Chania
Edisi 8/I/Oktober 2019
Oleh: Wiwid Nurwidayati

“Tak akan kuizinkan lagi benda itu bersamamu.” Lengking suaramu memenuhi ruang kamar berukuran 4x4 m ini. Tatap matamu nyalang, rahangmu mengeras. Kamu tak pernah terlihat seperti ini sebelumnya. Biasanya kamu habiskan hari-harimu hanya dengan terdiam, berbicara seperlunya, kemudian meringkuk di kamar menghabiskan waktu dengan game ataupun film yang kamu simpan di laptop abu-abumu. Tak ada waktu untukku.

Kupikir aku adalah orang yang paling bahagia di dunia, ketika kamu tak pernah melarang saat aku bersamanya. Dia sudah berada di antara kita sejak tiga tahun yang lalu. Tetapi kini tiba-tiba kamu menggugatnya.

“Apa kamu tak sadar jika telah menduakanku. Aku mendiamkanmu selama ini agar kamu sadar sendiri. Tak perlu aku berang seperti ini,” sambungmu lagi dengan wajah garang. Aku hanya terdiam menahan emosi, dan sejak hari itu rumah ini semakin sunyi. Kamu dan aku hanya saling membisu.

Egoku naik, tidak terima dengan perlakuanmu. Apa tidak bisa kita bicara baik-baik saja? Aku pusing mendengar suara tinggimu, sebab telah membuat darahku naik ke ubun-ubun.

“Apa kamu tahu, jika benda itu yang menggantikanmu. Kamu yang selama ini hanya membisu. Jika kuajak bicara hanya sepatah dua patah kata saja jawabmu,” ujarku dengan berapi-api. Darahku sudah mendidih.

“Oooo begitu, jadi apa maumu sekarang?” tantangmu kepadaku. Aku sedikit terkejut mendengar suaramu yang biasanya mengalah dan tak pernah berkata ketus kepadaku.

Aku menghela napas perlahan. Sungguh, tiba-tiba rasa pusing menjalar di kepalaku mendengar semua ini. Kamu ini kenapa? Batinku selalu bertanya-tanya.

“Terserah kamu saja,” jawabku akhirnya, perlahan, di antara rasa kesal dan tidak peduli. Kilat iris matamu menggores hatiku. Kamu seperti menghakimiku tiba-tiba, tanpa panggilan sebelumnya. Aku dapat mengangkap kemarahan yang sangat di sana. Biarlah, aku juga lelah. Pintu kamar kamu banting dengan keras ketika  beranjak tanpa kata-kata.

Kamu kenapa begitu meledak-ledak? batinku kesal. Jika kamu marah padaku sebab aku lebih sering bersama dia. Seharusnya tak kamu biarkan ada celah sedikit yang akan merenggangkan hubungan kita. Kamu punya dua telinga, juga bibir mungil plus dua tangan yang seharusnya sudah cukup bagiku tanpa dia.

Seiring debuman pintu, kulangkahkan kaki meninggalkan rumah bercat biru yang telah kita tempati 7 tahun lamanya berteduh bersama. Aku duduk di bangku yang masih kosong, ketika kusadari kakiku begitu saja melangkah naik ketika sebuah bus berwarna merah berhenti di halte. Sekilas kubaca nama di badan bus, PO Toto. Kulirik jam yang melingkar di tangan, sudah tigapuluh menit aku termenung di halte ini.  Ketika bus mulai bergerak perlahan, hatiku masih tidak yakin dengan diriku sendiri. Ke manakah tujuan bus ini?

Kepalaku yang terasa berat membuatku membiarkan bus melaju perlahan. Tak ingin bertanya. Toh jika aku tersesat akan mudah mencari bus yang akan membawaku kembali ke rumah. Karena persis depan gerbang masuk gang rumah adalah jalan besar yang dilewati bus antar kota, tujuan kota mana saja pasti ada. Bus terus bergerak meninggalkan halte yang masih menyisakan beberapa orang dengan wajah kelelahan. Mungkin mereka berbeda tujuan, hingga tetap bertahan di bawah atap halte yang sudah usang. Kutatap pemandangan dari balik kaca, namun yang terlintas hanyalah potongan-potongan kejadian tadi siang, hingga aku meninggalkan rumah dengan hati berang. Kutinggalkan kamu dan tentunya dia, penyebab kita kini seperti di neraka.

Aku geram, ada sesuatu yang ingin meledak dari dalam dada. Memang, tujuh tahun perkawinan tak menjamin rumah tangga kita selalu kekal. Ada hal-hal baru yang berdiri di atas egoisme pribadi sehingga kita terkadang terkejut sendiri ketika mengetahui sifatmu yang belum pernah muncul tiba-tiba menyeruak dan membuat hati terluka.

Kuhela napas perlahan. Kuedarkan pandangan ke dalam bus. Aku sungguh terkejut. Mengapa aku hanya sendiri? Kemana penumpang yang lain? Padahal isi bus ini mampu memuat lebih dari lima puluh orang. Namun baiklah akan kunikmati keleluasaan.

