Chania
Edisi 5/I/Juli 2019
Oleh: Hiday Nur

Menulis tanpa beban? Mungkinkah? Saya merasakan sendiri, bagaimana menulis yang banyak diibaratkan seringan berbicara, itu nonsense belaka. Nyatanya, saya berkali-kali frustrasi dan menjadi malas menulis ketika apa yang ada di pikiran tidak dapat dituang begitu saja dalam tulisan.

Mengapa demikian? Hernowo, penulis puluhan buku best-seller bertema kepenulisan, menyebut bahwa apa yang rencananya kita tulis sebagai A, tidak akan begitu saja lahir sebagai A. Bisa jadi akan tertuang menjadi X, Y, atau Z terlebih dahulu. Kita harus menerima, bahwa melakukan verbalisasi ide memang menyakitkan.

Agar tak menyakitkan, penulis senior ini memperkenalkan istilah Free Writing. Dalam benak saya, free writing adalah menulis bebas, sesuka hati, semau-mau, sebagaimana arti katanya secara harfiah. Pengertian tersebut tidak salah, tapi tak cukup. Free Writing yang selama ini dimaksud Pak Hernowo, ternyata adalah sebuah teknik menulis bebas tanpa beban yang memiliki cukup tiga prosedur seperti berikut:

  • Menulis Bebas tanpa Bentuk

Langkah pertama ini bisa dilakukan selama dua hingga lima menit. Untuk mempraktikkannya, kita hanya harus duduk tenang menghadapi laptop dan bersiap menarikan jemari di atas keyboard. Alarm sebaiknya disetel. Go! Mulai saja menulis tanpa bentuk! Apa saja; memencet tombol tak beraturan, tanpa berpikir, tanpa terbebani, dan tanpa kemrungsung. Konsonan yang tidak dapat dibaca pun tak masalah, yang penting memencet-mencet huruf saja. Jika ada yang penting diperhatikan pada tahap ini, adalah: dilarang berhenti menulis sampai bel berbunyi. Menulis harus terus berjalan pada waktu yang ditentukan, tanpa jeda, sensor, editing, seleksi pilihan kata, atau alasan apapun.

Tulisan itu mungkin akan sekacau ini:

dhfjgkjhldijpo;aigkr uyguhj;lksl;hdjgkhilewjf; uhijoprfaus9po  dhfjgkhljaiokasdokas fyguhij wertqdyrtufiyuxhgfvbcjkhzvlbn cvnmkvjchSRADGHJEFUIYUJNCZVNC dfjgkhlkjdo;e5rtehrfljb;vk apa tewhbhga uhoeufhbaku ;dats makudn."

Tak boleh berpikir, tak boleh terbebani, tak boleh pusing. Menulis saja, menulis apa saja. Terus begitu hingga lambat laun akan keluar sendiri kata yang dapat dibaca. Tulis apa saja yang ada di benak, tanpa dipaksa, tanpa dibebani, tanpa diburu oleh apapun. Lima menit pertama yang sangat jujur dan apa adanya.

  • Menulis Bertopik

Usai tahap pertama, dan huruf-huruf mulai meluncur sendiri dari kepala, sekarang kita akan menulis dengan tema tertentu. Tahap ini tetap diawali dengan jujur dan tanpa paksaan. Tak jauh berbeda dengan langkah pertama; tulis kata-kata acak, apa saja yang terlintas di kepala, apa saja yang berhubungan maupun tidak, apa saja asal tidak membebani dan tidak memburu. Kata-kata tersebut lambat laun akan kembali menemukan polanya. Diawali dengan pertanyaan-pertanyaan apa, kenapa, siapa, di mana, bagaimana, kalimat-kalimat tersebut dengan sendirinya akan bercerita. Kita pasrah untuk digiring oleh kekuatan pikiran, bukan diri kita yang memaksa otak untuk mengikuti kemauan.

Bisa jadi, inilah tahap yang sering kita lompati. Memerkosa pikiran, memaksa tangan menulis apa yang belum diinginkan otak, tentu menyakitkan. Biarlah otak bekerja, menemukan sendiri apa yang ingin ditulis. Otak kita lebih hebat dari yang sering kita duga. Sambil mengetik tak beraturan, otak merambat, berjalan, bahkan berlari, membuka sinaps-sinaps yang ada di kepala dan bertualang menemukan hal-hal baru untuk divisualisasikan. Jujur adalah kuncinya, sebuah kesederhanaan yang sangat sulit dilakukan.  Dengan jujur, ikhlas, pasrah pada kekuatan otak, menulis menjadi menenangkan dan menyenangkan. Sesederhana itu, yang karena sangat sederhana, tak semua orang mampu melakukannya, karena ambisi, keinginan, paksaan dan obsesi untuk menjadi hebat dan menakjubkan.

  • Mengikat Makna

Istilah ini tidak lain dari membuat catatan bebas dari apa yang sebelumnya kita baca. Alih-alih membaca cepat, dalam megikat makna justru dianjurkan membaca pelan atau nge-meal. Membaca pelan justru lebih penuh tantangan. Tantangannya tentu saja bukan soal bagaimana kita bisa menangkap kata dan kalimat dalam tempo cepat dan berusaha paham, tetapi bagaimana kita mampu menangkap, menyerap dan menemukan hal-hal baru dari pengembaraan pikiran ketika membaca dengan pelan, dan terus mebaca pelan hingga akhir.

Demikian tiga langkah untuk menulis tanpa beban. Sederhana, tapi hanya mungkin dilakukan dengan kejujuran dan kesabaran. Cobalah dan rasakan dampaknya!

*Tulisan ini disarikan dari tulisan, demonstrasi, dan perbincangan langsung penulis dengan alm. Hernowo Hasim sebelum penulis ini berpulang ke sisi Tuhan pada pertengahan tahun 2016.

Hiday Nur adalah odoper angkatan I tahun 2016.

Komentar Pembaca

Berikan Komentar