shaaay..

Keren sekali kak

Anne

Kereeeennn

atiqoh

baguuuuus

Yulia

So dramatic ka kreeen

Berikan Komentar