“Aku akan mengantarmu ke suatu tempat yang akan membuatmu bahagia,” sebuah suara kembali menyentakkanku. Aku seharusnya merasakan suara itu keluar dari tempat kemudi, Tapi nihil. Namun, aku tak peduli dan memejamkan mata berharap mengurai kelelahan yang menggantung di dada.

“Aku bisa merasakan kesedihanmu,” suara itu terdengar lagi. Kupicingkan mata hingga kuedarkan pandangan ke sekeliling, menerka aku sampai di kota mana.

Akhirnya kupejamkan mata lagi, biarlah bus ini membawaku ke tempat bahagia seperti janjinya. Aku hanya ingin menikmati perjalanan ini, di antara degup jantungku, hatiku merasa puas. Kamu tak akan menemukanku. Kamu seharusnya tahu, bahwa kamu membutuhkanku.... Tapi tunggu dulu, apakah kamu mencariku?

***

“Yang, apa impianmu?” tanyamu waktu itu. Tentu rasanya masih mesra, karena kita baru saja menikah tiga hari lamanya.

“Aku hanya ingin kita selalu punya waktu untuk berbincang-bincang, Yang. Tentang apa saja, tentang masa depan kita. Tentang anak-anak kita kelak,” jawabku sambil menerawang ke langit-langit kamar. Kepalaku di pundakmu. Kita begitu dekat, bahkan ketika kupalingkan wajahku, akan kudapatkan pipimu yang mulus tanpa jerawat. Kamu kemudian hanya merengkuhku, mencium ubun-ubunku dan senyap hari itu ikut berbahagia melihat cinta kita menyatu.

Tak ada yang mengejutkanku sejak kamu menjadi pendamping hidupku. Kamu seperti yang aku kenal, hanya saja aku harus belajar dengan selera makanmu yang jauh berbeda denganku. Lidahku mengalah, toh seleramu lebih lezat dari jenis makanan yang kusuka. Sesekali kita ricuh hanya karena hasil masakanku tidak seperti yang kamu harapkan. Kemudian tanganmu mengambil alih, mengajariku masak. Dan kita senyum bersama saat duduk berdua di meja makan.

Suara klakson membuyarkan lamunanku atas kenangan saat kita pertama kali menjadi pengantin baru. Bus merah yang masih menungguku di tempat parkir. Dua lampu sorot depan seperti berkedip-kedip seolah berharap aku mendekat kepadanya. Kakiku tergerak melangkah menujunya.

“Sudah saatnya aku membawamu ke tempat lain,” Bus berucap. Aku hanya beranjak masuk dan duduk di salah satu bangkunya. Bus meninggalkan taman bumi perkemahan, di mana untuk pertama kalinya aku berjumpa denganmu. Saat itu kita hanya saling bersitatap, tersenyum dan saling menganggukkan kepala. Perkemahan yang diadakan oleh perusahaan tempat kita bekerja. Perkemahan yang diikuti semua kantor cabang di Indonesia. Kamu dari Surabaya sedang aku dari Yogyakarta.

Saat api unggun malam terakhir di bumi perkemahan, kamu mendekat dan berbincang sejenak denganku. Untuk pertama kalinya dadaku berdegup lebih kencang dari biasanya. Rasa nyaman menyeruak, dan itulah jawaban akan rahasia dunia.

Bus melaju perlahan. Aku pasrah di bawa ke manapun Bus pergi. Entah mengapa aku percaya pada Bus ini.

“Kamu sudah lebih baik?” tanya Bus padaku. Badannya terguncang-guncang melewati jalanan yang tidak rata.

Aku hanya menggeleng mendengar tanyanya. Belum yakin dengan apa yang kurasakan. Tujuh tahun pernikahan bagiku seperti aku kehilangan diriku sendiri. Kita berdua dengan dunianya sendiri. Ah, mimpi-mimpi indah yang kuukir sebelum menikah akhirnya harus punah sudah.

Bus berhenti di depan sebuah gedung. Sepertinya aku mengenal gedung ini. Ramai orang masuk dengan dandanan rapi. “Turunlah, lihatlah di dalam! Aku akan menunggu di sini,” Bus berkata kepadaku kemudian bergerak ke arah tempat parkir. Aku tertegun melihat gedung yang terlihat di dekor sangat cantik. Janur kuning melambai-lambai di pintu kedatangan. Kakiku melangkah masuk perlahan. Di depan sana kulihat dua insan manusia dengan baju pengantin. Wajahnya terlihat sangat bahagia, senyum manis selalu tersungging di bibir mereka. Tangan saling menggamit seolah enggan dilepaskan. Pasangan pengatin itu adalah aku dan kamu.

Aku duduk di sudut ruangan. Air mataku menetes perlahan. Teringat saat kamu mengatakan akan melamarku. Degup dada itu kembali bertalu-talu. Dan kini, aku dan kamu. Ah, rasanya malu ketika dulu cinta begitu menggebu, seolah bahagia itu ketika aku dan kamu selalu menyatu. Kutatap lagi  kita di depan sana. Seharusnya kini aku dan kamu juga seperti hari ini, bercanda mesra selalu, tangan saling menggenggam dengan wajah malu-malu.

Aku bergegas keluar mencari Bus yang terkantuk-kantuk menungguku di bawah pohon rindang di parkiran. Bus segera tegak melihatku mendekat kearahnya.

“Ayo, antar aku pulang!” kataku kepadanya yang kemudian berjalan meninggalkan halaman parkiran.

“Bagaimana perasaanmu kini?” tanya Bus yang kurasakan seolah hanya mengetesku karena telah membawaku ke sebuah perjalanan menyusuri kenangan untuk menemukan kembali cintaku.

“Aku hanya ingin pulang. Cepat melaju sedikit!” ujarku karena aku segera ingin meminta maaf kepadamu. Aku ingin kita mengulang lagi cinta dari awal. Aku ingin merengkuhmu. Aku ingin memohon maaf padamu dan mengatakan kembali tentang impian-impianku. Aku ingin menyampaikan kepadamu jika aku ingin kepalaku ini kembali bersandar di bahumu kemudian kamu mendengarkan segala ceritaku. Di beranda, ya di beranda rumah kita sambil menatap senja.

Kutatap pemandangan di luar dari balik kaca. Kenapa yang ada hanya gumpalan awan-awan di sekelilingnya?  Ternyata Bus sedang terbang di angkasa. Kuedarkan pandangan keluar, seharusnya tidak aneh lagi bahkan Bus ini tanpa pengemudi. Aku mungkin hanya sedang bermimpi. Tetapi jika ini mimpi aku tak ingin terbangun dulu. Aku ingin tahu akhir dari mimpi ini seperti apa. Lalu kucubit tanganku. Duh… sakiit, ternyata aku sedang tidak bermimpi.

“Bus, kita mau kemana? Mengapa kamu terbang? Bukankah kau akan mengantarkanku pulang?” tanyaku gelisah.

“Iya, sebentar lagi juga sampai. Kita terbang agar bisa menghindar dari kemacetan,” jawab Bus santai. Bus terasa mulai meluncur, namun ternyata ia tidak mendarat di jalanan. Bus hanya melayang beberapa meter di atas rumah-rumah yang gentengnya terlihat berwarna-warni.

Bus semakin mendekat ke arah atap rumah-rumah di bawah. Kini mungkin hanya berjarak satu meter dari atap. Orang-orang di sana menatap dengan penuh keheranan. Mungkin dalam pikiran mereka Bus ini hanya mainan anak-anak yang bisa diterbangkan dengan remote control. Aku mengenali suasana daerah ini. Tiba-tiba hidungku mengendus bau badanmu dan Bus menghentikan lajunya.

“Kenapa tidak mendarat, mengapa tidak berhenti di halaman rumahku? Aku tidak bisa turun jika kamu berhenti di sini,” kataku gelisah.

“Tataplah wajahnya yang begitu cemas mencarimu,” kata Bus tanpa menjawab pertanyaanku.

“Bus, turunlah. Aku ingin menemuinya. Banyak hal yang ingin kumulai dengannya,” ratapku. Namun Bus bergeming dan aku semakin merasa putus asa.

“Sudah tidak ada waktu,” kata Bus yang kemudian melaju membelah angkasa yang mulai terlihat samar. Air mataku tumpah. Terbayang jelas bayanganmu yang mondar-mandir gelisah di teras. Kamu sedang memegang benda itu. Benda yang katamu telah memisahkan kita.

Kini, aku hanya ingin pulang. Mengukir lagi kenangan dan merajut cinta yang baru denganmu. Akan kupastikan benda itu bukan yang menjadi nomor satu. Aku akan membuatmu selalu nomor satu. Bukan benda itu, tablet pintar yang telah meyita hari-hariku dari pelarianku karenamu.

Bus semakin jauh mengangkasa, meninggalkah rumah yang begitu ingin kutuju. Kamu yang di bawah sana gelisah dengan menggenggam benda yang memisahkan kita, aku dan kamu. Sedang aku di sini mulai menggigil  dan perlahan membeku.

Wiwid Nurwidayati anggota Komunitas One Day One Post.

Komentar Pembaca

Kif

Ih ngeriiii....

Jihan

Malah salfok sama gambarnya mba Dimar.

Dymar Mahafa

^_^ ~♡

Ibrahim

Baper gue bacanya... sedih banget kisahnya. sementara sebelumnya gue tertipu, gue kira si nona masih ada dalam cerita dan bermimpi. ah ternyata,. jangan pernah keluar pintu ketika emosi ya

Ashima Meilla Dzulhijjah

Sedih bacanya... Cerita ini menyimpan sebuah pesan untuk pembaca

Amanda Linhan

Bagus tulisannya ^^

Eko Endri Wiyono

Mantap #semangat

Sulis

Bgs banget tulisannya:))

atiqoh

wuhuuuy mantap nih ceritanyaaa :)

Anne

Keren pake banget ni cerita

Berikan Komentar